Baginya, seorang musikus tidak seharusnya membatasi musiknya untuk kelompok audiensi tertentu. Dan ini adalah langkah awalnya memperkenalkan musik klasik kepada pangsa pasar yang lebih luas di Indonesia. Jatuh cinta pada musik klasik sejak usia tiga tahun, ia menyayangkan bahwa musik klasik belum dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Ini adalah musik yang bagus. Saya ingin orang-orang yang belum pernah mendengar nama Ludwig van Beethoven atau Johann Sebastian Bach memiliki akses terhadap karya-karya mereka,” ungkap Issi. Menurutnya, mendengarkan Beethoven atau Bach tak hanya membuat kita terikat dengan musiknya secara emosional, tapi juga merangsang sisi intelektual seseorang.
“Karena itu, saya ingin menjadi public figure agar saya dapat membuat mereka tertarik pada jenis musik ini, kemudian mau mendengarkannya,” lanjut penyuka olahraga renang dan weight training ini.
Keterbukaannya terhadap berbagai jenis musik bukan omong kosong belaka. Di playlist smartphone-nya, kita dapat menemukan lagu Mirrors dari Justin Timberlake, OST Lion King, lagu-lagu dari band 30 Seconds to Mars, versi instrumental lagu Melati dari Jayagiri yang dibawakan oleh Idris Sardi, hingga Violin Concerta karya Jean Sibelius, komposer kenamaan Finlandia. Bahkan, di Jerman ia juga punya grup trio bernama CAYAO yang memainkan musik tango. Tahun lalu, trio yang terdiri dari dirinya, Jarkko Riihimäki (piano), dan Ander Perrino (contra bass) ini sudah merilis album perdana berjudul Tango Fuego.
Khusus untuk pasar Indonesia, Issi juga menulis sebuah lagu berjudul Burn yang ia rilis pada tahun 2013. Berbeda dari dua album solonya, Bach ‘N’ Blues (2011) dan Precious Refuge (2014), yang mengusung musik klasik, sentuhan kontemporer kental terasa dalam lagu ini.
“Ini satu-satunya lagu yang bisa diunduh dengan gratis. Saya membatasi karya yang tersedia online,” ujarnya. Issi beranggapan bahwa keindahan musik klasik lebih tepat dinikmati secara langsung. “Anda harus berada di area konser untuk bisa benar-benar menghayati dan menikmatinya,” paparnya.
Eka Januwati