Celebrity
Dunia Fluktuatif Kevin Aprilio

1 Apr 2015


Nama Kevin Aprillio (24) memang sudah tak asing lagi di industri musik tanah air. Bersama 4 orang musikus muda yang ia temui di media sosial Friendster, ia membentuk sebuah band bernama Vierratale (dulu Vierra) dengan single andalan Dengarkan Curhatku. Dalam sekejap, single itu sukses merajai tangga lagu musik Indonesia. Nama Kevin pun langsung melejit. Kini, putra sulung pasangan musikus papan atas Addie MS dan Memes ini tak hanya sibuk bermusik, tapi juga mulai berbisnis. Sukses mendirikan perusahaan rekaman Aprillio Kingdom, langkahnya pun kian mantap sebagai pebisnis valuta asing.

Sebuah mobil mewah merek Ferrari berwarna merah melaju pelan menyusuri kompleks perumahan di kawasan Pondok Labu, Jakarta. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah besar nan asri milik pasangan Addie dan Memes. Dari balik kemudi, seorang pria muda terlihat santai mengenakan T-shirt dan kacamata hitam. Ia tersenyum sembari  membuka kaca mobil. “Maaf sudah menunggu, ya. Saya baru saja dari bank, ada urusan menukar uang dolar,” katanya ramah, kepada femina.
   
Usia Kevin memang baru 24 tahun, tapi sosoknya terlihat lebih matang dan mandiri. Di usia semuda itu, ia sudah memiliki pencapaian membanggakan sebagai musikus, pendiri label rekaman Aprillio Kingdom, pebisnis, hingga mampu membeli mobil senilai Rp3,5 miliar dari hasil keringat sendiri.

“Mobil ini saya beli bukan dari hasil bermusik, tapi berbisnis valuta. Punya Ferrari sudah jadi cita-cita saya sejak remaja. Syukurlah, cita-cita itu bisa terwujud saat ini,” terang pria kelahiran Jakarta, 7 April 1990 ini, bangga.
   
Diakui Kevin, ketertarikan menggeluti dunia valuta asing berawal dari tawaran teman yang menjanjikan fix income setiap bulan.  Bermodal nekat, Kevin langsung mengiyakan tawaran itu dan bersedia mengeluarkan dana sebesar Rp50 juta sebagai modal awal berbisnis Forex (Foreign Exchange).

Untungnya, janji teman Kevin itu benar-benar terpenuhi. Dalam sebulan, ia  mendapatkan fix income betulan. Hal inilah yang membuat Kevin ingin lebih serius mendalami bisnis perdagangan valuta asing secara online itu. “Kok, bisa sih, hanya dengan memantau dari rumah bisa langsung dapet fix income setiap bulan? Saya pun yakin, bisnis ini akan menghasilkan keuntungan lebih besar kalau mau menekuninya lebih serius,” aku Kevin, antusias.
Advertisement

Berbekal semangat tinggi, saat itu Kevin bersikeras mempelajari semua ilmu perdagangan valuta asing. Ia pun melahap beragam bacaan yang berkaitan dengan bisnis itu. Berbagai anggapan miring soal bisnis valuta asing yang konon terlalu fluktuatif dan berisiko tinggi, tak mematahkan semangat Kevin untuk terus menggeluti bidang itu.

“Bisnis ini memang berbahaya. Uang bisa didapat dan dibuang dengan mudahnya. Makanya, saya berupaya ekstra hati-hati memainkan valuta asing,” terang Kevin yang tak setuju bila bisnis Forex ini dikategorikan sebagai permainan judi. Berdasarkan beberapa artikel yang ia baca, Kevin percaya Forex bukan termasuk judi karena dimainkan dengan penuh perhitungan. “Kalau judi, mainnya ‘kan ngasal,” cetus sulung dari 2 bersaudara ini.

Sebelum menapaki kesuksesan seperti sekarang, Kevin mengaku pernah mengalami kerugian miliaran rupiah karena salah perhitungan. Menurutnya, saat itu ia terlalu percaya kepada teman yang menjanjikan income sebesar 30% dari nominal yang Kevin keluarkan. “Sayangnya, uang itu nggak kembali. Janji keuntungan 30% hanya nol besar,” ungkap pria yang hobi nonton film ini, kesal.

Pengalaman pahit itu mengajarkan Kevin untuk lebih berhati-hati. Ia yang tadinya berbisnis sendirian, akhirnya bergabung dengan beberapa mitra agar ‘tugas’ memantau pergerakan nilai mata uang asing jadi lebih ringan dan terarah.

Sibuk jual-beli valuta asing, Kevin mengaku tak punya waktu banyak untuk bermain musik seperti dulu. Baginya saat ini, urusan bisnis terbilang lebih penting ketimbang soal musik, Kevin merasa, gairah dalam bermusik sudah tak sebesar dahulu seperti ketika baru merilis album pertama bersama Vierratale.

“Keinginan untuk berkarya di musik sih, masih ada. Tapi saya sudah tidak lagi berambisi jadi musikus andal. Saya kini lebih berpikir realistis untuk berbisnis,” ungkap pria yang pernah mengenyam bangku kuliah di Fakultas Ilmu Seni, Universitas Pelita Harapan (UPH), Jakarta ini, mantap. (f)



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?