Menurut Psikolog Nessi Purnomo, rasa sungkan atau malas atau gengsi yang mendasari wanita enggan mengungkapkan keinginannya lebih dahulu, berangsur-angsur akan menghilang ketika dia merasa nyaman dengan pasangannya. Begitu titik kenyamanan itu tercapai, dia sudah tidak akan berpikir panjang untuk mengatakan apa saja yang ada di kepalanya. Walaupun mendapat respons yang tidak sesuai dengan keinginannya, harga dirinya tidak jatuh.
Nah, saatnya melihat kembali relasi kita dan pasangan. Apakah kita sudah benar-benar nyaman dengannya atau sebaliknya? “Jika berada di pilihan kedua, ini menjadi semacam peringatan untuk terus menggali apa yang perlu kita ketahui dari pasangan,” saran Nessi.
Terkadang, secara disadari atau tidak, kita (dan pasangan) memilih untuk membicarakan hal yang baik-baik saja, dan mengabaikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Pokoknya, jangan sampai terjadi konflik. Padahal, segala proses berantem, diskusi, berbicara dari hati ke hati yang kita lakukan selama berelasi dengan pasangan, akan membuat kita makin mengenal dirinya.
“Kita juga harus siap mental ketika pasangan mengeluhkan hal-hal yang tidak ia sukai dari kita. Mengemasnya pun harus elegan, sehingga kita sama-sama tahu apa yang diinginkan dan tidak ada yang merasa sakit hati,” kata Nessi. Jika terus konsisten mau saling memperbaiki diri dan mau memahami, tentu titik kenyamanan itu segera tercapai. Hal-hal yang tadinya sulit diucapkan, kini bukan lagi masalah. Kita bisa lebih santai mengatakan bahwa kita kangen, mau bertemu, minta dibelikan ini itu tanpa ragu, atau berpikir hingga berhari-hari sambil menimbang ini itu. Lebih menyenangkan, bukan?
Rully Larasati