Celebrity
Kami Seperti Sahabat

11 Mar 2014


Dibayangi nama besar Ratna Sarumpaet di awal karier hingga kini tak pernah menjadi masalah buat saya. Saya tak bisa memungkiri, nama besar ibu di dunia teater dan politik sebagai aktivis membayang-bayangi langkah saya.
Saya tak ingin arogan menyangkal itu, saya malah bersyukur dikenalkan dengan dunia akting sejak kecil. Bahkan, Ibu yang mengajari saya akting untuk pertama kalinya.

Sejak tahun ‘70-an Ibu sudah aktif sebagai pemain, penulis, dan sutradara teater. Dulu ia lebih banyak menyadur cerita-cerita percintaan klasik, seperti Romeo and Juliet atau Hamlet yang ia sesuaikan dengan budaya Indonesia.

Di tahun ‘90-an Ibu mulai menulis cerita tentang kemanusiaan. Dari karya-karyanya, akhirnya Ibu menyadari passion-nya pada isu kemanusiaan dan penegakan hak asasi manusia (HAM). Ia keliling ke berbagai kota untuk pementasan teater Marsinah yang mengangkat pelanggaran HAM pada buruh tahun 1993.

Ia ingin menyadarkan masyarakat, ada yang tidak beres dengan HAM di negeri ini. Karena ini juga, beliau harus menghadapi banyak pencekalan. Tapi, ibu tetap berani membela kebenaran yang ia yakini. Keberanian ini yang membuat saya bangga pada dirinya.

Hingga kini Ibu masih aktif mengerjakan semua kegiatan seperti menulis buku, menyutradarai film, berdemo, sampai merencanakan dengan matang keinginannya membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) setelah pemilu nanti sebagai upaya untuk mengembalikan Indonesia pada dasar Pancasila.

Advertisement
Tentang apa yang dilakukan ini, Ibu selalu sharing pada anak-anaknya. Bukan sekadar ingin dimengerti, tapi lebih memberi tahu keadaan yang sebenarnya sehingga bisa tahu apa yang seharusnya kami perbuat.

Ibu memberikan kami atmosfer demokrasi yang kental di rumah dengan membebaskan anak-anaknya untuk melakukan yang kami cintai. Selalu dihubung-hubungkan dengan nama besar ibu, saya justru merasa senang. Membawa embel-embel ‘anak Ratna Sarumpaet’ menjadi kebanggaan tersendiri buat saya.

Saat ingin terjun ke dunia film dulu, saya meminta bantuan Ibu untuk memberikan nama dan alamat para pelaku industri film, seperti sutradara dan produser. Saya membuat profil diri dalam bentuk DVD dan saya kirimkan kepada mereka.
Meski begitu, di dunia entertainment, nama besar Ibu bukanlah jaminan karier saya. Saya  tetap harus memiliki kemampuan dan kualitas.

Saya dan ibu seperti sepasang sahabat. Saya bisa membicarakan apa saja dengannya. Sampai kalau becanda saya sudah berlebihan ibu bakal memarahi dan mengingatkan saya. SebaliknyA jika melihat ibu begitu emosional saat bicara di media, saya sering mengingatkannya untuk lebih tenang dan tidak mudah terpancing.

Kecintaan pada akting membuat kami sering bekerja sama. Banyak film ibu yang saya bintangi. Bahkan di film yang akan kami garap tahun ini, suami saya, Rio Dewanto, menjadi produsernya. - Atiqah Hasiholan




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?