Kariernya sebagai aktris dimulai dari Paris, kota kelahirannya. Ia ditemukan oleh sutradara Jean Luc Godard yang mengaudisinya untuk film Détective (1985). Namanya di perfilman pun perlahan melambung di Eropa sejak bermain di film La Passion Béatrice (1987), di mana ia mendapatkan nominasi César Award sebagai Most Promising Actress. Sejak itu, wajah Julie bersinar sebagai pemeran utama di berbagai film, di antaranya, Europa Europa (1990) dan trilogi arahan Krzysztof Kieslowski, Trois couleurs: Blanc (1993).
Namun demikian, harus diakui, yang membuatnya dikenal di dunia internasional adalah perannya sebagai Celine. Chemistry, kekuatan dialog yang terkesan natural, dan plot yang terjaga membuat film ini memenangkan banyak ‘pengikut’ setia. Bahkan, film ini disebut-sebut sebagai film indie paling signifikan tahun 1990-an.
Sosok Julie dengan kecantikannya yang tak intimidatif, disukai publik Hollywood. Rambut pirang, sorot mata tajam, bibir tipis dengan aksen khas gadis Prancis, membuatnya masuk ke dalam daftar 25 Wanita Tercantik versi People Magazine tahun 1995. Sukses ini mengantarkannya membintangi beberapa film Hollywood, seperti An American Werewolf in Paris (1997).
Terlepas dari kariernya sebagai aktris di lebih dari 30 film, Julie adalah entertainer multitalenta. Julie yang belajar film di sekolah seni prestisius New York University's Tisch School of the Arts, juga berkarier sebagai sutradara, penulis skenario, sekaligus musikus. Kecerdasannya itu bukan tanpa sejarah. Ia adalah putri tunggal pasangan seniman, Albert Delpy (sutradara teater) dan Marie Pillet (aktris). Julie kecil sudah sangat terekspos dengan dunia seni, museum, lukisan, dan film-film Ingmar Bergman favoritnya.
Dalam trilogi Before, Celine dikisahkan bekerja sebagai pengacara lingkungan di Paris, menikah dan punya dua anak, sedangkan Jesse adalah penulis novel, sosok misterius yang ditemui Celine di kereta. Masih menyimpan chemistry dan gairah yang sama, pertemuan itu menyisakan sedikit sesal tentang kebodohan masa muda yang tak bisa mereka ulang lagi. Di film ini, Julie terlibat dalam penulisan skenarionya bersama Ethan dan Rick. Karyanya ini memang istimewa. Terbukti, namanya masuk sebagai nominasi Academy Award untuk Writing Adapted Screenplay. Keterlibatannya tak cuma pada skrip. Tiga lagu soundtrack film ini, A Waltz For A Night, An Ocean Apart, dan Je T'Aime Tant, adalah juga karya Julie.
Tentang Before Sunset, Julie dengan tegas mengatakan, “Saya bukan tipe feminis yang membenci pria. Tapi, saya tidak mau membuat Before Sunset terlalu mengikuti fantasi pria. Never ever,” ujarnya. Julie percaya, kisah cinta yang menggetarkan di layar lebar tak harus mengandung unsur seks di dalamnya. Film ini murni mengeksplorasi relationship kedua karakternya. Sebuah nostalgia yang menguliti pandangan masing-masing tentang cinta, perkawinan, dan kehidupan.
Meski sudah menjadi warga Los Angeles dengan kewarganegaraan Amerika, karier akting Julie memang tak begitu melenting di Hollywood. Dalam sebuah wawancara, ia bahkan berkilah bahwa industri Hollywood tak menyukai orang seperti dirinya. Menurut Julie, Hollywood adalah dunia yang kejam, terutama bagi wanita seusianya. “Tapi, saya tidak menyesal. Saya jadi punya banyak waktu untuk menulis. Saya merasa di posisi terbaik yang sudah saya inginkan sekarang. Sangat disayangkan, banyak aktris yang ketika usianya mencapai 40 tahun, kariernya tamat. Ada banyak pendatang baru yang lebih muda dan lebih cantik. Tapi, saya tak akan terlalu merisaukan itu,” ujarnya. (FIC)