Sex & Relationship
Keluar dengan Baik-Baik

29 Aug 2014


Apa saja syarat yang harus dilihat dalam menilai pasangan? Pasangan harus membantu kita untuk menjadi a better person, itu adalah hal yang pertama. Hal kedua yang bisa digunakan untuk menilai adalah apakah kita punya respek pada pasangan?
Dalam hubungan pria dan wanita, cinta yang menggebu-gebu itu punya masa kedaluwarsa. Tidak mungkin kita akan terus deg-degan dan perasaan berbunga-bunga  tiap saat bersama pasangan, lebih-lebih yang sudah lama menikah.

“Ketika Anda melihat suami atau kekasih Anda dan Anda menaruh respek kepadanya, ya, itu adalah cinta,” tutur Elly Nagasaputra, M.K., psikolog. Apalagi, dalam budaya Timur, suami masih dianggap sebagai pemimpin keluarga. Karena itu, meski awalnya penuh cinta dan berbunga-bunga, merasa dicintai dengan cara diatur-atur dan dibatasi, lama-kelamaan rasa cinta ala remaja itu akan hilang dengan sendirinya ketika pada satu masa ia sudah sadar akan arti mencintai secara dewasa.

Persoalannya, bagaimanakah cara keluar dari bentuk hubungan yang tidak sehat ini? Karena tentu pihak pasangan tidak akan menyerah dan melepaskan kita begitu saja.
Advertisement
“Saran saya, please be aware from the beginning. Kalau memang bahaya, ya, balik kanan,” kata Elly. Maksudnya, wanita itu dikaruniai naluri dan intuisi yang tajam. Bila ada yang tidak beres, pasti kita akan merasa. Elly mengibaratkan itu bagai lemparan kerikil yang pertama. Ketika Anda merasakan adanya lemparan kerikil itu, Anda perlu melakukan sesuatu. Dan, saran Elly, bila memang membahayakan, bukan tabu untuk mengatakan kata putus.

“Tetapi, bila kita tidak peka atau mengabaikannya dengan pembenaran, ‘Sudahlah, kan dia melakukan itu tandanya sayang,’ maka  kita akan dilempar batu, yaitu akan menghadapi hal-hal yang lebih besar, dan begitu seterusnya batu yang dilemparkan akan makin besar. Bukan tidak mungkin, kelak kita akan tertimpa batu yang besar sekali. Misalnya, terjadi pembunuhan atau siraman air keras,” katanya.
 
Bila Anda masih tahap berpacaran, segeralah mencari proteksi kepada orang tua. Biarkan seluruh anggota keluarga Anda dan pihak keluarga mantan kekasih tahu bahwa Anda berdua sudah putus. Dalam hal ini, termasuk teman-teman dekat Anda. Diharapkan, mereka bisa menjadi guardian Anda dari hal-hal yang mungkin bisa dilakukan mantan kekasih. Namun, bila Anda sudah berkeluarga, Elly menyarankan untuk tidak membawa persoalan ini kepada keluarga untuk awalnya.
   
“Mengapa jika sudah menikah tidak boleh bercerita kepada keluarga? Sebab, pernikahan adalah lembaga eksklusif. Tentunya sangat tidak bijaksana jika curhat atau mengeluh kepada keluarga. Ujung-ujungnya keluarga pada umumnya akan membela keluarganya sendiri dan tidak memberi pendapat secara objektif. Apalagi, kasus yang dihadapi  tiap suami-istri   spesifik, belum tentu orang tua atau pihak keluarga dapat memberi saran yang profesional sehingga pada umumnya justru memperkeruh suasana,” kata Elly, yang menyarankan, pasangan yang sedang bermasalah ada baiknya mendatangi ahli atau psikolog profesional. (f)



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?