Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang pertama kali ditemukan di Arab Saudi tahun 2012 kembali menjadi outbreak Mei lalu di Korea Selatan. Menurut WHO, hingga 30 Juni tercatat ada 184 orang yang terinfeksi MERS-CoV dan sebanyak 32 orang di antaranya meninggal dunia. Kebanyakan mereka yang meninggal adalah pasien lansia berusia 55 tahun ke atas dan memiliki penyakit lain, terutama penyakit paru kronis, gagal ginjal, dan gangguan jantung.
Penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus novel corona (MERS-CoV) ini disinyalir menular pada manusia lewat unta. Waktu inkubasi (waktu masuknya kuman hingga munculnya gejala) 14 hari. Mereka yang terinfeksi akan mengalami demam, batuk, dan napas pendek.
Merebaknya MERS di Korea Selatan jadi peringatan agar negara-negara di dunia bersiap menghadapi kemungkinan penyebaran MERS-CoV, termasuk Indonesia. Meski belum ada wisatawan asing yang datang ke Korea Selatan mengalami infeksi, tak pelak industri wisata Korea Selatan terpukul oleh MERS. Kabarnya, 130.000 wisatawan membatalkan perjalanan ke Korea Selatan.
Guna menekan kerugian lebih lanjut, pemerintah Korea Selatan mempermudah persyaratan visa atau membebaskan biaya visa bagi wisatawan asing, termasuk Indonesia. Dalam siaran pers, Kementerian Kehakiman Korea Selatan menyampaikan, visa yang sudah diterbitkan dan diterima, akan diperpanjang selama tiga bulan pada musim liburan yang dimulai bulan Juli sampai Agustus.
Untuk mencegah tertular penyakit ini, dr. Pompini menyarankan agar mengenakan masker saat bepergian ke daerah endemik. Tidak hanya Korea Selatan yang saat ini sedang mengalami endemik, tapi juga saat melakukan ibadah umrah di Arab Saudi. Sebelum umrah, kontrol ke dokter untuk memeriksakan kesehatan.
Saat umrah, hindari kontak dengan unta sakit yang bisa menjadi perantara (reservoir) virus. Jangan mengonsumsi daging unta yang tidak dimasak matang, tingkatkan daya tahan tubuh, dan hindari kontak dengan penderita MERS.
(f)