Reksa dana adalah semacam wadah tempat menghimpun dana dari masyarakat yang selanjutnya akan diinvestasikan ke pasar modal oleh manajer investasi. Secara umum, ada 4 jenis reksa dana, yaitu reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana saham. “Bagi investor awam yang ingin berinvestasi di pasar modal tetapi memiliki keterbatasan waktu dan keahlian, bisa melakukannya lewat reksa dana yang dikelola oleh pihak yang ahli, yaitu manajer investasi,” ujar Rudiyanto, Head of Operation and Business Development Panin Asset Management
Lalu, bagaimana caranya agar reksa dana bisa memberikan hasil maksimal? “Lihat kinerja manajer investasinya. Saran saya, pilih yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan memiliki track record yang bagus selama lima tahun tersebut,” saran Indra. Cara melihat track record adalah dengan melihat prospektif masing-masing reksa dana sebelum memutuskan untuk bergabung. Di prospektif itu akan terlihat kinerja reksa dana per bulan sampai per tahun. “Lalu, bandingkan juga dengan kinerja IHSG,” tambah Indra Hadiwijaya, Financial Planner.
Masing-masing reksa dana akan mengeluarkan NAB tiap hari, dan inilah yang harus dipantau, sebaiknya 3-6 bulan sekali. Bisa dipantau secara online maupun di koran-koran bisnis dan keuangan yang menerbitkan NAB tiap hari.
Menurut Liza Lavina, Senior Vice President Intermediary Business at Schroders , agar reksa dana menguntungkan, harus dilihat dulu profil investasi reksa dana yang diinginkan dengan risiko dan kebutuhan (tujuan dan jangka waktu investasi). “Lebih baik berinvestasi reksa dana secara berkala, yaitu melakukan investasi secara kecil dan teratur, karena dengan begitu Anda bisa menikmati keuntungan dari naik turunnya investasi sesuai kondisi pasar,” katanya.
Ketika harga reksa dana yang biasa Anda beli sedang turun, uang yang Anda miliki bisa digunakan untuk membeli lebih banyak lagi unit reksa dana tersebut. Dan sebaliknya, membeli sedikit ketika harga sedang naik. Keuntungan lain adalah biaya keseluruhan dari investasi secara berkala juga bisa lebih rendah seiring waktu karena mungkin saja Anda membeli pada saat harga sedang murah. “Inilah yang disebut cost averaging,” kata Liza.
Karena sekarang nasabah bisa membeli reksa dana lewat bank, maka nasabah juga bisa memilih jenis dan produk reksa dana unggulan yang sesuai dengan profil risiko dan jangka waktu investasi nasabah dari berbagai manajer investasi yang bekerja sama dengan bank.
Lalu, bagaimana saat reksa dana tersebut nilainya sedang turun? Pantau dulu kerugiannya dalam jangka waktu berapa lama. Bila investasi untuk pensiun 25 tahun yang akan datang, fluktuasi di jangka pendek masih tidak masalah karena masih punya 25 tahun untuk recovery. “Beda bila dana tersebut untuk dana pendidikan anak 3 tahun mendatang. Ini harus diwaspadai,” saran Indra.
Saat ada fluktuasi memang harus di-counter dengan mencari solusi. Kalau kira-kira hanya gejolak sementara, bisa di-counter dengan menambah dana. “Misal, dari 1 juta/bulan jadi 1,2 juta/bulan. Dengan penambahan dana ini dimungkinkan untuk mengejar pertumbuhan investasi seperti yang diinginkan. Atau, bisa juga dipindahkan portofolionya, dari yang jelek dipindah ke yang bagus,” kata Indra. Karena itu, investor memang harus rajin membaca berbagai media massa untuk tahu kondisi situasi ekonomi dan kebijakan pemerintah yang sangat berpengaruh terhadap kinerja investasi raksa dana.
Rudiyanto menambahkan, ketika evaluasi, selain melihat pengaruh kondisi pasar yang tidak kondusif, juga perlu dilihat kinerja reksa dana yang kita miliki itu apakah berlawanan dengan harga pasar. Misalnya, ketika harga saham secara umum naik, kinerja reksa dana kita malah turun. “Kalau karena kondisi pasar, maka lebih baik investor meneruskan investasinya, karena hal tersebut merupakan bagian dari risiko yang harus diterima ketika investasi di pasar modal,” katanya.
Tapi, jika yang terjadi adalah kondisi kedua dan terjadi selama bertahun-tahun, tidak boleh panik. Hal ini membuat investor bisa mempertimbangkan alternatif reksa dana lain, karena artinya investasi tersebut kurang oke. (f)