Bagi publik awam, nama Jen Fitzpatrick mungkin kurang mencorong dibandingkan Marissa Meyer atau Sheryl Sandberg saat membicarakan para wanita pemimpin di Silicon Valley (istilah untuk menyebut areal di selatan San Francisco, di mana berdiri perusahaan-perusahaan raksasa digital dan IT, seperti Google, Yahoo, Facebook, Apple, dan e-Bay). Padahal, dialah yang mengendalikan bisnis dan kreatif Google Map yang kini digunakan lebih dari 1 miliar orang. Aplikasi yang sedikit banyak mengubah cara mobilitas orang-orang di seluruh dunia. Berimbas pada banyak hal dan bidang dari faktor keamanan hingga cara efektif memperkenalkan bisnis kecil ke pasar global.
Sebagai Vice President for Google Maps Products, Jen merupakan satu-satunya wanita yang bekerja di bawah CEO Google, Sundar Pichai. Pasti ada yang sangat istimewa dari wanita ini. Jen kira-kira kini berusia di akhir 30-an. Terbilang sangat muda untuk posisi manajerial setinggi ini.
“Memang banyak stereotip terhadap wanita engineer atau mereka yang bekerja di bidang computer science. Cara kerja yang begini dan begitu, attitude, soliter, masa depan kariernya, bahkan sampai ke cara berpakaian, yang tentu tidak semuanya benar. Itu mitos belaka,” katanya, sambil tertawa. Saat itu kami sedang memperbincangkan mengapa tetap belum banyak jumlah wanita yang memilih jurusan computer science atau technology engineering (bahkan di Amerika). Apalagi yang kariernya melesat seperti dirinya.
Ia mengakui, apalagi di masanya, wanita tidak tertarik pada bidang teknologi. Namun kini, seiring bertumbuhnya perusahaan-perusahaan berbasis digital dan computer science, minat itu mulai muncul. Juga karena meningkatnya kesempatan kerja di bidang ini. “Sekarang awareness-nya sudah lebih tinggi, teknologi juga dipersepsi berbeda karena
sudah benar-benar berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.”
Jen, yang bergelar master untuk computer science dengan spesialisasi theoretical computer science dari Universitas Stanford, memulai kariernya benar-benar dari bawah. Dia menjadi satu dari 4 mahasiswa magang di Google pada tahun 1999. Program internship pertama yang dilakukan perusahaan ini. Saat itu Google masih tergolong startup ‘kecil’ dengan karyawan ratusan orang saja. Ia tidak pernah membayangkan akan benar-benar bekerja di perusahaan ini usai magang pada liburan musim panas itu. “Yang sangat excited justru ayah saya,” kenangnya.
Jen yang dibesarkan di Wisconsin nyatanya justru kembali lagi ke perusahaan ini setelah lulus. Ilmu yang dikuasainya memang sangat teknis, sangat cocok dengan teknologi yang dikembangkan Google. Sebelum lulus master dalam bidang ilmu komputer, Jen mendapat gelar bachelor untuk bidang symbolic system. Ilmu yang mengombinasikan kajian ilmu kognitif, artificial intelligence, dan interaksi komputer dan manusia.
Teman ‘seangkatannya’ ketika itu, termasuk bosnya saat itu, Marisa Meyer, karyawan Google No. 20 yang kemudian hengkang ke Yahoo untuk menjadi CEO pada tahun 2012. Juga Sheryl Sandberg yang meninggalkan Google pada tahun 2008 dan menjadi orang nomor dua di Facebook. Marisa Mayer yang disebut sebagai engineer wanita pertama di Google adalah salah satu mentornya dan kepindahan Mayer ke Yahoo juga memberi ruang bagi Jen untuk berkembang. Dalam sebuah artikel yang dilansir Fortune pada September 2015 disebutkan bahwa duo ini termasuk yang gigih mencari berbagai cara untuk meningkatkan keragaman gender dalam perekrutan pegawai baru. “Karena wanita sama berbakatnya dengan pria di bidang ini,” ujarnya, lugas.
Kendati sudah lebih banyak program untuk menarik perhatian wanita muda ke bidang teknologi dan computer science, kenyataan yang ada belum terlihat indah. Di silicon valley, pria masih mendominasi jumlah pegawai, juga para pemimpin puncak berbagai perusahaan berbasis teknologi itu. Dalam artikel di majalah Fortune itu disebutkan, dari sekitar 57.000 pegawai di Google misalnya, hanya sekitar 30 persennya wanita. Hanya 18 persen di antaranya yang merupakan talent di bidang teknik. Sebanyak 22 persen ada di posisi manajerial. Survei Mc Kinsey & Co pada Februari 2011 menyebutkan, untuk bidang teknologi di Amerika, persentase pria dan wanita di posisi eksekutif perusahaan hanya mencapai 26:16. (f)