Dalam bahasa Batak, lapo yang berarti kedai, sudah seperti rumah kedua bagi perantau asal Tapanuli. Asalkan ada gereja Batak atau Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di suatu daerah, pasti ada jejeran lapo yang siap dikunjungi. Anda yang ingin mengunjunginya tak mesti menunggu hari Minggi di kala kebaktian diadakan.
Di kalangan etnis non Batak, lapo cenderung tak populer karena asing dengan masakan dan suasana. Belum lagi jika lantas mendapati sekelompok orang Batak seru, ngobrol dengan suara keras satu sama lain, walau sedang tak bertikai. Padahal, layaknya rumah makanan Manado, Makassar, atau Tionghoa, lapo terbuka bagi siapa saja yang ingin mencicipi kenikmatan sajian khas Danau Toba.
Rasa kekerabatan yang erat dan doyan ngumpul adalah ciri khas suku keturunan Sisingamangaraja. Bagi orang Batak, berkumpul dan makan bersama adalah sebuah kewajiban. Kalau pernah mendatangi acara pernikahan adat, Anda akan melihat jejeran meja makan panjang beserta hidangan di atasnya yang telah disiapkan berdasarkan urutan kekerabatan. Waktu makan bersama akan dimulai usai tetua adat memimpin doa.
Tanpa harus berdasarkan hubungan darah, sesama orang Batak bisa bersaudara. Maklum, pertemuan secara tak sengaja di mana pun bisa jadi awal persaudaraan. Cukup tanya marga, dari situlah silsilah keluarga akan ketahuan dan ditelusuri hubungan persaudaraannya.
Berbeda dengan kebiasaan nge-lapo di ibu kota, di kampungnya sendiri lapo umumnya diisi para lelaki yang menghabiskan waktu senggang, ditemani tuak, minuman beralkohol hasil fermentasi dari nira aren dan nira kelapa. Tempat yang menyajikannya disebut lapo tuak. Di Jakarta, tak semua lapo menyajikan tuak. Ada satu produsen khas yang khusus meracik minuman fermentasi ini, kemudian sesekali menitipkannya di lapo tertentu atau meraciknya untuk hajatan. (f)