“Bisa saya bicara sebentar?”
“Tidak,” Indra memutuskan cepat. Otaknya terus mengingat kapan dan di mana dia bertemu dengan pria ini. Tapi, rasanya memang seperti kenal.
“Maaf, Bu. Saya....”
“Maaf. Saya harus pergi.”
Indra masuk ke toilet. Indra melihat pria itu masih berdiri memandangnya, saat dia dan Saskia keluar toilet, bahkan sampai masuk ke dalam restoran.
“Kau kenapa?”
“Kupikir, ada yang mengikutiku.” Indra menarik buku menu.
“Wajar. Kau simpanan orang hebat di negeri ini.”
“Otakmu itu selalu ngeres. Aku sudah bilang, setelah Leo menikah, aku tidak pernah bertemu dia lagi.”
“Ya. Tapi, kau terus mengurung hatimu untuk Leo, ‘kan? Seperti katak dalam tempurung saja.”
“Menyebalkan sekali bicara denganmu.”
Indra menuliskan menunya.
“Nih, tentang Leo lagi.”
Saskia mengeluarkan sebuah tabloid bisnis. Indra menariknya dan membacanya sekilas seperti biasa. Gambar Leo memeluk Anne dan menggandeng anaknya, terlihat layaknya sebuah keluarga yang bahagia. ‘Profil keluarga Sukses.’ Indra membaca dalam hati, sambil tersenyum kecil.
“Leo tidak bahagia.” kata Saskia. “Nanti kujilid lagi.”
“Dari mana kau tahu?” Indra terperanjat mendengarnya.
“Matanya. Pria tidak bisa menyimpan matanya. Sikapnya juga kaku.”
“Sok tahu. Leo memang selalu bersikap kaku, kok. Sebaiknya kita makan sajalah.”
“Itu pria yang membuntuti kamu?”
Saskia melirik ke arah pojok. Indra meliriknya dan hampir tersedak. “Ya.”
“Kau lihat ini?” Saskia membuka korannya, menunjuk orang di belakang gambar Leo. “Mirip, ‘kan? Pasti salah satu pengawalnya.”
“Astaga....”
“Berarti, ada dua kemungkinan: Leo masih mencari kamu, atau Anne yang mencari kamu.”
“Semoga tidak dua-duanya,” Indra berkata sungguh-sungguh.
“Masa pengawalnya yang jatuh cinta sama kamu?” Saskia tertawa. “Lagi pula, ngapain dia membuntuti kamu, kalau bukan karena suruhan majikannya.”
“Cepat makan dan kita pulang. Kepalaku sakit.”
“Kepalamu atau hatimu?” Saskia ikut berdiri.
“Dua-duanya.” Indra menertawakan dirinya sendiri.
Indra membuka apartemen kecilnya dan menyalakan AC ruangan. Telepon rumahnya terus berdering, tapi dia memang malas mengangkatnya. Bahkan, saat beralih ke ponsel, Indra juga tidak mengangkatnya. Penelepon tanpa identitas.
Indra membuka map hitamnya, memeriksa semua potongan berita tentang Leo lima tahun terakhir, kesuksesan sebagai kontraktor nomor sekian di Jakarta. Minimal setiap minggu, wajahnya muncul di majalah, koran, tabloid, atau bahkan di televisi. Anne telah menjadikannya sangat sukses, dan aku telah menjadikan dirinya hanya sebagai orang yang mencintai diriku....
Indra menyalakan televisi. Seperti biasa, kilasan berita kecelakaan dan kematian mewarnai televisi. Lama-kelamaan, Indra terlelap juga.
“Kau harus baca ini,” bisik Saskia, sambil menaruh koran pagi di meja kerjanya, lalu keluar ruangan Indra.
Indra tidak perlu membuka halaman bisnis. Judul di halaman pertama membuat jantungnya hampir berhenti. Mertua Leo ditangkap polisi terkait dugaan kasus....
“Kau seperti habis dipaksa minum obat.”
Delia, yang sedang membahas pekerjaan dengannya, tertawa sambil menarik korannya. “Pria tua ini pantas dihukum mati.”
“Kamu dendam sekali?”
“Kau nggak nonton TV, ya?” Delia memandangnya dengan wajah kesal. “Kontraktor ini yang membuat gedung parkiran itu runtuh dan menewaskan seratus orang lebih. Kau tahu, menantu kesayangannya yang membangun gedung itu.”
“Tidak mungkin.”
“Baca saja beritanya,” Delia menunjuk isi koran. “Biar tahu rasa menantunya itu. Aku sudah merasa bahwa menantunya itu, yang selalu disanjung-sanjung pemerintah, ternyata tukang korupsi juga.”
“Kok, kamu yang sewot?” Indra tertawa kecil. “Kita kembali ke pekerjaan....”
“Oke.” Delia membuka laptopnya. “Minggu ini kamu punya jadwal ke Bali, Madura, dan Bangka.”
“Bangka?” Indra tertawa. “Apa mereka juga suka mendengarkan musik?”
“Aku atau kamu, sih, bosnya?” Delia menghentikan tawa Indra.
“Okay.” Indra melipat korannya. “Lalu?”
“Di Madura ada penyelenggara lokal. Kamu hanya perlu memastikan semuanya sudah beres. Yang terpenting adalah izin kepolisian dan penginapan untuk crew pemusik.”
“Sponsor?”
“Ya, termasuk ini.” Delia memberikan daftar sponsor. “Jangan lupa kau temui pejabat setempat. Selebihnya, dari dua hari kau di sana, biaya ditanggung sendiri.”
“Big boss mulai bangkrut, ya?”
“Bagaimana tidak bangkrut? Dia kan menanggung hidup dua wanita pemboros: istrinya dan Saskia simpanannya itu.” Delia memukulkan map di kepala Indra. “Kamu pura-pura tidak tahu! Kamu kan teman baiknya.”
“Kamu cemburu?” kata Indra, sebelum Delia menutup pintu kaca ruangannya dengan keras.
Indra menyalakan televisi yang tidak henti-hentinya menyiarkan kecelakaan gedung dan penangkapan Tanjaya, terkait kasus itu. Nama Leo juga disebut-sebut sebagai rekanan, yang membuat gedung itu lemah bangunan.
“Taruhan, tidak sampai dua minggu, dia akan lolos dari tahanan dan kasus ditutup. Lihat saja.”
Dewa sudah duduk di depannya mengomentari berita.
Indra tidak menanggapi dan memberikan file untuk ditandatangani. “Kata Delia, kau ke India bulan depan?”
“Kau ikut, ya?” Dewa menatapnya dengan harapan.
“Ingin, sih, tapi....”
“Aku akan bilang pada Pram untuk menugaskan kamu juga. Atau, aku belikan tiket.”
“Menyenangkan.” Indra tersenyum. “Tapi, tidak. Terima kasih.”
“Bagaimana aku bisa mencapai pintu hatimu?” Dewa berdiri dan membawa mapnya pergi.
Indra menatapnya.
“Indra,” kepala Dewa menyembul lagi di pintu, “mau makan siang bareng?”
“Ya. Aku mau.” Indra tersenyum dan kepala Dewa menghilang.
Indra mengembuskan napasnya keras-keras dan mulai menelepon.
Penulis: Lie Phan