Stres
Mulai dari stres emosional hingga stres fisik, misal trauma setelah operasi, persalinan, penurunan berat badan secara drastis, atau sekadar flu dapat mengganggu siklus hidup rambut dan memicu kerontokan. Kondisi ini dikenal dengan sebutan telogen effluvium yang terjadi enam minggu hingga tiga bulan setelah terjadi stres fisik. Jangan khawatir, rambut akan tumbuh kembali setelah kondisi tubuh berangsur pulih.
Kurang Protein
Asupan makanan sehari-hari juga memengaruhi pertumbuhan rambut. Karena itu, konsumsi makanan yang kaya protein seperti daging merah dan telur.
Hormon
Female pattern hair loss (FPHL) adalah kerontokan rambut yang disebabkan oleh kondisi hormon androgen yang meningkat, yang dapat mengakibatkan kebotakan (female pattern baldness). Kondisi lainnya terjadi pada saat Anda mengonsumsi pil KB atau mengalami menopause. Hal ini juga dapat menjadi pemicu rambut rontok akibat folikel rambut menyempit.
Anemia
Kekurangan zat besi atau kurang sel darah merah dapat memicu rambut rontok. Umumnya dokter akan meminta Anda untuk melakukan pengecekan darah. Jika Anda benar mengalami kekurangan zat besi atau sel darah merah, maka konsumsi suplemen penambah zat besi serta makanan kaya zat besi seperti daging merah dan sayuran hijau.
Hipotiroid
Autoimun atau alopecia areata
Kondisi di mana sistem imun tubuh melihat folikel rambut sebagai benda asing dan menyerangnya sehingga lama-kelamaan rambut menjadi rontok.
Proses styling
Mulai dari mengikat rambut terlampau kencang hingga penggunaan pengering rambut yang panas, alat catok, hairspray atau bahan kimia lainnya, serta hair extension yang memberi beban ekstra pada akar rambut.
Genetis
Apabila orang tua memiliki riwayat kebotakan, bisa jadi Anda pun mengalaminya. Ciri-cirinya: terjadi penipisan rambut dimulai dari sepertiga area bagian depan kepala atau lebih tepatnya di belakang poni.
Decha Veronica