Walau memiliki latar belakang berbeda, Reno Andam Suri (pengusaha Rendang Uni Farah, penulis kuliner, dan Pemenang Penghargaan I Wanita Wirausaha Femina 2009), Ichil Salam (praktisi TI), dan Febiliana Sari (pengusaha rendang Andeh dan praktisi TI), membentuk Minangkayo di media 2015. Walau asli Klaten, Ichil merasa sejiwa karena juga punya ketertarikan pada budaya Minang.
Tim Minangkayo yang berarti minang kaya adalah pergandengan tangan setelah ketiganya secara terpisah bersuara mengenai kuliner Nusantara. Masa-masa hijau Minangkayo lekas mereka isi dengan kegiatan terpuji: membuat catatan wisata, kekayaan kuliner, sejarah-budaya, hingga tokoh Sumatra Barat dalam situs minangkayo.com.
Tak ingin asal menulis dan mengobral informasi miskin riset, mereka mencari narasumber hingga ke pelosok. Kalaupun pencarian data atau belajar masak dilakukan di Jakarta, sumber haruslah yang diakui di kampung halaman. Untuk resep di laman, mereka belajar langsung dari juru masak di seluruh sudut Sumatra Barat. Langkah copy paste dari banyak resep yang berserakan di dunia maya tidak mereka lakukan karena ingin menjaga kredibilitas Minangkayo.
Ketiganya tengah bersemangat merancang sejumlah kegiatan. Santap malam Jamuan Negeri Rempah: Bajamba, Minangkabau yang terjual habis dengan cepat ke 100 orang di tengah kegiatan Jalur Rempah di Museum Nasional, Jakarta, adalah debut perkenalan Minangkayo ke publik.
Makin beken dan lestarinya budaya Minang merupakan mimpi tim ini. “Kalau bisa, dokumentasi Minang tercatat di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, karena di sana terangkum ribuan catatan budaya dari seluruh negeri,” papar Reno, penulis Rendang Traveller dan Rendang, Minang Legacy to The World, buku yang berlaga di Frankfurt Book Fair 2015.