Saya bercerai dari suami dua tahun lalu. Kami memiliki anak berusia 3 tahun. Saat ini saya kembali kencan dengan seorang pria. Ia tahu status saya. Saya tak ingin terburu-buru dan membuat target untuk menikah lagi karena masih ingin menata hidup kembali. Saya juga masih trauma dengan pernikahan. Tepatkah pertimbangan saya? Bagaimana saya mengenalkan kekasih kepada anak saya?
Sandra – Semarang
Menurut Psikolog Irma Makarim, ketika pasangan menyadari bahwa perkawinannya memang tak lagi bisa dipertahankan, dan jalan keluar lain mengalami kebuntuan, perceraian sulit dihindari. Dapat dimengerti bila kegagalan dalam perkawinan meninggalkan trauma yang cukup dalam, tetapi alangkah baiknya bila Anda bisa mengambil pelajaran yang berharga dari pengalaman itu, sehingga bisa lebih berhati-hati di kemudian hari. Mungkin tak mudah mencerna serta menerima semua ini, tetapi kehidupan berjalan terus, Anda dan anak harus melanjutkan hidup.
Perceraian orang tua membawa perubahan besar dalam kehidupan anak di usia dini. Tak mudah bagi seorang anak balita untuk memahami perpisahan orang tuanya dan mengalami ketidakhadiran salah satu di antara mereka. Ia butuh waktu dan bantuan Anda sebagai ibunya untuk memahami semua ini. Sebaiknya Anda memberi waktu bagi anak untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan, sebelum Anda membangun rumah tangga baru.
Keputusan Anda untuk tidak terburu-buru menentukan target menikah kembali adalah langkah yang bijaksana. Memang sebaiknya semua diputuskan setelah melalui pertimbangan matang. Kehidupan baru juga akan melibatkan anak Anda yang masih berusia dini. Karena itu, bukan hanya kesiapan Anda, anak juga perlu mengenal dan menerima calon Anda.
Sedangkan menurut Psikolog Monty Satiadarmda, jika Anda memang ingin menata hidup dengan lebih baik, sebaiknya memang tidak terburu-buru. Jika Anda tidak terburu-buru untuk menikah kembali, sebaiknya juga tidak buru-buru mencari kencan baru dan memperkenalkannya kepada anggota keluarga.
Terlepas dari masalah Anda dengan mantan suami, anak tentu masih merasa kehilangan ayah. Selain itu, ia juga mungkin mengharapkan kembalinya sosok ayah. Akan tetapi, Anda perlu waspada, anak juga tengah menata kembali hidupnya setelah tidak lagi bersama ayah. Ia membutuhkan perhatian Anda, dan manakala hadir orang lain bersama Anda, akan muncul rasa terancam kehilangan kasih sayang Anda.
Jika Anda bersama orang lain dan anak menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih sensitif, hal tersebut merupakan protes terselubung agar Anda tak bersama orang lain. Sebaliknya, jika anak seolah-olah tak peduli, jangan pula Anda menganggapnya tidak memberi respons karena mungkin ia bersikap diam sebagai bentuk rasa ketidakberdayaan.
Hindari bersikap romantis di hadapan anak. Pertahankan pola hubungan formal dan sebaliknya calon pendamping Anda bersedia memberi perhatian pada anak. Ia harus waspada bahwa anak adakalanya tidak serta-merta menerima dirinya, dan anak mengawali langkah dengan menghindar, enggan didekati. Ia harus sabar melakukan pendekatan pada anak Anda. Kalaupun kelak ia memang menjadi pendamping Anda, ia harus menjadi sosok ayah yang sabar dan penuh perhatian, juga menerima keberadaan anak Anda. Ragam pertimbangan ini membutuhkan waktu dan semoga Anda tidak terburu-buru seperti halnya niat Anda sendiri.(f)