Dua sahabat ini tampak sibuk dalam perbincangan akrab, sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di depan pintu gerbang sebuah rumah besar bertingkat. Rumah besar dan mewah itu dijaga seorang petugas keamanan, yang duduk di pos kecil dekat pintu gerbang.
Mirah membunyikan klakson mobilnya, membuat petugas keamanan itu menoleh. Ketika mengenali Mirah, si petugas keamanan segera berlari menghampiri, sambil menekan tombol remote control pembuka gerbang. Gerbang pun terbuka secara otomatis. “Mobilnya mau dimasukkan ke garasi, Non?” petugas keamanan bernama Parman itu bertanya.
“Tidak usah,” Mirah menggeleng. “Kami cuma sebentar.”
Mirah memarkir mobilnya tepat di depan pintu garasi. Setelah mematikan mesin, ia mengajak Devina masuk.
“Sepi sekali,” gumam Mirah, seakan bicara pada diri sendiri. “Jangan-jangan Mami dan Sultan sedang keluar.”
“Tidak, Non,” Parman menyahut. “Ibu Fatimah ada di dalam.”
Bu Fatimah ibu kandung Mirah, yang ditinggal meninggal ayahnya 10 tahun lalu, sedangkan Sultan satu-satunya kakak Mirah.
“Non Vivian juga ada di dalam, Non. Bersama Pak Romeo.”
“Dia lagi?” Mirah membelalak sebal, mendengar nama Vivian disebut. Ia tidak pernah menyukai Vivian, kekasih Sultan.
“Iya, Non. Mereka semua sedang berada di taman belakang,” Parman jadi agak gugup, melihat wajah Mirah berubah kecut.
“Rumahmu ini terlalu besar, Mir. Biarpun sedang kedatangan beberapa orang tamu sekaligus, tetap saja akan kelihatan sepi.” Devina sengaja memberi komentar, agar Mirah tidak terlalu cemberut. Padahal, ia sendiri sebenarnya agak berdebar, bercampur cemburu, mendengar nama Vivian Chung disebut.
“Harusnya, setelah menikah, kamu jangan pindah rumah,” kata Devina, lagi. “Kasihan mamimu. Pasti kesepian.”
“Aku, sih, maunya begitu,” Mirah berkata dengan nada setengah menyesal. “Tapi, kamu tahu sendiri adat suamiku. Dia tidak mau tinggal bareng Mami dan Sultan. Takut dikira mendompleng mertua. Makanya, Dev, cepat kamu gaet Sultan. Biar mamiku punya teman ngobrol,” Mirah menggoda.
Sepasang pipi halus Devina merona merah.
“Sejak dulu aku sudah berusaha menjodohkanmu dengan Sultan. Tapi, kamu terlalu pemalu, sih,” kata Mirah, kesal.
Devina menghela napas panjang. Ia mengerti, Mirah dan Nyonya Fatimah selalu berusaha menjodohkan dirinya dengan Sultan, setiap kali ia bertandang ke rumah megah milik Mirah ini. Sultan memang sempat memperlihatkan rasa suka terhadap dirinya. Kalau saja Devina tidak terlalu malu untuk menyambut perhatian Sultan....
Kini, segalanya sudah terlambat. Sejak setahun lalu, Sultan berpacaran dengan Vivian Chung, gadis keturunan Tionghoa, putri pengusaha kayu kaya. Vivian merupakan teman sekolah Romeo Indrajaya Kusuma, mitra usaha Sultan.
“Aku cari Mami dulu,” kata Mirah, sambil mempersilakan Devina duduk, lalu berlari ke ruang dalam untuk menemui ibunya.
“Mami!” Mirah berseru, saat ibunya keluar dari ruang dalam.
“Mirah! Kamu, kok, tidak datang selama satu bulan ini?” Nyonya Fatimah melotot sayang, sambil mencubit pipi putri bungsunya.
“Sibuk, Mi,” Mirah menjawab, sambil menggelayut manja di bahu ibunya. Sesekali, ia mencium pipi ibunya, yang masih tetap terlihat cantik, meski telah berusia lebih dari setengah abad.
Devina kadang-kadang iri terhadap Mirah. Nasib Devina memang tidak seberuntung Mirah. Walau Devina juga merupakan keturunan dari keluarga intelek, orang tuanya tidak semapan orang tua Mirah. Ayah Devina pada mulanya pengusaha timah cukup berhasil. Tapi, usahanya bangkrut, ketika Devina lahir. Celakanya, kebangkrutan itu membuat ayah Devina jadi seperti orang linglung, yang tak lagi mau bekerja. Mau tak mau, ibu Devina yang kemudian membanting tulang untuk mencari nafkah. Beliau berdagang ketoprak untuk menghidupi suami dan ketiga anaknya.
Beruntung, adik laki-laki ibu Devina memiliki kehidupan cukup mapan. Paman Devina itu bersedia menyekolahkan Devina dan kakaknya sampai tamat SMA. Kini, Devina dan kakaknya sudah bekerja dan dapat memberikan bantuan materi pada orang tua mereka. Namun, tetap saja kehidupan masih terasa keras dan harus dipenuhi oleh perjuangan, jika dibandingkan kehidupan Mirah yang serba nyaman dan terjamin.
Mendiang ayah Mirah adalah pengusaha barang antik cukup sukses. Selain memperjualbelikan barang antik asli dengan harga sangat tinggi, beliau juga memiliki pabrik, yang memproduksi replika barang-barang antik tersebut. Ketika beliau meninggal, Nyonya Fatimahlah yang meneruskan usaha suaminya. Setelah Sultan dewasa, Sultan pun ikut membantu.
Hal itu membuat Mirah tak pernah harus merasa khawatir akan hidup kekurangan. Bahkan, gadis itu tidak mempersoalkan kuliahnya, yang terpaksa putus di tengah jalan karena keburu menikah. Hanya, ia kini tinggal bersama suaminya, yang tidak memiliki rumah semewah miliknya. Meski begitu, pasangan pengantin baru itu tak kekurangan, karena bisnis barang pecah belah milik David cukup berhasil dan mampu menyokong hidup mereka.
“Ah... kamu kan tidak kuliah, tidak kerja, sibuk apa?” Nyonya Fatimah berpura-pura mengomel.
“Aduh, Mami, kok, nggak percaya! Mirah memang sibuk, Mi. Sekarang Mirah ambil kursus masak, bikin kue, kursus menata rumah, macam-macam, deh, Mi. Mirah kan sudah jadi ibu rumah tangga.”
Devina tersenyum melihat perdebatan itu Ia baru berdiri dari kursinya, mengangguk sopan, saat Nyonya Fatimah melihatnya.
“Eh, Devina. Apa kabar? Duh, kok, tambah kurus?” Nyonya Fatimah menyentuh lengan Devina yang sedikit kurus. “Jangan-jangan, pekerjaanmu terlalu memeras energi, ya?”
“Nggak juga, Tante. Ini kurus dengan sendirinya, kok. Saya juga nggak tahu jelas penyebabnya,” Devina menjawab pelan.
“Dia mikirin Sultan, Mi. Soalnya, Sultan nggak buru-buru melamar, sih!” cetus Mirah, dengan suara nyaring. Wajah Devina merah padam.
“Ah, itu bisa-bisanya Mirah saja, kok,” bantah Devina.
“Mi, suruh Sultan melamar Devina, deh. Kalau Devina keburu dilamar orang, Mami bakal susah cari menantu sebaik Devina!”
Biasanya, Nyonya Fatimah akan menanggapi dengan bersemangat, jika Mirah menjodoh-jodohkan Devina dengan Sultan. Tapi, kali ini ia terduduk lesu. Ada kemurungan terlukis di wajahnya. Devina dan Mirah bertukar pandang.
“Kenapa, Mi?” tanya Mirah, bingung.
Nyonya Fatimah menghela napas panjang. Ia menatap Devina dengan tatapan penyesalan dan kasih sayang. “Dari dulu Tante selalu berharap kamu yang jadi menantu Tante. Tapi, sekarang....”
Jantung Devina berdebar. Hatinya meraba-raba maksud ucapan ibu Mirah. Apakah kata-kata itu merupakan pertanda bahwa peluangnya untuk jadi kekasih Sultan telah berakhir? Ataukah…?
“Sekarang kenapa, Tante?” Devina akhirnya tak dapat menahan diri. Sesaat ia sadar bahwa pertanyaannya itu telah mengungkapkan perasaannya secara tak langsung. Tapi, ia tak peduli lagi. Ucapan Nyonya Fatimah yang terpotong itu, entah kenapa, dirasakannya seperti vonis yang menyatakan bahwa ia tak memiliki harapan lagi untuk menjadi istri Sultan.
“Sekarang semua sudah terlambat.” kata Nyonya Fatimah, dengan suara sesak. “Sebentar lagi Sultan akan menikah dengan Vivian.”
Sepasang mata Mirah membelalak. Nyonya Fatimah mengangkat alis, sambil membuang napas. Ia tampak enggan menganggukkan kepalanya dan membenarkan pertanyaan putrinya.
“Kapan rencana ini pertama kali tercetus, Mi?”
“Dua minggu lalu,” jawab Nyonya Fatimah. “Sepertinya, Sultan sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, tanpa memberi tahu Mami. Tahu-tahu, dia sudah pesan tempat di hotel dan sekarang sibuk menyiapkan undangan.”
Devina terenyak lemas di kursi. Dugaannya tadi sangat tepat. Harapannya untuk bersanding dengan Sultan di pelaminan sirna sudah.
“Sekarang Sultan di mana, Mi?” tanya Mirah.
“Kamu mau apa?” Nyonya Fatimah yang sudah kenal betul sifat putrinya itu, tak segera memberitahukan. Ia tidak ingin terjadi keributan di antara kedua anaknya.
“Ah, dia pasti di kebun belakang! Awas, akan kumaki-maki anak bodoh itu! Masa mau nikah dengan perempuan yang genitnya minta ampun! Coba Mami bayangkan, setiap hari dia ke sini, nyamperin Sultan, tapi nggak segan-segan gelendotan sama Romeo!”
“Mirah, tunggu!” Nyonya Fatimah berusaha mencegah putrinya yang hendak melabrak Sultan. Tapi, Mirah sudah keburu ke ruang dalam, yang menembus ke taman belakang.
“Aduh, anak itu selalu saja bikin ribut!” Nyonya Fatimah panik. Dia menarik tangan Devina untuk mengejar Mirah.
“Ayo, Devina. Jangan biarkan dia membuat keributan dengan abangnya!”
“Sultan!” Mirah berkacak pinggang di beranda belakang rumahnya. Ia melotot galak melihat Sultan, yang tengah duduk santai bersama Vivian dan Romeo di patio (tempat bersantai, lengkap dengan meja dan kursi), yang dipagari oleh tanaman.
Sultan menoleh, terkejut. Tapi, ketika melihat sosok Mirah, ia tersenyum lebar. Vivian yang menggelayut manja di pundak Sultan juga ikut menoleh. Tapi, gadis cantik bermata sipit itu segera dihadiahi tatapan galak oleh Mirah.
Penulis: Itong Rahmat Hariadi