"Riskesdas tahun 2007 itu hanya dilakukan di daerah urban. Jadi, sebenarnya ini seperti fenomena gunung es. Angka 5,3% itu hanya puncak yang terlihat saja," tutur dr. Ekowati Rahajeng, SKM, MKes, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Data WHO menunjukkan, ada 347 juta orang di dunia yang menderita diabetes, dan sebanyak 3,4 juta orang meninggal akibat gula darah tinggi pada tahun 2004. Bahkan, WHO memprediksikan bahwa angka ini akan meningkat sebanyak 3 kali lipat pada tahun 2030. Yang menyedihkan, 80% kasus diabetes terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Diabetes memang memiliki beberapa gejala, seperti sering minum, sering buang air kecil, banyak makan, dan berat badan turun tanpa sebab. Tapi sayangnya, gejala itu muncul ketika diabetes sudah bersemayam dalam tubuh kita selama beberapa tahun.
Selain gejala yang tidak jelas dan datang terlambat, satu hal lain yang membuat banyak penderita diabetes tidak menyadari bahwa dirinya menderita diabetes adalah penyakit ini bukanlah penyakit yang menyebabkan kematian seketika. Tapi, dampak yang disebabkannya bisa menurunkan produktivitas seseorang dan memicu banyak penyakit lainnya. Di Indonesia, diabetes merupakan penyebab kematian nomor enam. Posisi pertama ditempati oleh stroke, kedua TBC, dan ketiga oleh hipertensi.
Diabetes menjadi berbahaya karena pada kondisi itu, pankreas tidak bisa memproduksi cukup insulin, hormon yang mengendalikan gula darah, atau tubuh tidak bisa menggunakan insulin yang diproduksi oleh pankreas dengan efektif. Sehingga, kadar gula darah seseorang menjadi tinggi atau hiperglikemia. Itulah penyebab diabetes, dan dalam jangka beberapa tahun bisa menyebabkan kerusakan terhadap fungsi tubuh, terutama pada saraf dan pembuluh darah.