Mungkin Anda sudah akrab dengan kondisi ini (atau mungkin pernah mengalaminya): Anda dan teman-teman dalam cubicle yang berdekatan di kantor, lambat laun akan membentuk satu grup yang solid. Makan siang, ngegosip, hang out, dan banyak lagi hal yang dilakukan bersama-sama. Jangankan warna atau model baju yang serupa, jadwal menstruasi pun terkadang bisa hampir bersamaan.
Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi. Harus diakui, kadangkala pressure group itu memang tinggi. Misalnya, ketika kita berhadapan dengan bos yang sangat dominan, maka kita rasanya sudah tidak punya energi untuk berbeda pendapat dengannya. Atau, ketika kita sudah begitu terikat dengan rekan satu gank, rasanya ada yang aneh bila kita berbeda dengan mereka.
Nyatanya, ketika memasuki sebuah komunitas atau grup tertentu, seseorang seakan-akan ditarik oleh arus yang begitu kuat untuk mengikutinya. Apakah kita termasuk yang gampang nge-like sebuah status atau link berita yang di share di wall Facebook ketika kita melihat di sana sudah banyak teman kita yang ngasih jempol? Padahal belum tentu kita memang betulan suka dengan kontennya. Jadi aneh ketika dicermati apa yang kita like itu sebetulnya berita sedih atau kabar dukacita, status meninggalnya Robin Williams kemarin misalnya. Bahkan sebuah permainan game online yang sedang populer pun bisa membentuk konformitas.(YOSEPTIN PRATIWI)