Opini orang lain berperan besar menentukan kebutuhan ini. Sedangkan kebutuhan hedonis menghadirkan kenikmatan pribadi. Semahal apa pun harga yang harus dibayar, orang dengan kebutuhan hedonis akan berupaya mewujudkannya. Misalnya, menonton konser artis idola ataupun liburan ke Eropa.
Tiga kebutuhan tersebut berubah menyesuaikan zaman. Bila tadinya hanya bersifat fungsional sebagai medium melepas stres, jalan-jalan kini bisa berfungsi untuk memenuhi kebutuhan simbolis dan hedonis yang bersifat emosional.
Terlebih lagi, kemudahan sharing informasi dan foto lewat media sosial membuat banyak orang berlomba-lomba ingin menunjukkan eksistensi diri, termasuk saat pergi liburan.
“Traveling kini bukan sekadar medium untuk melepas kepenatan hidup, tapi juga cara baru untuk menunjukkan eksistensi diri maupun kemapanan hidup,” cetus Rudy. Tak mengherankan bila kondisi tersebut membuat pasar bisnis pariwisata makin meluas.
Karenanya, ia pun menyarankan para pelaku bisnis bidang ini mampu menampilkan produknya dengan cara seunik mungkin. Sebab, dunia bisnis di era sekarang membutuhkan sesuatu yang ekstrem, bukannya mainstream, termasuk di dunia traveling.
Salah satu contoh autentik misalnya, menurut situs travelandleisure.com, memopulerkan prinsip: let’s get lost. Artinya, makin Anda tersesat, makin mengesankan momen traveling Anda. Tersesat bukan lagi hal menakutkan karena sudah ada teknlogi GPS yang akan memudahkan pencarian suatu lokasi.
Selain itu, menurut Rudy, para traveler masa kini juga cenderung lebih suka mengunjungi tempat-tempat tak populer yang di dalamnya memiliki landscape indah. Kalaupun ke Bali, mereka akan menjelajahi pantai tersembunyi, semisal Pantai Atuh di Nusa Penida maupun Devil Tears di Nusa Lembongan. “Cerita perjalanan di tempat-tempat terpencil dan ekstrem cenderung lebih disukai ketimbang yang sudah umum,” ujar Rudy. (f)
Baca Juga:
Tip photography travel dari Jerry Aurum
From Hobby to Money