Fiction
Lama Fa [3]

14 May 2012


Advertisement
Ketika Linda dan Marten kembali ke pantai, seseorang menghadang langkah keduanya. 


“Kau bernama Bataona? Anak Ora Bataona?” Pria berbadan besar itu menunjuk muka Linda.

Linda hanya mengangguk. Pria berwajah kasar ini bernama Stevanus Tanakofa. Ia juga seperti Papa Ora, sama-sama seorang lama fa. Dulu, jika Papa Ora sedang berjalan-jalan bersama Linda dan kemudian bertemu Stevanus, Papa Ora selalu menyebut nama Stevanus, secara tidak langsung memperkenalkannya pada Linda.

“Ada apa, Paman Stevanus?” tanya Linda.

Stevanus tertawa. “Kau sudah kenal beta rupanya?”

“Dulu, Papa Ora pernah menyebut nama Paman.”

“Baguslah!” Paman Stevanus mendekati Linda. Sedikit ia mengitari, sambil mengamati tubuh Linda.

“Ada apa, Paman?” Linda sedikit merasa risi. 

“Jadi, kau yang akan menggantikan papamu?” 

Suara Stevanus terdengar begitu meremehkan. Sebelum Linda sempat menjawab pertanyaan itu, ia sudah kembali tertawa dan berlalu dari situ.

Sewaktu Linda tiba di rumah, Mamae Tipa langsung menariknya.

“Kau harus segera pergi dari sini, Linda!” ujarnya.

“Kenapa, Mamae?” Linda tak mengerti arah pembicaraan ini. 

Mamae Tipa tak menjawab. Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah ransel besar. “Pokoknya, kau harus kembali ke Flores!”

“Tapi, kenapa, Mamae?”

“Sudahlah! Tak perlu banyak tanya! Kemasi saja barang-barangmu!” Mamae mulai beranjak.

“Mamae…,” suara Linda menahan langkah Mamae Tipa di ambang pintu, “apakah Mamae tak ingin beta menjadi lama fa?”

Langkah Mamae Tipa terhenti. Selama beberapa detik ia terdiam. 
“Ya,” jawabnya, akhirnya. “Kalau kau akan jadi lama fa, buat apa Mamae menyekolahkan kau sampai ke Larantuka? Mamae ingin kau bekerja di kota.”

Linda tertegun. “Apakah kepergian beta ke Flores dulu juga atas kemauan Mamae?” 

Mamae Tipa kembali terdiam.

“Berarti, itu bukan keinginan Papa Ora? Iya, kan, Mamae?”

Mamae Tipa mendengus. “Ya, semua memang keinginan Mamae! Mamae tak ingin kau menjadi lama fa! Itu bukan dunia perempuan! Itu terlalu keras untukmu, Linda!”

“Tidak, Mamae!” Suara Linda terdengar tegas. Ia mendadak teringat Papa Ora, teringat caranya yang begitu halus saat mengajarinya berbagai hal tentang dunia lama fa. 

“Semalaman beta sudah berpikir tentang ini! Beta tahu, sejak dulu, Mamae memang tidak ingin beta jadi lama fa. Dan, Papa Ora pun selalu bimbang karena beta perempuan. Tapi, tetap saja, Mamae, sedikit demi sedikit Papa Ora selalu mengajari beta! Karena, hanya beta anak Papa satu-satunya. Dan, hanya beta penerus nama Bataona.” 
Mamae Tipa tertegun.

“Mamae,” Linda menatap tajam, “beta akan menjadi lama fa!”

Seperti sudah diduga,dua malam berikutnya, tiga orang tetua adat Lamalera datang ke rumah Bataona. Paman Fotu Atakei, Ignatius Sarra, dan Dominggus Dethan. Beberapa rekan satu pledang Papa Ora juga datang. Setelah melakukan pembicaraan formal dengan Mamae Tipa, tetua adat meminta Linda agar meneruskan pekerjaan Papa Ora menjadi lama fa.

“Apa kau sanggup, Linda Bataona?” seseorang yang paling dituakan, menanyakan itu.

Linda menarik napas panjang. “Beta sanggup.”

Paman Fotu, Ignatius, Dominggus, dan yang lainnya segera memeluk Linda. “Paman yakin, kau akan sanggup, Linda.”

Malamnya, ketika Paman Fotu akan pulang, Linda menahannya. “Paman, ada yang ingin beta ceritakan.”
Sambil mengerutkan kening, Paman Fotu mengikuti langkah Linda ke samping rumah.

“Ada apa, Linda?” tanyanya, tak mengerti.

Linda segera menunjukkan surat yang didapatnya semalam. Masih tak mengerti maksud Linda, Paman Fotu membacanya. Seketika ada kekagetan pada raut mukanya.

“Semalam surat ini dilempar seseorang di depan pintu rumah.”

Paman Fotu tak berkomentar, ia membacanya hingga beberapa kali.

“Bagaimana menurut Paman?”

Paman Fotu berpikir sejenak, “Surat ini mungkin hanya surat dugaan tak beralasan saja, Linda. Kita semua tahu bagaimana Papa Ora meninggal.”

Linda terdiam sejenak. “Tapi, kenapa ada kesan surat ini seperti ingin memberi tahu kami sesuatu, Paman?”

Paman Fotu kembali berpikir. “Tapi, tetap saja ada kemungkinan isi surat itu benar,” katanya, ragu. 

Kini, giliran kening Linda yang berkerut, “Tapi, bagaimana mungkin, Paman?”

“Linda, pada bulan-bulan berburu, seorang lama fa memiliki banyak sekali pantangan.”

Linda kembali teringat pantangan-pantangan yang selalu dilakukan Papa Ora. Papa Ora selalu berpantang tak melaut pada hari Minggu, atau menjaga hati untuk tidak bertengkar.

“Seseorang yang sengaja menggagalkan pantangan itu, bisa jadi ingin membunuhnya,” lanjut Paman Fotu.
Linda tertegun, “Tapi, siapa yang ingin membunuh Papa Ora, Paman? Papa Ora tidak memiliki musuh di sini, ‘kan?”

Paman Fotu menghela napas panjang. “Paman tidak tahu pasti, Linda. Tapi, pasti ada yang tidak menyukai Papa Ora!”

“Siapa dia, Paman?”

Paman Fotu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tak baik Paman menyebutnya, Linda. Itu seperti menuduh tanpa bukti.”

“Baleo, baleo, baleo….”

Pagi ini teriakan itu sudah menggema. Hanya dari mulut satu orang nelayan yang berdiri di tepi pantai, teriakan itu berlanjut ke orang-orang di sekitarnya, hingga akhirnya hampir semua orang yang berdiri di tepi pantai ikut berteriak. Seketika semua orang menghentikan pekerjaan. Mata-mata mereka langsung mengarah pada Laut Sabu di depan mereka. Orang-orang dewasa berhamburan ke arah pledang dan anak-anak kecil berlarian ke tepian pantai.

Teriakan itu adalah teriakan ketika orang melihat koteklama tampak di pantai. Hari ini masih waktunya musim berburu koteklama. Awal bulan Mei hingga September memang merupakan saat-saat kawanan koteklama melewati perairan Lamalera. Musim ini biasanya ditandai dengan diadakannya syukuran pada awal bulan Mei. Biasanya, syukuran tersebut dipimpin tetua adat, ditandai oleh pemotongan puluhan babi untuk dimakan bersama-sama. Semua penduduk, tanpa terkecuali, akan menerima potongan daging babi tersebut.
Linda Bataona, yang tengah membersihkan rumah, juga mendengar teriakan itu. Sesaat ia tak bereaksi. Mamae Tipa masuk ke kamarnya, menatapnya dengan sinar mata yang sulit dilukiskan.

“Kau… akan pergi, Linda?”

Linda mengangguk. “Tentu, Mamae.” 

Ia mencoba menegaskan suaranya. Dua hari ini ia sempat mencoba tempuling-nya. Tempuling adalah senjata yang digunakan untuk menikam koteklama, terbuat dari tombak, yang diberi mata besi, kemudian diikat dengan tali sepanjang 20 m. Sebelumnya, Linda sudah mengenal alat itu. Namun, sudah setahun lebih ia tak pernah lagi memegangnya. Karena itu, ia berlatih dengan menggunakan sampan, bukan pledang, milik Marten. Kini, sebenarnya, ia merasa belum mantap. Ia berharap beberapa hari lagi teriakan baleo baru akan terdengar.
Paman Fotu tiba-tiba muncul di pintu rumahnya. “Cepatlah, Bataona! Ini waktunya!”

Linda mencoba tersenyum. “Doakan Linda, Mamae!” 

Ia lalu berlari menyusul, sambil mengikat rambutnya dengan kain.

Dari kejauhan terlihat semburan paus. 

“Ayo, Linda!” Paman Ignatius dan beberapa rekan lainnya, yang sudah ada di tepi pantai, segera mendorong pledang ke laut. Linda dan Paman Fotu ikut membantu, sedangkan Dominggus menyiapkan alat-alat lainnya. Lewat ekor matanya, Linda melihat beberapa pledang lain juga sudah masuk ke laut.

Paman Fotu melompat ke arah pledang. Linda dan Dominggus mengikutinya.

“Kau siap, Bataona?” Paman Fotu memegang bahu Linda. 

Linda mengangguk mantap. Ada rasa yang mengganjal di dadanya. Bukan keraguan yang dirasakannya. Darahnya tiba-tiba berdesir. Jantungnya seperti berlari makin cepat. Tapi, sungguh, itu juga bukan perasaan takut. Ia sendiri tak tahu apa yang sedang dirasakannya. 

Ignatius, yang menjadi pembantu lama fa, menyerahkan tempuling-nya. Sambil menerima itu, Linda segera melompat ke depan pledang. Dominggus dan empat orang lainnya menaikkan layar, sambil terus mendayung pledang ke tengah laut.

“Di sana!” Paman Fotu menunjuk ke arah di timur laut. Di tempat itu baru saja terlihat semburan koteklama. Pledang makin mendekat ke arah itu. Percikan air dari udara, sisa semburan koteklama tadi, sempat dirasakan oleh orang-orang yang berburu. 

Paman Fotu mulai memberikan tanda untuk menurunkan layar. Dayungan pledang seketika memelan. 

“Tetaplah bersiap, Linda!” teriak Paman Fotu, menyadarkan Linda untuk kembali mengangkat tempuling-nya.


                                                    cerita selanjutnya >>


Penulis: Yudhi Herwibowo
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber femina 2005



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?