Keesokan hari, saat sepulang kuliah, Dayu kembali menemui Dharma.
“Bli, Dayu dijodohkan dengan anak teman Aji.”
Dharma tampak terkejut, namun berusaha bersikap tenang.
“Dayu menerimanya?” tanya Dharma, yang sesungguhnya sangat berdebar menunggu jawaban dari Dayu.
“Dayu tidak tahu. Dayu bingung.”
Dayu tampak sangat resah, ia mengubah-ubah posisi duduknya di bale bengong saat itu.
“Dayu tidak cinta pada Bli?” Dharma mendesak.
Dayu merajuk. “Bli sudah tahu jawabannya.”
“Lalu, kenapa Dayu masih bingung?”
Dayu tertunduk. “Dayu anak satu-satunya. Jika Dayu menikah dengan Bli, Dayu harus keluar dari griya. Siapa yang akan menjaga Biang? Aji juga tentu tak akan mengakui Dayu sebagai anak.”
Kali ini Dharma yang tampak resah.
“Bli tidak sanggup kehilangan Dayu.”
“Dayu juga tidak bisa hidup tanpa, Bli. Sudah dari kecil bersama, jiwa Dayu bersama Bli.”
Dayu menangis. Dharma menghapus air mata Dayu dengan sapu tangannya. “Dayu, izinkan Bli menghadap Aji Dagus Brama.”
Dayu tertegun menatap Dharma.
“Dayu tidak siap.”
“Lalu, kapan Dayu siap?” tanya Dharma, tidak sabar.
“Beri Dayu beberapa hari untuk berpikir.” Dayu berpikir sejenak. “Besok Dagus Mantra datang ke griya Dayu bersama anaknya. Jadi, Dayu tidak bisa ke rumah Bli. Ah, entahlah, Dayu bingung.”
Wajah Dayu pucat pasi, ia tampak sangat kalut.
Dharma mencium tangan Dayu.
“Bli akan menunggu Dayu. Kapan pun Dayu siap, Bli tunggu....”
Dayu tersenyum. “Terima kasih, Bli. Semoga Aji bisa mengerti dengan cinta Dayu dan Bli.”
Pagi hari yang cerah, Dagus Mantra datang ke griya Dayu bersama Dagus Suamba.
“Mari, Gus, masuk ke gubuk kami,” kata Ida Bagus asal Klungkung itu merendah, karena ia tahu bahwa griya Dagus Mantra lebih besar dan luas daripada griya-nya.
Dagus Mantra tersenyum. “Tidak usah merendah begitu, Gus. Dayu Astri, kok, belum kelihatan?” tanyanya, sambil duduk di sofa jati di ruang tamu.
“Sebentar, biar saya panggilkan dulu. Ni Luh, tolong suruh Dayu keluar,” kata Dagus Brama pada istrinya.
“Ini Dayu Astri? Cantik sekali. Anggun. Dia memang benar-benar anakmu, Gus,” kata Dagus Mantra, ketika Dayu dan Ni Luh Sari muncul di hadapan mereka semua.
“Dayu, beri salam pada AJi Dagus Mantra.”
Dayu tersenyum kecut mendengar perintah Dagus Brama.
“Tiang Dayu, Ji,” katanya, memberi salam khas budaya Bali, dengan kedua tangan yang dikatupkan, kepala tertunduk, dan kaki ditekukkan sekilas.
“Sudah cantik, sopan pula.”
Dagus Brama bangga mendengar komentar dari temannya itu.
“Dayu, Tiang Ida Bagus Suamba,” Dagus Suamba memperkenalkan diri tanpa diminta.
Dayu menatap lekat Dagus Suamba. Pria yang tampan, berkarisma, dan bertutur kata sopan. Wanita mana pun tentu tak dapat menolak pria seperti dia untuk dinikahi, pikir Dayu.
Dagus Suamba tersenyum. “Jika Dayu berkenan, boleh Dagus bawa Dayu mencari angin segar di luar?”
Dayu tertunduk. “Bukankah sudah tidak ada hak bagi Dayu untuk menolak?”
Dagus Suamba tertegun sesaat mendengar jawaban Dayu, lalu menyilakan Dayu berjalan ke luar lebih dulu.
“Dayu, mari kita duduk di bale bengong,” ajak Dagus Suamba.
Ia merasa agak lelah, setelah diajak Dayu mengelilingi halaman griya yang luas, dengan taman beraneka bunga. Ni Luh Sari adalah pencinta tanaman. Halaman griya ‘disulap’ menjadi taman bunga yang sangat indah olehnya. Mereka berkeliling tanpa berbicara sepatah kata pun.
Dagus Suamba menatap Dayu. Gadis yang begitu cantik dan lembut, bisik hati Dagus Suamba. Dengan rambut lurus yang dikepang satu di belakang, bunga kemboja berwarna putih di telinganya, dan binje di keningnya, dia benar-benar gadis Bali teranggun yang pernah ia jumpai. Dagus Suamba merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.
Wajah Dayu memerah, saat menyadari bahwa Dagus Suamba terus menatap wajahnya.
“Ada apa Dagus terus melihat seperti itu pada Dayu?”
“Dayu adalah gadis tercantik yang pernah Dagus kenal. Apakah salah kalau Dagus langsung jatuh cinta pada Dayu?” kata Dagus Suamba, tidak dapat menahan perasaannya terlalu lama.
Dayu terdiam mendengar pernyataan cinta Dagus Suamba. Jantungnya berdebar kencang.
“Dagus tidak salah, itu hak Dagus. Tapi, menurut Dayu, itu hanya cinta sesaat. Cinta yang dirajut seseorang dalam waktu singkat tidak akan bertahan lama. Maaf, karena Dayu lancang.”
Dayu tertunduk. Sungguh, setelah mengatakan itu, ia tak sanggup melihat wajah Dagus Suamba.
Dagus Suamba terkejut mendengar penuturan Dayu yang blak-blakan. Ia tak mengira, wanita yang tampak lugu di hadapannya itu mampu mengeluarkan isi hatinya begitu terang-terangan.
“Tak apa.”
Dagus Suamba tak tahu akan berkata apa lagi kepada Dayu, sampai akhirnya Dagus Mantra mengajaknya pulang. Jawaban Dayu tadi, setelah sekian lama mereka hanyut dalam diam, seakan-akan telah memukulnya.
“Bagaimana, Dayu? Dagus pria yang tampan, ’kan?” tanya Dagus Brama, setelah Dagus Mantra dan Dagus Suamba pulang.
“Dagus memang tampan dan baik. Tapi, Dayu belum bisa mencintainya,” jawab Dayu, dingin.
Dagus Brama mulai gerah lagi dengan kata ‘cinta’ dari mulut anak gadis semata wayangnya itu.
“Cinta lagi... cinta lagi.... Bisa apa dengan cinta?!”
“Maaf, Aji, bukankah Aji menikahi Biang juga dengan cinta?”
Dayu menatap mata Dagus Brama, seakan menantang.
Hati Ni Luh Sari berdebar atas sikap Dayu.
“Dayu, ayo, masuk.” Ni Luh Sari menggiring Dayu masuk ke dalam kamar.
“Itu didikanmu, Ni Luh Sari. Anak itu jadi berani padaku!” teriak Dagus Brama, saat Ni Luh Sari dan Dayu masuk ke dalam kamar Dayu.
Dayu mengurung diri di kamar. Sungguh, perasaannya saat ini bimbang. Dagus Suamba begitu memesona, tutur katanya halus, senyumnya teduh, sikapnya lembut. Semua itu membuat Dayu sulit menghilangkan sosok pria itu dari ingatannya.