Fungsi enzim itulah yang mengilhami lahirnya istilah diet enzim. Para penganutnya percaya, enzim akan membantu mempercepat proses penurunan berat badan. Mereka juga yakin bahwa tanpa melakukannya, tubuh mereka tidak akan mendapatkan nutrisi yang baik. Pola dietnya pun hadir dengan berbagai versi. Pertama, ada metode dengan penggunaan suplemen enzim. Kedua, mengonsumsi makanan mentah mulai dari sayuran mentah hingga daging serba mentah. Keduanya menimbulkan pro dan kontra.
Menurut Emilia, yang terbaik bagi tubuh adalah mengonsumsi makanan yang sesungguhnya. “Penggunaan suplemen hanya dianjurkan bagi seseorang yang dengan kondisi kesehatan khusus sehingga membutuhkan suplementasi untuk membantu fungsi organ dan kinerja tubuh,” jelasnya.
Mengonsumsi makanan dalam keadaan mentah, menurut Emilia, tidak 100% benar. Fakta memang menunjukkan bahwa semua bahan makanan mengandung enzim yang sayangnya menjadi tidak aktif apabila bahan makanan tersebut dimasak terlalu lama. Tetapi, di sisi lain, tubuh juga memproduksi enzim untuk mengelola makanan. Maka, kerusakan enzim dalam makanan selama proses memasak tidak mengganggu proses pencernaan, asalkan Anda memiliki fungsi pencernaan yang sehat, pola makan yang seimbang, dan gaya hidup yang baik.
“Makanan serba mentah juga membawa masalah. Kontaminasi bakteri dari bahan makanan mentah dapat masuk ke dalam sistem pencernaan dan akan menimbulkan penyakit. Mencuci saja terkadang tidak cukup. Proses memasak mampu membasmi bakteri berbahaya seperti salmonela dan membantu proses pengolahan protein di dalam tubuh,” jelasnya.
Emilia menambahkan, perlu diingat pula, enzim akan mulai rusak begitu makanan mentah ini tak segar lagi. Padahal, sebagian besar sumber makanan seperti sayur dan buah sudah dipetik berjam-jam sebelum dijual ke pasar, sehingga relevansi diet enzim ini juga akan makin kecil.