Tertegun sejenak, namun Via cepat memajukan bibirnya, membentuk ‘o’ yang panjang. Dasar bodoh. Siapa pun tahu, adalah suatu kelalaian besar untuk seorang staf humas dan peliputan yang luput mendokumentasikan segala bentuk aktivitas kemasyarakatan maupun ‘ritual’ seremonial yang ditorehkan oleh ‘orang-orang penting’ itu.
Dengan sigap Via melompat naik ke bak pick-up, yang memang telah disiapkan untuk mengantar rombongan ‘kelas dua’ menuju tempat tujuan masing-masing dalam beberapa rombongan. Masih sempat ia melambai pada Fei yang hanya mematung, tak tergerak sedikit pun untuk sekadar membimbing tangannya memanjat pick-up.
“Kuucapkan selamat bertugas, Mr. Jutek. Oh, ya, jangan lupa, sesekali arahkan kameramu padaku. Buletin kalian butuh penyegaran, bosan juga kan terus-menerus memasang tampang pejabat?”
Ya! Satu sama! Senyum puas Via terkembang, saat melihat wajah Fei yang kembali mendengus. Roda bergerak, meninggalkan dermaga yang berangsur sepi, dengan hanya satu-satunya kapal navigasi yang bersandar. Pun satu-satunya kapal yang akan membawa rombongan kembali ke Bintan sehari sesudahnya.
Pak.. pak... pak... dung.. tra... ra... ram...! Tabuhan gendang berirama rancak meningkahi lincah gerak empat pasang penari, pertanda acara penyambutan telah dibuka dengan tarian Persembahan. Via sejenak memutar mata, menemukan sudut strategis, meja prasmanan!
Semilir sejuk menerpa. Via mendongak. Matanya memicing silau oleh panas terik sang surya, tak terhalang oleh naungan atap tenda, dan panas suhunya seakan mampu menguliti kulit kepala. Ini tidak mungkin. Via mendesah, seraya memegangi tengkuknya. Tengkuk yang mulai dirambati sejuk yang aneh.
“Kau... kenapa mengikutiku?”
“Aku tidak mengikutimu. Aku hanya ingin mengucap selamat datang, akhirnya kau sudi mengunjungiku.”