Perkembangan cerita mi berlanjut pada masa Dinasti Tang (618-907 M), ketika ditemukan mi berbentuk seperti lidi yang disebut butuo. Di masa Dinasti Tang, teknologi pembuatan mi mulai masuk di Jepang. Selanjutnya, industri mi tumbuh pesat di masa Dinasti Yuan (1271-1368 M), hingga ditemukannya mi kering, yang memungkinkan dapat disimpan lebih lama.
Pada masa Dinasti Qing (1644-1912 M), muncul produk mi paling ternama dalam sejarah mi di Tiongkok, yakni mi yifu, yang terbuat dari campuran mi rebus dan mi kering. Mi kuno yang ditemukan di Lajia ini mirip mi tradisional Tionghoa, la mian, yang proses pembuatannya dengan cara membanting dan menarik adonan berulang kali hingga helaiannya tipis.
Setelah Perang Dunia II, peranan mi sangat penting bagi bangsa Jepang yang tanah di negerinya tak banyak memiliki sumber daya hayati dan didera kekurangan pangan nasional. Hanya mi kering yang tersedia. Tapi, karena itu, Jepang bangkit! Bahkan, mi instan yang kini jadi budaya dunia, lahir dari tangan seorang anak Jepang!
Wilayah jelajah mi terus berkembang, dari Jepang menuju Korea, dari Vietnam dan Laos ke negara dan pulau-pulau Asia Tengara, lewat Mongol dan Tibet ke Rusia, dari Jalur Sutera ke India, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.