“Anda belum tahu?”
“Tentang apa?” Harapan Andari mulai gugur seperti dedaunan pohon di luar sana dengan ranting yang bertengger kesepian.
“Aysha tewas saat tragedi September lalu,” kata Khaled, hati-hati. “Dia menerima panggilan kerja sebagai penjaga toko, dan....”
“Panggilan kerja?”
“Ya, beberapa hari sebelumnya ada seseorang yang mengabari bahwa ia diterima sebagai penjaga sebuah toko serba ada di sana.”
Andari tidak percaya apa yang didengarnya. “Maksudmu hari itu dia....”
“Tidak lama setelah kejadian itu, kami baru dipanggil oleh para petugas dan diminta untuk mengenali mayatnya,” jelas Khaled.
“Kapan tepatnya? Apa Anda ingat?” buru Andari.
Lawan bicaranya menengadahkan kepala, menyapu langit-langit di atas, menghitung hari dengan sepuluh jari tangannya. “Mungkin dalam minggu pertama sejak itu, kau tahulah.”
Wajah Andari berubah pucat. Lidahnya kelu. Tubuhnya terasa begitu berat. Kakinya tidak mau beranjak pergi. Mungkinkah pagi itu pagi yang sama?
“Saya benar-benar minta maaf Anda harus mendengar semua ini sekarang,” kata Khaled, sembari menarik napas panjang. “Saya tidak tahu Aysha punya teman di sini. Biasanya dia sangat tertutup. Kami pikir hanya kami yang kehilangan dia.”
“Bagaimana dengan Ahmed?” tanya Andari.
“Ahmed?” Khaled mengangkat alisnya tinggi, terkejut mendengar nama itu. “Ahmed sudah lama meninggal.”
“Tapi, saya baru saja berjumpa dengannya,” tutur Andari, dengan suara terbata. “Dia bekerja di tempat ini.”
“Di mana?” tanya Khaled.
Andari menunjuk ke arah pintu yang ia lalui dulu, dari tempat tadi Khaled keluar menghampirinya. “Di dalam sana, di ujung koridor,” kata Andari.
“Koridor?” tanya Khaled mengulas senyum. “Anda yakin? Di balik pintu ini tidak ada apa-apa.” Khaled membuka pintu di belakangnya. “Lihat saja sendiri.”
Saat pintu dibuka, Andari mendapati sepetak ruangan kecil yang diisi oleh sebuah meja dan kursi. Di atas meja terdapat sepiring nasi dan lauk yang belum habis disantap dan segelas air putih yang sudah setengah diminum. Keringat dingin mengucur dari dahi Andari.
“Tapi, Anda kenal dengan orang bernama itu?” tanya Andari, menolak untuk menerima bahwa dua orang yang baru saja dikenalnya ternyata tak lebih dari sekadar bayangan imajinasinya.
Khaled mengangguk. “Semua orang pernah kenal dengan Ahmed,” tuturnya.
“Apa yang terjadi padanya?” desak Andari.
Khaled menutup pintu ruangan tadi, menggedikkan bahunya. “Perang,” jelasnya. “Beirut. Bersama teman-temannya ia duduk di sebuah mobil yang sudah dipasangi bom. Mereka berhenti di depan gedung kedutaan.”
“Bunuh diri?”
“Ceritanya sungguh simpang-siur. Saya sendiri tidak tahu jelas duduk perkaranya.”
“Dia juga kerabatmu?”
“Kerabat?” Khaled tertawa. “Bukan, Ahmed adalah pejuang bawah tanah yang menyelamatkan Aysha dari kepungan tentara Israel. Setelah keluarga Aysha terbunuh saat terjadi serangan udara besar-besaran, Ahmed menyembunyikan Aysha di sebuah bunker suram bersama pejuang ekstremis lain. Selama dua setengah tahun Aysha tersekap di sana, mencoba untuk kabur, tapi selalu gagal. Ahmed berniat menikahinya saat Aysha berusia 17 tahun, namun untungnya nasib berkata lain.”
“Menikah? Lalu....” Andari tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. “Lalu apa yang terjadi pada Aysha?”
“Kami menemukan dia secara tidak sengaja, tidak lama setelah pengeboman itu,” sahut Khaled. “Bersembunyi bersama anak-anak lain yang telah kehilangan sanak saudara mereka. Tubuhnya kurus kering. Matanya nanar. Termangu dalam posisi siap berlari ke mana saja kakinya hendak mengajaknya pergi. Ayahku menggendongnya sepanjang jalan menuju ke perbatasan kota. Kami pergi dari situ dengan bantuan seorang kenalan Baba di Kedutaan Inggris. Tapi, Aysha sudah kehilangan semangatnya, ia bahkan menolak untuk bicara selama bertahun-tahun. Baru belakangan ini ia mulai berbicara lagi kepada kami. Karena itu, kami tidak pernah menduga bahwa Aysha mempunyai teman.”
“Oh.” Andari menahan napasnya selama beberapa detik, dan mencoba tersenyum demi mengusir kebingungan dari wajah rekan kerjanya.
“Kau tidak apa, Andari?” tanya rekan kerjanya yang melihat wajah Andari mendadak berubah pucat pasi.
“Ya,” angguk Andari. Ia berusaha sekali lagi untuk tersenyum. “Ayo. Kau pasti sudah lapar, ‘kan?”
Mereka lantas pamitan pada Khaled, beranjak pergi.
“Tuan,” panggil Khaled, sesaat sebelum mereka melangkah keluar.
“Ya?” Andari menghentikan langkahnya.
“Kami sekeluarga akan mengadakan doa bersama di depan Ground Zero untuk memperingati kepergian Aysha besok pagi,” kata Khaled, menghampiri Andari. “Kalau Anda ingin datang, kami tidak keberatan.”
Jemari Andari melingkar di gagang besi yang tersangkut di pintu, tangannya seolah kehilangan tenaga untuk membuka pintu tersebut. Ia mengangguk, lalu menyusul langkah rekan kerjanya yang kini sudah berdiri di tengah salju tebal di luar. Lutut Andari lemas, dan mulutnya pahit. Belum lama mereka berjalan, Andari menepi ke sudut trotoar dan membungkuk seraya mengeluarkan isi perutnya ke tanah.
Pagi-pagi sekali keesokan harinya, Andari berdiri di hadapan Ground Zero. Sejumlah regu penyelamat masih bekerja keras untuk mencari sisa-sisa korban yang tertinggal di bawah reruntuhan gedung perdagangan dunia.
Di satu sisi terdapat lusinan karangan bunga dan surat-surat yang berisi ungkapan belasungkawa. Sejumlah foto hitam-putih yang terbingkai rapi juga ikut terpampang di antara memorabilia yang berserakan, kebanyakan milik kru dan penumpang pesawat yang menghantam kedua menara kembar di pusat kota New York beberapa bulan lalu.
Andari menaruh setangkai mawar merah di antara tumpukan bunga itu. Kemudian, ia tersentak ketika menemukan selembar potongan surat kabar yang tergeletak di tanah, halamannya basah oleh salju, menguning termakan waktu. Andari menatapnya lama-lama. Ingin menangis, namun tidak ada air mata yang keluar.
Dua tahun dari sekarang, Amerika akan mencanangkan perang melawan terorisme di seluruh pelosok dunia. Dua tahun dari sekarang, Amerika akan mengangkut putra-putri terbaiknya ke padang pasir di seberang lautan untuk memburu musuh-musuh lama. Gerakan militer dimobilisasi, jutaan massa dari berbagai belahan dunia melakukan demonstrasi tanpa mengindahkan perbedaan waktu demi mencegah jatuhnya korban sipil.
Presiden mereka akan dikecam karena tindakannya yang menyebabkan kerusuhan di negeri-negeri tetangga. Harga yang harus mereka bayar takkan murah, nyawa yang harus mereka tebus berlipat ganda. Dua tahun dari sekarang Saddam Hussein akan ditemukan dalam keadaan kotor di dalam lubang bawah tanah tempat ia bersembunyi. Tahun berikutnya, George W. Bush akan terpilih lagi sebagai Presiden Amerika Serikat mengalahkan Senator John Kerry dalam perlombaan yang menegangkan sekaligus tidak terduga.
Tapi, itu nanti. Sekarang....
Andari merendahkan tubuhnya ke tanah dalam posisi salat di tengah pagi yang cerah di musim dingin di kota New York. Meski mulutnya terasa getir dan ruang di dadanya hampa, setidaknya untuk saat ini ia boleh meratapi nasib para abdi negeri yang gugur tanpa harus mengambil sisi. Terus berharap bahwa suatu hari akan tercipta dunia baru, tempat mereka boleh hidup berdampingan tanpa harus saling membenci.
Musim akan terus berganti, malam datang dan pergi, tapi setidaknya untuk saat ini ia boleh bersimpuh di hadapan gadis kecil yang mencuri hatinya. (Tamat)