Trending Topic
Harus Eksis, Dong!

18 Sep 2014


Sebelum ada media sosial, mungkin hanya orang-orang tertentu yang tahu bahwa kita sudah pernah mengunjungi negara A, menonton film B, atau pergi ke Singapura untuk menonton konser artis C. Sekarang? Tak perlu repot bertemu atau menelepon, cukup post foto atau status bahwa kita sedang ada di kafe A, seluruh teman (bahkan temannya teman dan tak tertutup juga publik yang lebih luas) mengetahui aktivitas kita itu. Keren. Perkembangan teknologi komunikasi mengubah pola komunikasi masyarakat modern.  

“Pola komunikasi baru inilah yang diserap oleh semua pengikutnya. Sebagai contoh, ketika kita menemukan satu tempat baru yang asyik, kita tidak lagi mempromosikan lewat mulut ke mulut, tetapi cukup update status di media sosial,” ungkap dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Nina Mutmainnah Armando.  Melalui status yang bersifat pribadi --sebenarnya tidak layak untuk konsumsi publik-- tetap saja ditampilkan. Orang tidak tahu lagi batas atau pada level komunikasi yang mana dia berbicara.  Yang penting eksis!   

Asep Haerul Gani, Senior Psychologist & Psychotherapist Kasandra & Associates, mengungkapkan bahwa hasrat posting di media sosial tentang apa pun merupakan salah satu kecenderungan narsis  alias suka pada dirinya sendiri. “Menariknya, kecenderungan ini menghinggapi semua orang, tanpa batas usia, gender, status ekonomi, dan sebagainya. Media sosial memberikan ruang untuk menunjukkan ‘inilah saya’, walaupun bisa jadi image yang ditampilkan bukanlah dirinya sendiri,” tambah Nina.    
Advertisement

Asep menambahkan, eksistensi atau merasa berharga di hadapan orang lain termasuk dalam salah satu kebutuhan psikologi manusia. “Di media sosial, orang yang takut tidak eksis seakan menemukan alat sakti yang dapat menjadi wakil dirinya untuk selalu berada dalam momen yang dipandang penting,” papar Asep. Melalui update status, diharapkan orang lain akan berpikir bahwa dirinya melakukan hal yang berharga dan bermanfaat.

Melalui media sosial, ia juga dapat mengetahui apa yang sedang dan telah dilakukan oleh teman, kolega, komunitas, atau orang-orang yang ingin dipengaruhinya. “Berbekal informasi itu, ia lalu memutuskan untuk memperbarui berita atau informasi yang dipandang sepadan atau melampaui berita terkini dari orang lain,” jelasnya lagi.

Rully Larasati




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?