Celebrity
Iskandar Widjaja: Musikus Klasik Bergaya Pop

28 Dec 2015

Publik Indonesia mengenal Iskandar Widjaja (29) ketika ia menjadi model iklan dan brand ambassador sebuah merek kopi di akhir tahun 2012. Postur tubuh tegap setinggi 183 cm, serta wajah berkarakter kuat, campuran darah Tionghoa peranakan dari pihak ibu dan Belanda-Arab-Maluku dari pihak ayah, langsung mencuri perhatian. Ditambah gayanya yang membumi dan easy going, sangat mudah baginya untuk merebut hati pangsa pasar anak muda Indonesia.
   
Sebagai violinist yang telah mendapatkan reputasi terhormat di lingkaran elite musik klasik Eropa, pria yang akrab disapa Issi ini memang punya cara unik dalam mendekati penikmat musik. Tak membatasi diri membawakan repertoire klasik, Issi kerap menggelar show bergaya kasual dengan beragam jenis musik, dari pop hingga tango.
   
Baginya, seorang musikus tidak seharusnya membatasi musiknya untuk kelompok audiensi tertentu. Dan ini adalah langkah awalnya memperkenalkan musik klasik kepada pangsa pasar yang lebih luas di Indonesia. Jatuh cinta pada musik klasik sejak usia tiga tahun, ia menyayangkan bahwa musik klasik belum dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

“Ini adalah musik yang bagus. Saya ingin orang-orang yang belum pernah mendengar nama Ludwig van Beethoven atau Johann Sebastian Bach memiliki akses terhadap karya-karya mereka,” ungkap Issi. Menurutnya, mendengarkan Beethoven atau Bach tak hanya membuat kita terikat dengan musiknya secara emosional, tapi juga merangsang sisi intelektual seseorang.

“Karena itu, saya ingin menjadi public figure agar saya dapat membuat mereka tertarik pada jenis musik ini, kemudian mau mendengarkannya,” lanjut penyuka olahraga renang dan weight training ini.
Advertisement
   
Keterbukaannya terhadap berbagai jenis musik bukan omong kosong belaka. Di playlist smartphone-nya, kita dapat menemukan lagu Mirrors dari Justin Timberlake, OST Lion King, lagu-lagu dari band 30 Seconds to Mars, versi instrumental lagu Melati dari Jayagiri yang dibawakan oleh Idris Sardi, hingga Violin Concerta karya Jean Sibelius, komposer kenamaan Finlandia. Bahkan, di Jerman ia juga punya grup trio bernama CAYAO yang memainkan musik tango. Tahun lalu, trio yang terdiri dari dirinya, Jarkko Riihimäki (piano), dan Ander Perrino (contra bass) ini sudah merilis album perdana berjudul Tango Fuego.
   
Khusus untuk pasar Indonesia, Issi juga menulis sebuah lagu berjudul Burn yang ia rilis pada tahun 2013. Berbeda dari dua album solonya, Bach ‘N’ Blues (2011) dan Precious Refuge (2014), yang mengusung musik klasik, sentuhan kontemporer kental terasa dalam lagu ini.

“Ini satu-satunya lagu yang bisa diunduh dengan gratis. Saya membatasi karya yang tersedia online,” ujarnya. Issi beranggapan bahwa keindahan musik klasik lebih tepat dinikmati secara langsung. “Anda harus berada di area konser untuk bisa benar-benar menghayati dan menikmatinya,” paparnya.

Eka Januwati




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?