1. Melbourne, Australia
Baru-baru ini, kota di Australia bagian tenggara ini dinobatkan menjadi kota dengan peringkat ke-4 yang paling nyaman untuk ditinggali oleh majalah global affairs, Monocle. Hal ini juga didorong oleh upaya pemerintahnya yang melibatkan partisipasi masyarakat untuk tanggap dalam merespons kejadian darurat terkait cuaca ekstrem.
Hal ini dipicu oleh bencana gelombang panas yang menerjang kota ini di tahun 2009, yang dikenal sebagai peristiwa Black Saturday. Gelombang panas yang memicu kebakaran hutan dan sejumlah tempat di Victoria, Australia, menewaskan 173 orang dan membunuh satu juta lebih hewan liar.
Salah satu bentuk partisipasi masyarakat adalah kesadaran untuk rutin menanam pohon-pohon baru di lingkungan tempat tinggal mereka. Dengan begitu, kota Melbourne menjadi rindang dan tampak asri. "Melbourne dikenal sebagai kota tangguh yang menjadi contoh di dunia karena kami fokus pada kekuatan komunitas," ujar Emergency Management Commissioner, Craig Lapsle, seperti dilansir oleh theage.com.au.
Meski begitu, Craig menjelaskan, Melbourne tetap menghadapi tantangan lain, yaitu kini harus fokus pada penanganan dan antisipasi accute shocks seperti gempa, banjir, wabah penyakit, dan chronic stresses, yaitu persoalan akibat kerusakan lingkungan jangka panjang seperti kekurangan air bersih dan bahan pangan.
2. Barcelona, Spanyol
Meski tak memiliki cukup banyak sumber daya alam yang bisa diperbarui, kota di negara Spanyol ini menjadi pionir sebagai pengembang tenaga solar thermal. Pemerintahnya mewajibkan seluruh gedung baru dan yang telah direnovasi untuk menginstalasi panel pembangkit panas dari matahari ini. Biasanya dimanfaatkan sebagai pemanas air.
3. Tokyo, Jepang
Didiami oleh lebih dari 35 juta jiwa atau 26% dari total populasi keseluruhan di Jepang, membuat kota metropolitan ini menjadi lokasi rawan yang menuai banyak korban jika ditimpa bencana. Tahun 1923, wilayah ini pernah diguncang gempa bumi hebat Great Kanto berkekuatan 7,9 skala Richter dan menewaskan hingga 141.000 jiwa.
Belajar dari pengalaman ini dan sadar akan kerentanan kota terhadap gempa dan tsunami yang sering melanda, Kota Tokyo mulai meningkatkan standar keamanan gedung-gedung dengan melengkapi fasilitas pencegah kebakaran, misalnya.
Bukan membangun gedung beton, kota ini justru banyak membangun rumah dari material kayu dan menyediakan banyak ruang terbuka yang luas. Namun, baru pada tahun 1997 konsep pembangunan kota tangguh mulai dicanangkan secara serius lewat program Promotional Plan for a Disaster-Resistant City. (f)