Menurut psikolog Irma Makarim, dalam sebuah perkawinan, memang terkadang ada persaingan di antara pasangan. Mulai dari sikap ingin menonjolkan dirinya ketika berada di lingkungan teman-teman, sampai berusaha menyaingi pasangannya dalam hal karier dan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi.
Demi bisa menyaingi kesuksesan suami, Anda berusaha keras meningkatkan karier dengan sering bekerja lembur sampai tengah malam. Bukan saja Anda mengorbankan kesehatan, Anda juga tak lagi mempunyai cukup waktu untuk bersama pasangan Anda.
Tanyakan pada diri Anda, sampai kapan Anda akan terus membiarkan rasa iri akan kesuksesan suami menguasai Anda. Mungkin sudah waktunya untuk jujur pada diri Anda sendiri dan merenungkan kembali apakah yang Anda lakukan selama ini lebih berharga dari apa yang selama ini telah Anda bangun.
Cobalah untuk mengingat mengapa Anda memilih suami sebagai pasangan. Tentu suami mempunyai kualitas yang Anda sukai. Apakah penampilannya, prestasinya, budi pekerti, dan ini membuat Anda jatuh cinta dan merasa bahagia dengan kehadirannya. Demikian juga yang mungkin dirasakan suami. Bila tidak diberi perhatian dan dipelihara, maka perasaan seperti ini akan memudar, demikian juga kehangatan dalam hubungan Anda. Berbahagialah dengan prestasi pasangan. Justru dengan saling mendukung, hubungan Anda berdua akan bertambah kuat.
Sedangkan menurut psikolog Monty Satiadarma, hidup bersama pasangan seharusnya saling menunjang dan mengisi, bukan malah berkompetisi. Upaya Anda mengunggulinya sesungguhnya merupakan kompensasi inferioritas Anda di hadapannya yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Apalagi jika kompetisi itu justru mengancam keutuhan keluarga Anda. Seolah pasangan hidup Anda bukan menjadi pendamping kebersamaan, melainkan menjadi sparring partner guna meningkatkan kemampuan Anda ‘bertarung’.
Justru kini yang harus Anda lakukan adalah berkompetisi dengan diri sendiri. berupaya untuk mengendalikan emosi dan kehendak yang demikian besar guna mengalahkan orang yang Anda cintai. Anda tak harus mengalahkan dirinya. Sebaliknya, Anda harus mampu mengalahkan diri Anda sendiri dari dorongan berkompetisi yang tidak pada tempatnya. Tantangan Anda yang sesungguhnya adalah tantangan untuk mengendalikan diri.(f)