Pernah dilanda banjir bandang, erosi pesisir, rob akibat kenaikan air laut, penurunan tanah dan tanah longsor, Kota Semarang yang berada di pesisir Jawa baru-baru ini berhasil lolos seleksi masuk dalam daftar 100 kota tangguh yang digagas oleh The Rockfeller Foundation.
Semarang merupakan satu-satunya kota terpilih menjadi perwakilan Indonesia dan juga Asia dalam program pengembangkan ketangguhan kota. Sebelumnya, Kota Semarang merupakan bagian dari program Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN) yang dikelola oleh Mercy Corps Indonesia sejak tahun 2009.
Kelompok Siaga Bencana yang dibentuk di sana menjadi model untuk daerah lain yang melakukan studi pembelajaran di sana. Selain itu, strategi adaptasi perubahan iklim lainnya, yaitu di bidang mangrove dan kesehatan (pengendalian demam berdarah). Dengan melibatkan komunitas, dilakukan pembibitan mangrove, pengolahan hasil mangrove, dan kegiatan ekonomi lokal lain sebagai alternatif penghasilan tambahan masyarakat. Kawasan mangrove ini ke depannya akan dipersiapkan sebagai kawasan eko eduwisata.
2. Blitar
Perubahan iklim telah menurunkan produktivitas belimbing di musim kemarau hingga 25% di seluruh Kota Blitar. Diharapkan, dengan infrastruktur sederhana itu dapat membantu meningkatkan cadangan air tanah dan bisa menampung air hujan sebagai cadangan air di musim kemarau.
3. Tarakan, Kalimantan Utara
Sebagai kota pulau, Tarakan cukup rentan terhadap ancaman menjadi wilayah endemik demam berdarah dengue (DBD). Telur-telur nyamuk pembawa virus DBD ini dapat berkembang biak lebih cepat akibat peningkatan temperatur udara. Sebagai salah satu strategi adaptasi, dilaksanakan kegiatan ‘Topi Anti-DBD’ atau menutupi semua bak penampungan air untuk mencegah nyamuk hinggap dan bertelur di permukaan air.
Penutup ‘topi’ dibuat berpori sehingga bisa tetap menadah air hujan. Dinas Kesehatan Kota Tarakan mengimplementasikan ‘Topi Anti-DBD’ ini di kawasan permukiman pesisir Kelurahan Selumit Pantai yang rentan terhadap DBD tersebut. (f)