Sex & Relationship
Hadapi Konsekuensinya

18 Dec 2013


Membangun rumah tangga baru dari puing-puing reruntuhan akibat perselingkuhan tak semudah ketika seseorang bercerai secara baik-baik. Bagaimanapun juga, mereka yang berselingkuh akan mendapat tekanan lebih besar dari keluarga, lingkungan sosial, maupun lingkungan profesional mereka. 

Dijelaskan Adriana Ginanjar, Psikolog dan konselor perkawinan, di budaya Indonesia, seorang pria yang berselingkuh masih bisa dimaklumi oleh lingkungannya. Lain halnya dengan wanita. Wanita dianggap tidak lazim untuk berselingkuh. Mereka yang ketahuan selingkuh akan mendapat stigma negatif sebagai wanita perusak rumah tangga. Tidak mudah menghilangkan citra buruk tersebut.

Sudah menjadi tradisi, pasangan yang menikah tak hanya berarti mengikat hubungan diantar keduanya, lebih dari itu adalah adanya pertalian yang erat dengan keluarga. Akibatnya, tak bisa dihindari lagi ketika seseorang bercerai karena alasan selingkuh ia akan mendapat kecaman dari keluarganya. Tak mengherankan jika ia pada akhirnya dikucilkan oleh keluarga besarnya.
Banyak orang tua yang tidak terima jika anaknya berselingkuh dan menikah lagi, karena menganggap hal tersebut sebagai aib yang mempermalukan keluarga.  “Apalagi jika orang tua mereka menjalin relasi yang baik dengan keluarga mantan istrinya,” kata Adriana.

Konsekuensi bagi pasangan yang berselingkuh, nyatanya tak datang dari lingkungan saja. Masalah terburuk justru bisa saja timbul dari dalam diri mereka. Seperti bom waktu, pasangan mereka yang berselingkuh rentan terserang kecemasan berlebihan. Menurut Adriana, ada kecenderungan pasangan yang berselingkuh merasa khawatir pasangannya akan mengulangi perselingkuhan seperti yang telah mereka lakukan.
Advertisement

“Menikah dengan orang yang cenderung lari dari masalah akan lebih rentan untuk bercerai lagi,” Adriana mengingatkan.  
Memutuskan untuk membangun pernikahan kedua yang diawali perselingkuhan nyatanya memang sebuah paket yang kompleks. Itulah sebabnya, cinta saja tak cukup. “Agar sebuah hubungan dapat lebih kuat, fondasi pernikahan ideal harus memiliki passion, intimacy, dan komitmen,” papar Adriana.

Cinta memang tidak bisa dilihat berdasarkan kualitas pribadi saja, namun seberapa besar kesiapan mental pasangan menghadapi realitas masalah pernikahan yang akan terjadi di kemudian hari. Ketika Anda memilih untuk melanjutkan hubungan ‘terlarang’ tersebut hingga ke pernikahan berarti Anda benar-benar harsu berkomitmen untuk membuat pernikahan yang kuat.
   
Tak bisa dipungkiri, ketika pilihan sudah ditetapkan Anda harus memiliki mental baja untuk menghadapi tekanan dari sanksi sosial. Anda juga harus punya kesabaran ekstra untuk menghadapi mantan suami atau istri yang masih menyimpan dendam. Jangan pikirkan diri Anda sendiri, tapi juga anak-anak yang telah terluka akibat perceraian yang terjadi.  Satu hal yang tak kalah penting, kesiapan finansial yang besar untuk menghidupi dua keluarga. Siapkah Anda dengan pilihan ini?  




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?