Memiliki anak merupakan salah satu rencana masa depan mereka. Bahkan, hal ini sempat membuat Yani resah, meskipun baru lima bulan menikah. “Gimana enggak resah, tiap kali bertemu orang, yang ditanyakan pasti, ‘Sudah isi belum?’ Apalagi, Papa juga sudah terus-terusan menanyakan, kok, saya belum hamil. Padahal, Papa itu orang yang cenderung cuek,” tutur Yani, mengungkapkan kegelisahannya.
Meski berusia enam tahun lebih muda daripada Yani, Arki tergolong lebih dewasa dalam hal perencanaan masa depan. “Sebelum berpacaran dengan Arki, saya itu tidak bisa menabung. Begitu dapat uang, belanja. Ha...ha...ha.... Sejak kecil, saya melihat orang tua saya memberi contoh, jika menginginkan sesuatu, belilah. Uang bisa dicari lagi nanti,” papar Yani.
Namun, ketika hubungan mereka melangkah ke arah yang lebih serius, Yani pun ‘dipaksa’ untuk lebih memperhatikan kondisi dan perencanaan keuangan dirinya. “Menikah itu kan tidak murah. Bukan hanya pestanya, tapi juga kehidupan setelahnya, mulai dari mobil, rumah, hingga menyiapkan investasi untuk masa tidak produktif,” tutur Arki. Sekarang, baru ada satu rencana yang berhasil mereka wujudkan, yakni membeli mobil.
Kedewasaan Arki itulah yang membuat Yani kagum dan yakin terhadap pria pilihannya ini. Ia merasa, Arki dapat mengarahkannya menjadi seseorang yang lebih baik. “Awalnya saya sempat ragu karena ia lebih muda. Sebelumnya, saya juga pernah memiliki kekasih yang usianya dua tahun lebih muda daripada saya. Hubungan kami tidak berhasil karena ia masih kekanak-kanakan. Jadi, saya sempat skeptis terhadap pria lebih muda. Namun ternyata, Arki berbeda,” ungkap Yani, berbinar-binar.
Persamaan-persamaan di antara mereka pun makin menyatukan keduanya, mulai dari cara berpikir yang open minded hingga kegemaran berolahraga. Jika tiap pagi pasangan lain mendiskusikan agenda bekerja mereka, Yani dan Arki juga berdiskusi mengenai kegiatan olahraga mereka pada hari itu. Sebagai presenter olahraga, Yani memang tak hanya fasih membicarakan olahraga, tapi juga gemar mencoba berbagai jenis olahraga.
Berkenalan ketika Yani sedang meliput pertandingan Indonesia Basketball League (IBL) dan harus mewawancarai Arki yang sedang bertanding pada tahun 2012, hubungan mereka berawal dari pertemanan. Arki yang belum lama tinggal di Indonesia, merasa menemukan teman dalam diri Yani yang humble, easy going, atraktif, dan asyik diajak ngobrol mengenai olahraga.
Saat mereka berbulan madu ke Eropa, contohnya. Jika Arki lebih senang menikmati pemandangan dengan duduk-duduk dan meresapi keindahan di sekelilingnya, Yani justru tak mau kehilangan momen dengan asyik berfoto-foto. “Dia tipe yang jika sudah punya satu tujuan, dia akan fokus menuju tujuan itu. Sedangkan saya akan sering berhenti karena menemukan spot menarik untuk berfoto-foto. Untungnya, meski sempat merasa sebal, Arki memaklumi hal itu dan menuruti kemauan saya untuk berfoto,” jelasnya.
Di sisi lain, walaupun Arki cenderung cermat dalam mengelola keuangan, ketika berlibur Arki justru cenderung longgar dalam hal ini. “Sewaktu di Venice, Italia, saya ingin sekali naik perahu menyusuri Venice. Tapi, melihat harganya yang mahal, saya sempat mengurungan niat. Namun Arki bilang, ‘Kita sudah di sini, sayang kalau tidak naik. Uang bisa dicari, tapi kenangan belum tentu bisa diulang,’” tutur Yani.
Terlepas dari perbedaan itu, Arki sangat memuja Yani. “Yani adalah backbone saya. Dia selalu mendukung apa pun yang saya lakukan, mencintai dan mengurusi saya serta melakukan apa pun yang terbaik bagi pernikahan kami,” katanya.
Menurut Arki, komunikasi yang baik menjadi kunci bagi keduanya. “Kami selalu saling menceritakan semua hal yang kami alami dan cara kami memandang sesuatu itu ternyata sangat mirip,” sambungnya, sambil mengatakan, makin bertambah waktu, chemistry yang terbangun di antara mereka berdua makin kuat.
EKA JANUWATI