Peneliti karang dari Australia, Dr. John Veron, mengatakan, tak ada satu pun tempat dengan luas area yang sama memiliki jumlah spesies karang sebanyak di Raja Ampat. Sebanyak 75% jenis karang di dunia memang bisa ditemukan di sini. Kepulauan yang terletak sekitar 50 mil sebelah barat laut Sorong dengan luas wilayah 46.108 km2 ini pun disebut-sebut sebagai pulau terindah. Saya pun ingin membuktikannya.
Kitorang Peduli Laut
Cuaca dan angin panas langsung menyambut begitu saya tiba di Bandara Domine Edward Osok, Sorong. Untuk tiba di kota ini, saya menempuh sekitar 5 jam perjalanan udara dengan direct flight dari Bandara Soekarno Hatta. Suhu saat itu sekitar 33° Celsius.
Saya langsung menuju Pelabuhan Sorong untuk melanjutkan perjalanan ke Raja Ampat.
Sebelum mengarung jauh, saya mengunjungi sebuah kapal. Terapung di tengah laut, kapal yang dilukis gambar hewan laut dan motif khas Papua jadi pemandangan unik. Kapal Kalabia, namanya.
Diresmikan Februari 2008, kapal hasil kerja sama Conservation International (CI) dan The Nature Conservation (TNC) ini memberi pendidikan konservasi lingkungan hidup bagi anak-anak usia sekolah dasar di daerah Raja Ampat. Kapal Kalabia ini telah mengarungi 610 pulau di daerah Raja Ampat. Tujuannya hanya satu, agar anak-anak berpartisipasi memelihara kekayaan laut.
“Kami memiliki kekayaan laut yang luar biasa. Namun, ketidaktahuan seperti memancing ikan dengan bom dan tak menjaga kebersihan laut, bisa memusnahkan kekayaan alam ini. Untuk itu, kami memberi pengajaran kepada usia dini. Sekarang mereka tahu bagaimana membedakan jenis karang dan menjaganya agar tidak rusak,” ujar Albert Nebore, Dewan Pendiri/Pembina Conservation International Indonesia.
znama Kalabia sendiri diambil dari jenis hiu endemik yang banyak dijumpai di Raja Ampat. Hewan ini juga disebut mandemor, epaulette, bamboo shark, dan walking shark. Di malam hari hiu ini menggunakan siripnya untuk mencari makan, seperti berjalan di pasir. Jika beruntung, Anda bisa melihatnya berenang bebas di kepulauan ini. Ah, saya jadi tak sabar menunggu malam.
Saya kembali berlayar menuju sebuah konservasi laut daerah di Teluk Mayalibit, sekitar 2 jam menggunakan speedboat. Memasuki wilayah ini, jajaran bukit berbaris rapi. Awan putih bersih dengan langit biru muda tampak berbayang di permukaan air yang terlihat seperti cermin raksasa. Saking beningnya, aneka jenis ikan dengan perpaduan warna hijau, biru, kuning dan hitam yang sedang berenang di dalam air bisa terlihat dengan mata telanjang. Daerah konservasi ini masuk dalam zona larang ambil. Artinya, nelayan dilarang memancing di area ini. Maka, kepiting sebesar tangan orang dewasa, ikan-ikan dan bintang laut yang cantik ini hanya boleh dipandangi di tempat ini saja.
Bertemu Bayi Hiu
Saya menginap di daerah perlindungan laut, Teluk Waiwo, 20 menit dari Teluk Mayalibit. Saya sengaja bangun pagi-pagi untuk menikmati matahari terbit. Menurut masyarakat setempat, matahari sudah mulai bersinar pada pukul 05.00 WIT.
Benar saja, ketika saya membuka pintu kamar pada pukul 5, angin sejuk menerpa wajah. Di balik bukit dari kejauhan sana, bias-bias merah pertanda kemunculan sang mentari sudah terlihat. Segera saya melangkah ke dermaga, lalu duduk di saung yang terbuat dari bambu dan jerami. Sayangnya, cuaca agak mendung pagi itu. Sang mentari hanya mengintip malu dari balik bukit.
Tak sempat kecewa, karena dari bawah dermaga, ikan-ikan cantik tampak beratraksi. Seekor ikan berukuran sedang tiba-tiba muncul dan melompat sambil menyibakkan air. Kami bersorak. Seperti diberi pertunjukan gratis. Seekor ikan berwarna abu-abu berukuran 20-30 cm tampak berenang santai.
Kami sibuk mengamatinya, hingga akhirnya menyadari bahwa ikan itu adalah bayi hiu. Beberapa wisatawan yang sedang berenang senang bukan main. Dinginnya air laut sepertinya tak terasa lagi. Permulaan yang indah hari itu.
Siang itu saya menuju pulau terindah di Raja Ampat, Pulau Wayag. Ombak ternyata sedang besar-besarnya. Speedboat yang saya tumpangi terombang-ambing diempas ombak. Byuur! Kami basah kuyup, tersiram ombak! Menegangkan sekaligus seru.
Di tengah perjalanan yang memakan waktu selama 3 jam itu, saya sering berpapasan dengan perahu-perahu nelayan dan sekumpulan burung putih yang sedang memakan ikan. Pemandangan yang sangat cantik. Saya asyik menikmati perjalanan ini hingga akhirnya, Saka, yang menyetir speedboat, menjalankan kapal secara zig-zag. Kalau sudah begini, tandanya Pulau Wayag yang berbatasan langsung dengan Provinsi Halmahera Utara dan Negara Republik Palau, sudah di depan mata.
Benar saja, gugusan karang yang menjulang tinggi menyambut kami. Gugusan ini dikelilingi air berwarna tosca, lalu diikuti warna biru tua dan biru muda pada lapisan berikutnya. Saya berlabuh di sebuah pulau kecil tak berpenghuni untuk snorkeling. Pasirnya sangat putih dengan bulir-bulir merah muda karena pecahan terumbu karang merah. Warna airnya bergradasi biru yang cantik.
Menceburkan diri ke air yang dingin, saya bisa menikmati biota laut tanpa harus menyelam dalam-dalam. Saking jernihnya air, terumbu karang merah dan hijau terlihat melambai-lambai dari dasar laut..
Mendaki Kris Point
Menyatu dengan air memang kegiatan yang tak boleh ditinggalkan saat berkunjung ke surga dunia ini. Namun, jangan cepat puas.
Ada keindahan lain yang ditawarkan oleh gugusan karang yang berdiri angkuh itu. Di Pulau Wayag, ada dua gugusan karang yang biasa digunakan untuk pendakian.
Merasa tertantang, saya pun mendaki, meski tanpa bekal sepatu olahraga. Perjalanan cukup menguras tenaga karena kemiringan karang hampir mencapai 90 derajat.
Belum lagi tonjolan karang ini cukup tajam dan bisa membuat luka jika tak berhati-hati. Karena naik bersama rombongan wisatawan lain, saya pun harus berhenti sejenak sambil menunggu giliran jalan, dan hanya berpegangan erat pada tanaman menjalar di sekitar karang. Saya memberanikan diri menengok ke belakang. Wow! Saya sudah setinggi sekitar 50 m dari permukaan laut. Mendebarkan.
Setelah 30 menit, saya sampai di puncak Kris Point. Angin bertiup kencang, sinar matahari menerpa wajah, bercampur peluh. Lelah ini terbayar. Dari atas, saya bisa menikmati pemandangan segala sisi Pulau Wayag. Gugusan-gugusan karang itu terlihat seperti disusun indah oleh Sang Pencipta.
Ingin rasanya berlama-lama di sini. Duduk di puncak karang, bersandar pada satu-satunya pohon yang ditumbuh di karang, dan menikmati cantiknya laut adalah sebuah kemewahan yang tak akan terlupakan. Saya pun berkhayal jika di antara karang-karang ini dipasang flying fox, pasti seru. Semoga saja keindahan ini tak dikelola oleh tangan-tangan yang salah.
Bermalam di Sini:
Waiwo Resort
Penginapan ini terhitung murah jika dibandingkan dengan penginapan lainnya yang bisa mencapai Rp1 juta-Rp2 juta per orang.
Untuk menginap di sini, Anda hanya dikenakan biaya Rp450.000 per orang. Kamar yang disediakan pun cukup besar, memuat 2-3 double bed yang cocok digunakan bersama keluarga.
Hampir semua kamar menghadap ke laut dengan pasir putih terhampar di depan teras kamar. Bonusnya, sayup-sayup suara ombak menjadi lullaby yang menenangkan di malam hari.
Royal Mamberamo Hotel
Jika Anda ingin menghabiskan waktu sejenak di Kota Sorong, hotel ini bisa menjadi alternatif. Disebut sebagai penginapan terbaik di kota ini, Anda bisa mendapat fasilitas hotel berbintang. Tiap kamar dibangun menyerupai mini cluster dan diberi nama bunga. Hotel ini menyediakan layanan mobil lengkap dengan sopirnya yang siap mengantar jemput Anda ke bandara secara gratis. Hotel ini menyediakan fasilitas wifi yang jarang ditemukan di kota ini. Hanya berjarak 10-15 menit dari bandara. Di tempat ini, Anda bisa menikmati papeda kuah kuning, makanan khas Papua.
Tip
1. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Raja Ampat adalah sekitar bulan April-Mei. Ombak laut sedang bersahabat pada bulan ini.
2. Selektif memilih travel agency dan pastikan Anda sudah membayar semua biaya perjalanan di awal, termasuk biaya sewa speedboat pulang-pergi.
Trip ini bisa menghabiskan dana Rp40 juta – Rp60 juta. Anda juga bisa mengatur perjalanan sendiri.
Untuk menghemat, Anda bisa membagi sewa kapal dengan teman-teman seperjalanan.
3. Selain peralatan diving atau snorkeling, bawa sepatu yang mendukung kegiatan memanjat karang.
4. Mengingat panasnya cuaca di daerah ini disertai angin yang berembus kencang, pastikan Anda selalu membawa topi, syal, tabir surya, dan sunglasses.
5. Faktor keamanan di Bandara Domine Edward Osok perlu jadi perhatian. Pastikan koper bawaan Anda aman terkunci untuk menghindari hal yang tak diinginkan.(TRIFOSA DEWI)