Walau terpaksa, Andari menurut. Ahmed mulai bercerita. Nadanya tidak diangkat tinggi, dan di wajahnya tidak tersirat apa-apa, kecuali isi cerita itu sendiri. Ia bertutur layaknya seorang ahli sejarah, membeberkan fakta demi fakta, yang entah kebenarannya bisa dipercaya atau tidak.
Tahun yang dipilihnya adalah 1968, saat Israel pertama kali menyerang Lebanon demi mengusir kekuatan Palestina dari Beirut. Ditunjuknya potongan surat kabar yang terpampang di dinding, direkatkan oleh potongan isolasi yang menguning termakan waktu.
Semuanya terasa seperti kursus sejarah negeri Lebanon yang dipaparkan dengan sistem kilat, hingga sekonyong-konyong kepala Andari dipenuhi oleh data-data baru yang tidak pernah ia pedulikan sebelumnya.
Takut ada waktu yang terbuang sia-sia, Ahmed beralih pada masa-masa kritis di Lebanon. Kudeta, pembunuhan massal, bombardir jet perang Israel yang terbang di langit Beirut, gedung-gedung yang runtuh, sekumpulan warga yang berlari ketakutan di tengah serangan udara, mayat-mayat yang bergelimpangan memenuhi seisi kota, mobil-mobil yang habis terbakar, dan atap rumah yang rata dengan tanah.
Di samping itu, masih ada potongan surat kabar lain yang menampakkan sejumlah masyarakat menangisi keluarga mereka yang tewas. Seorang bocah perempuan yang berdiri tidak jauh dari tubuh seorang wanita yang mati diledakkan granat, seorang pria yang sedang menggendong bayi sekarat di pelukannya, berteriak histeris entah kepada siapa.
Andari merasa mual melihat gambar-gambar itu. Perutnya keram. “Cukup,” katanya menyudahi. Bibirnya gemetar.
Ahmed menarik lengannya dari pundak Andari, mengambil sebatang rokok dari sakunya, dan menyulutnya dengan korek api. “Kalau begini saja kau sudah tidak tahan, kau takkan kuat melihat kenyataannya.”
“Aku tetap tidak mendukung kekerasan,” sanggah Andari. “Apa yang terjadi di negaramu, dan apa yang terjadi di kota ini beberapa hari yang lalu seharusnya tidak boleh terjadi.”
Mendengar ucapan Andari, Ahmed lekas melemparkan tatapan tajam pada lawan bicaranya. “Kau pernah merasakan peluru besi menembus permukaan kulitmu dan mematahkan tulang rusukmu?” tanya Ahmed dengan rahang terkatup rapat.
“Tidak,” jawab Andari.
“Pernah menyaksikan seluruh anggota keluargamu hangus terbakar dan kau hanya bisa terdiam, tanpa berani melakukan apa-apa untuk menyelamatkan mereka karena kau sendiri takut mati?” tanya Ahmed lagi.
“Tidak.”
“Pernah merasakan tikaman pisau di dadamu, oleh orang-orang yang pernah kau anggap teman?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, jangan sok tahu!” bentak Ahmed, dengan nada jengkel. Ia mengurai napasnya dan melayangkan jari telunjuknya ke muka Andari. “Kamu tidak punya hak menghakimi kami. Tanganmu yang halus tidak pernah merasakan kasarnya tulang di dalam dagingmu. Kulitmu yang kecokelatan tidak pernah sekali pun bertemu dengan kobaran api menyala, yang mampu menghanguskan baja. Kukumu rapi terpangkas, sepatumu mengilap disemir, dan kau hidup di tengah manusia-manusia berpakaian jas dan gaun mewah. Jangan bandingkan kemanusiaanmu dengan kami. Jangan berpikir hanya karena kau sering membaca koran maka kau tahu segalanya. Kau tinggal di pusat dunia, kami tinggal di dalam bunker. Setiap hari kau bisa membeli makanan apa saja yang kau mau, sedangkan kami mengudap yang tersisa.”
Andari mundur selangkah, menjaga jarak, mendadak pengap.
“Kau tangisi nasib mereka sekarang, Andy,” sambung Ahmed, tanpa berkedip. Andari mulai membenci nama panggilan itu. “Kau pikir dunia begitu kejam kepada mereka. Tapi, kau harus bisa melihat sisi yang lain. Bagaimana dengan perlakuan mereka pada kami? Itukah keadilan? Itukah perdamaian? Saat kami jatuh terpuruk, tidak ada seorang pun yang peduli. Namun, ketika mereka yang jadi korban… seluruh dunia menangis sedih.”
Ahmed mengatur napasnya yang mulai memburu kesal, masih belum selesai dengan monolognya.
“Mereka ingin menghabisi semua peradaban di Timur Tengah, tidakkah kau tahu itu? Mereka ingin menghabisi kami!” kata Ahmed panjang lebar, matanya kini berkilat marah. “Kalau semua terserah padaku, aku ingin hancurkan setiap manusia yang menganggap dirinya superior!”
“Ahmed,” Aysha membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tapi kobaran api dalam dada Ahmed sudah telanjur merajang setiap hati yang mengelilinginya.
“Kau mau membela pecundang ini, eh?” hardik Ahmed tiba-tiba, membuat wanita muda itu terkejut.
Kemudian, Andari merasa genggaman tangan Aysha, menyampaikan isyarat agar Andari tidak memulai perseteruan yang tidak perlu.
Aysha menghampiri Ahmed dengan senyum terpajang di wajah, bak seorang aktris Hollywood yang sedang menerima arahan sutradara. Suaranya lembut, berbisik di telinga Ahmed hingga Andari tidak bisa mendengar.
Kilat di mata Ahmed sekonyong-konyong sirna dan berubah menjadi pancaran sayang, ketika ia merangkul bahu wanita muda di sisinya. Seraya mengisap puntung rokoknya, Ahmed menunjuk ke sebuah potongan koran yang memperlihatkan seorang bocah perempuan berdiri di samping mayat wanita yang tubuhnya sarat akan serpihan granat.
“Lihat wajah malaikat kecil itu,” kata Ahmed, melirik pada figur bocah perempuan di dinding. “Tidakkah ia membuat hatimu hancur berkeping-keping?”
Andari merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia mengangguk.
“Lihatlah dia sekarang,” anjur Ahmed, meletakkan sebelah tangannya di bawah dagu Aysha.
Andari terkesiap, seolah terempas jatuh dari langit. Bisu.
Dalam perjalanan pulang, mereka tidak berbicara. Karena tidak dapat tempat duduk di dalam kereta, mereka berdiri dan berpegangan pada selongsong besi yang tersangkut memanjang di atas kepala. Andari memunggungi Aysha, dan begitu pula sebaliknya. Punggung mereka bersentuhan sesekali, bila kereta yang mereka tumpangi berhenti mendadak dan menggoyahkan posisi mereka.
Andari menatap wajah-wajah asing yang duduk di hadapannya. Seorang ibu-ibu berkebangsaan Latin, terbungkus dalam seragam kerjanya yang menampakkan logo sebuah restoran cepat saji di bagian dada, sedang membaca majalah. Seorang pria tunawisma, mengenakan jas overcoat lusuh, menatap kosong ke arah langit-langit kereta, mungkin membayangkan hidupnya di masa lain, saat dia tidak perlu berebut kursi taman untuk melewati malam. Seorang remaja berambut jabrik dengan anting-anting tertindik di hidung, telinga, bibir, melantunkan lagu singkat dari kedua bibirnya yang keunguan, karena kebiasaannya merokok. Seorang wanita muda berkulit hitam legam dengan rambut terkepang, memeluk sebuah tas ransel yang lusuh, mata terpejam, mencoba untuk mencuri-curi tidur sebelum tiba di tempat tujuan.
Penulis: Maggie Tiojakin