Di luar ritual perawatan daerah kewanitaan, perkara seksualitas tak bisa lepas dari pengaruh budaya patriarkat. Soal seksualitas, dulu, wanita tidak dalam posisi yang setara dengan pasangannya. Terselip unsur adanya ‘kewajiban’ wanita untuk membahagiakan pasangannya.
Melakukan sesuatu atas dasar cinta atau atas dasar ‘keterpaksaan’, tentu akan berbeda hasilnya. Begitu pula dalam merawat daerah kewanitaan. ‘Keterpaksaan’ menjaga daerah intim, agar suami terus nempel dan tidak selingkuh dengan wanita lain, sebaiknya bukan lagi menjadi alasan. Karena, bagi wanita, wajib hukumnya untuk merawat organ intim.
Memiliki organ intim yang terawat juga meningkatkan kepercayaan diri. Acara bermesraan dengan suami pun makin menyenangkan. Menjaga organ intim juga terkait dengan tingkat kepuasan wanita dalam menikmati seks. “Kalau vagina rapat, gesekan saat bercinta akan lebih terasa, sehingga acara bercinta jadi lebih hot,” kata Sinta.
Pada dasarnya, vagina memiliki klitoris yang terdiri dari 8.000 simpul saraf, sehingga organ intim ini menjadi yang paling sensitif di dalam tubuh wanita. Sensitivitas inilah yang juga membuat vagina rentan terkena penyakit. Itu sebabnya, wanita harus menjaga kebersihan dan kesehatan organ intimnya.
Di luar perawatan yang beraneka macam, menurut Zoya, ada perawatan dasar untuk vagina yang harus rutin dilakukan sendiri oleh wanita: menggunakan kaca saat mandi untuk mengecek kondisi organ intim. “Lakukan sekali dalam seminggu. Memang sedikit lebih ribet. Organ kewanitaan kita kan berbeda dengan pria yang bisa dengan mudah terlihat. Untuk mengecek vagina kita memang butuh usaha lebih,” jelas Zoya.(RIZKA AZIZAH)