Ditelaah dari ilmu psikologi, kemampuan untuk mengendalikan diri bisa terpengaruh oleh karakter seseorang. Menurut Ratih, ada dua macam karakter manusia. Pertama, orang yang konsep idealnya atau yang memegang kendalinya adalah dirinya sendiri (focus of controll-nya iternal). Orang berkarakter seperti ini biasanya tidak mudah terpengaruh oleh orang dan lingkungan sekitarnya.
Kedua, orang yang menempatkan konsep kendalinya pada pihak luar (focus of control-nya eksternal). Orang tipe ini sering kali mencari alasan dari perbuatannya pada orang lain. Misalnya, ‘Aku minum-minum kan demi pergaulan. Teman-teman juga begitu’ atau ‘Habis kartu kredit itu sering kasih potongan harga, sayang kalau dilewatkan’.
“Mereka melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, padahal sebetulnya kendali dirinya lemah. Mereka ini dikatakan tipe dependent,” tambah Ratih. Bisa ditebak, tipe kedualah yang lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Terbawa arus. Di tengah lingkungan yang hedonis, mereka akan terbawa ikut menjadi hedonis.
Ratih sepakat bahwa tiap orang memegang kendali atas diri mereka dan punya pilihan. Bahkan, jika gaya hidup yang mereka pilih ternyata membawa dampak negatif pun, mereka masih bisa memperbaikinya. “Banyak orang mengatakan, kesempatan itu tidak datang dua kali. Faktanya, kesempatan itu bisa datang berkali-kali, hanya saja apakah kita bisa melihatnya dan memanfaatkan secara benar,” kata Ratih. Tidak ada kata terlambat, kecuali kalau fatal, sudah telanjur koma di rumah sakit, misalnya.
Boleh saja Anda berlari mencari bantuan dari ahli, seperti psikolog klinis, psikiater, yang bisa membantu lewat serangkaian terapi atau mencari support dari pasangan dan keluarga, tapi ujung-ujungnya semua harus balik ke pribadi masing-masing. Tentu saja perlu komitmen dan konsistensi. “Orang yang bisa menolong Anda adalah diri Anda sendiri,” kata Ratih, tegas. Kembalilah ke realitas, jangan hanya mencari kesenangan sesaat, lalu mati sia-sia.