Dalam ilmu toksikologi, tidak ada bahan kimia yang 100% aman. Seberapa jauh dampak negatif sebuah zat kimia sangat bergantung pada seberat apa sifat racunnya, seberapa sering paparan terhadap zat kimia ini terjadi, dosis, serta manusianya. “Sebab, memang ada orang yang lebih rentan dibanding orang lain,” jelas Drs. Bambang Wispriyono, Apt., Ph.D, spesialis toksikologi lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Merkuri secara garis besar bisa dibedakan menjadi 3 golongan:
- Elementer. Misalnya, merkuri yang terkandung pada amalgam, bahan yang digunakan untuk menambal gigi. Sering disebut ‘tambalan perak’. Bahan ini relatif aman, namun akan berefek jika terbongkar, terkena panas, dan menguap.
- Anorganik. Biasanya jenis ini yang ada dalam kosmetik. Efeknya akan memengaruhi ginjal.
- Organik. Ini seperti yang digunakan dalam industri tambang. Efeknya seperti terjadi pada peristiwa Minamata, Jepang.
Gejala akibat merkuri anorganik dan organik mulanya sama, yaitu kulit mengalami iritasi, gangguan pigmentasi, penglihatan menjadi kabur, dan mungkin gangguan fungsi otot. Pada tahap yang lebih parah, barulah terlihat perbedaan. Merkuri anorganik menimbulkan gangguan ginjal, sementara yang organik menimbulkan gangguan saraf.
Memang efek keracunan itu tidak selalu langsung terjadi. Mungkin saja efeknya baru terlihat setelah beberapa bulan atau tahun. Anggapan bahwa merkuri bersifat karsinogenik atau memicu pertumbuhan sel kanker, hingga saat ini masih diperdebatkan.
“Jejak sifat karsinogenik pada merkuri ini memang terbukti dalam penelitian pada tikus. Tetapi, apakah efek yang sama juga akan terjadi pada manusia, masih perlu penelitian lebih lanjut,” jelas Bambang.
Sayangnya, masih ada saja produsen yang mengabaikan bahaya itu. Tiap tahun ada saja laporan tentang kosmetik yang terbukti mengandung merkuri. Menurut laporan Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan POM, selama tahun 2014 saja ditemukan 11 jenis kosmetik. Sementara tahun 2012, ada 20, dengan merek berbeda. Artinya, saat satu kosmetik yang sudah ditarik dari peredaran, masih ada atau mungkin muncul kosmetik baru lain yang mengandung merkuri.
Kebanyakan kosmetik yang menggunakan merkuri ditujukan untuk membuat kulit tampak lebih putih. Mungkin dalam satu olesan tidak terlalu tinggi kadar merkurinya. Tapi, jika kita pakai terus tiap hari, efeknya pasti terjadi. Sebagai konsumen cerdas, Anda harus tetap melakukan cek ulang untuk memastikan bahwa produk yang Anda konsumsi terbebas dari jerat racun logam berat yang satu ini. (f)