Arabika dari misalnya Bali, Toraja, dan Papua dipilih sendiri oleh pengenyam sekolah perhotelan di Australia itu. Ia merangkap roaster dan barista di Giyanti. “Minggu sampai Selasa saya enggak mau diganggu. Giyanti tutup untuk publik karena saya konsen memanggang kopi,” tukasnya. Di teras yang apik, terlihat biji kopi yang lagi dijemur. Tak salah seorang ahli kopi merekomendasikan tempat ini. Skalanya serius, dengan keberadaan yang sebagian besarnya masih diketahui kalangan jagoan kopi.
Racikan espresso dengan sensasi aroma stroberi, madu, mint atau buah lain dari proses brewing, tercipta mantap. Ketebalan crema, aroma, dan rasa kopi inilah yang meluluhkan indra cecap mereka yang ngerti kopi. Menunya minimal, hanya ada espresso, latte, black coffee, macchiato, dan cappucino. Jadi, jangan cari flavored coffee atau frappe di sini, ya...
“Hari ini kami ada apple pie,” sebut Hendrik di salah satu sesi kunjungan femina. Sang istri bertugas sebagai pembuat kue. Jenisnya suka-suka, hhmm, mungkin tergantung mood? Tapi percayalah, dari beef pie, chicken mushroom pie, apple pie, hingga cookies, semuanya enak. Ditasbihkan berjodoh dengan racikan Hendrik. (f)
Telp: (021) 31923698.
Jam buka: Rabu-Sabtu, 09.30 - 17.30 WIB.
Harga*): Rp 5.000-Rp 85.000.
Suasana: Klasik industrial.
FOTO: DOK. Giyanti Coffee Roastery
*) Harga sewaktu-waktu dapat berubah, cek sebelum bersantap.