Celebrity
Kepemimpinan Feminin Jen Fitzpatrick

24 Dec 2015


Bagi publik awam, nama Jen Fitzpatrick  mungkin kurang mencorong dibandingkan Marissa Meyer atau Sheryl Sandberg saat membicarakan para  wanita pemimpin di Silicon Valley (istilah untuk menyebut  areal di  selatan San Francisco, di mana berdiri perusahaan-perusahaan raksasa digital dan IT, seperti Google, Yahoo, Facebook, Apple, dan e-Bay). Padahal,  dialah yang mengendalikan bisnis  dan kreatif Google Map yang kini  digunakan lebih dari 1 miliar  orang. Aplikasi yang sedikit banyak mengubah cara mobilitas orang-orang di seluruh dunia. Berimbas pada banyak hal dan bidang dari faktor keamanan hingga cara efektif memperkenalkan bisnis  kecil ke pasar global.  

Sebagai Vice President  for  Google Maps Products, Jen merupakan satu-satunya wanita yang bekerja di bawah CEO Google, Sundar Pichai. Pasti ada yang  sangat istimewa dari wanita ini. Jen kira-kira kini berusia di akhir 30-an. Terbilang sangat muda untuk posisi  manajerial setinggi ini.   

“Memang banyak stereotip  terhadap wanita engineer  atau mereka yang bekerja di bidang computer science. Cara kerja yang begini dan begitu,  attitude,   soliter,  masa depan kariernya,  bahkan sampai ke cara berpakaian, yang tentu tidak semuanya benar. Itu mitos belaka,” katanya, sambil tertawa. Saat itu kami sedang memperbincangkan  mengapa tetap belum banyak jumlah wanita yang memilih jurusan  computer science  atau  technology engineering  (bahkan di Amerika). Apalagi yang kariernya melesat seperti dirinya.

Ia mengakui, apalagi di masanya, wanita tidak tertarik pada bidang teknologi. Namun kini, seiring bertumbuhnya  perusahaan-perusahaan berbasis digital dan computer science, minat itu mulai muncul. Juga karena meningkatnya kesempatan kerja di bidang ini. “Sekarang  awareness-nya sudah lebih tinggi, teknologi juga dipersepsi berbeda karena
sudah  benar-benar berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.”  

Advertisement
Dalam obrolan kami,  ia juga menjelaskan bahwa kerja  seorang engineer seperti dirinya tidak melulu bekerja sendirian dan terisolasi  di depan komputer menciptakan bermacam program dan software. “ Ini kerja kolaborasi dan melibatkan banyak orang,” jelasnya.
Jen, yang bergelar master  untuk  computer science dengan spesialisasi theoretical computer science dari Universitas Stanford, memulai kariernya  benar-benar dari bawah.  Dia menjadi satu dari 4 mahasiswa magang  di Google pada tahun 1999. Program internship  pertama yang dilakukan perusahaan ini.   Saat itu Google masih tergolong  startup ‘kecil’ dengan  karyawan ratusan orang saja. Ia tidak  pernah membayangkan akan benar-benar bekerja di perusahaan ini usai  magang pada liburan musim panas itu.  “Yang sangat excited justru ayah saya,” kenangnya.

Jen yang dibesarkan di Wisconsin  nyatanya  justru kembali lagi  ke perusahaan ini setelah lulus.  Ilmu yang dikuasainya memang sangat teknis, sangat cocok dengan teknologi yang dikembangkan Google.  Sebelum lulus master dalam bidang ilmu komputer, Jen mendapat gelar bachelor  untuk  bidang  symbolic system. Ilmu yang mengombinasikan kajian  ilmu kognitif, artificial  intelligence,  dan interaksi komputer dan manusia.

Teman ‘seangkatannya’  ketika itu,   termasuk bosnya saat itu, Marisa Meyer,  karyawan Google No. 20 yang kemudian hengkang ke Yahoo untuk menjadi CEO pada tahun 2012.  Juga Sheryl Sandberg yang meninggalkan Google pada tahun 2008 dan menjadi orang nomor dua di  Facebook. Marisa Mayer yang disebut sebagai engineer wanita pertama di Google  adalah  salah satu mentornya dan kepindahan Mayer ke Yahoo juga memberi ruang bagi Jen untuk berkembang.   Dalam sebuah artikel yang dilansir Fortune pada September 2015 disebutkan bahwa  duo ini termasuk yang gigih mencari berbagai cara untuk meningkatkan keragaman gender dalam perekrutan pegawai baru. “Karena wanita sama berbakatnya dengan pria di bidang ini,” ujarnya, lugas.

Kendati sudah lebih banyak program untuk menarik perhatian wanita muda ke bidang teknologi dan computer science,  kenyataan yang ada belum terlihat indah.  Di silicon valley, pria masih mendominasi jumlah pegawai, juga para pemimpin puncak berbagai perusahaan berbasis teknologi itu.  Dalam artikel di majalah Fortune itu disebutkan, dari sekitar 57.000 pegawai  di Google misalnya, hanya sekitar 30 persennya wanita. Hanya 18 persen di antaranya  yang merupakan talent  di bidang teknik. Sebanyak 22 persen ada  di posisi manajerial.  Survei Mc Kinsey & Co pada Februari  2011 menyebutkan, untuk bidang teknologi di Amerika, persentase pria dan wanita  di posisi eksekutif perusahaan  hanya mencapai 26:16. (f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?