Health & Diet
Kecanduan Ngemil

3 Nov 2015

Baru-baru ini, penelitian dari Connecticut College memperlihatkan, biskuit hitam manis yang sangat digemari di seluruh dunia ternyata juga membuat tikus-tikus percobaan ketagihan.  Tikus-tikus ini dengan rakusnya menyantap biskuit itu. Lebih uniknya lagi, seperti iklan biskuit itu yang memberi panduan memakannya: diputar, dibuka, lalu dijilat dulu bagian krim putih manis di tengahnya, maka begitulah pula yang dilakukan para tikus itu. Mereka membuka biskuit ini untuk menyantap krim manis itu terlebih dulu.

Tikus terkenal sebagai hewan rakus. Anehnya, sama sekali tak menyentuh  kue beras di dekatnya, meski biskuit itu habis. Mereka justru mencericit untuk mendapatkan biskuit lagi. Perilaku tikus ini layaknya sakaw pada pecandu narkoba.

Penelitian ini, menurut neuroscience assistant di universitas tersebut, Prof. Joseph Schroeder, mendukung teori bahwa kadar gula atau lemak yang tinggi menstimulasi otak seperti halnya pecandu kokain. “Hal ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa seseorang sulit melepaskan diri dari jenis makanan tertentu. Padahal, ia tahu persis makanan itu bisa menyebabkan kegemukan,”  katanya.

Bukan hanya camilan manis, camilan asin atau gurih pun dapat memiliki pengaruh ketagihan.  Nachos dengan cocolan keju, atau Mac and Cheese, makaroni panggang yang bertabur keju, telah membius banyak warga di Amerika Serikat untuk memakannya terus dan terus. Di Indonesia, juga bertabur camilan yang membuat kita ketagihan.
Advertisement

Mengapa camilan bisa membuat ketagihan? Hal ini karena kerja dari hormon dopamin di otak kita. Menurut Juniarta Alidjaja, DCN, ahli gizi dari Klinik Perisai Husada Bandung, yang selalu dikaitkan dengan kasus kecanduan, hormon ini sebenarnya penting bagi kita. Antara lain, untuk memotivasi diri dan bersemangat terhadap yang dikerjakan.  

Hormon ini pun berperan membuat kita merasa senang, merasakan bahagianya jatuh cinta, juga meningkatkan urusan kegiatan intim lebih bergairah. Kekurangan hormon ini bisa membuat Anda galau, merasa nelangsa, dan enggan melakukan apa pun.
Tapi, kelebihan juga tak boleh. Apalagi jika terus-menerus. “Akibatnya bisa menimbulkan penyakit gangguan jiwa yang ditandai adanya daya khayal tinggi, delusi, halusinasi, dan kekacauan pikiran yang dikenal sebagai penyakit skizofrenia,” terang Juniarta. (f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?