Wina lalu menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang baik seharusnya didorong oleh produksi, bukan konsumsi. “Kita akan memasuki golden era dari bonus demografi di tahun 2020. Puncaknya adalah tahun 2030. Di masa itu, kelompok usia produktif di Indonesia didominasi oleh generasi millennial. Merekalah yang akan jadi tulang punggung perekonomian bangsa ini,” ujar Wina.
Masyarakat Indonesia mungkin memang perlu berterima kasih kepada generasi millennial kelas menengah perkotaan ini. Karena, tingkat konsumsi mereka yang tinggi secara positif berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. “Perekonomian kita tidak turun terlalu dalam karena pola konsumsi generasi millennial kelas menengah perkotaan ini. Sifat impulsif mereka di satu sisi memang tidak terlalu baik, namun di sisi lain membuat roda perekonomian di negara ini terus berputar,” ungkap Martin.
Di sisi lain, Wina juga mengutarakan pentingnya meningkatkan financial literacy. “Dengan memperhatikan value for money ketika membeli barang, kita sudah menjadi smart shopper. Yang sekarang perlu kita lakukan adalah menjadi smart investor. Kesadaran berinvestasi juga perlu dibarengi dengan pemahaman dan pemilihan produk investasi yang tepat sesuai dengan tujuan-tujuan investasinya."
Martin juga berujar, produktivitas tidak selalu terkait dengan investasi maupun kewirausahaan. Sebagai karyawan, kita dapat meningkatkan produktivitas dengan menggunakan gadget yang kita miliki untuk lebih produktif bekerja. “Aspek ingin show off ketika membeli gadget memang tidak bisa hilang, ini disebut dengan veblen effect. Tapi, setidaknya kita dapat memaksimalkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan performa kerja." (f)
Baca Juga:
Gaya Millenial Berbelanja
Generasi Millenial Suka Produk Lokal?