Bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat di Indonesia ini merupakan butir padi yang telah dibuang kulit luar (sekam atau epicarp)-nya. Dari cara pengolahan, dikenal beras pecah kulit (beras yang dibebaskan bagian sekamnya saja), beras giling sempurna (beras giling yang bersih dari lapisan luar biji dan lembaga), dan beras poles (beras giling sempurna yang digosok kembali hingga mengilap, yang kemudian dapat juga dilapisi minyak). Ketika dalam proses penggilingan, butir-butir beras utuh dipisahkan dari butir-butir yang pecah.
Proses mendapatkan beras sendiri terdiri atas pemanenan padi menjadi gabah kering. Gabah kering in akan digiling menjadi beras giling (beras patah dan beras kepala) dan hasil samping berupa sekam, dedak, dan menir.
Dari sekian banyak varietas beras, yang biasa ditemukan di Indonesia antara lain:
- Pandan wangi: Aroma pandan sangat kuat. Ciri fisiknya bulat (tidak lonjong atau panjang). Bening kekuningan (bukan putih). Teksturnya cenderung pulen.
- Setra ramos (IR 64): Paling umum beredar di pasaran. Bentuknya agak panjang (lonjong) dan tidak mengeluarkan aroma wangi seperti pandan wangi. Warnanya putih susu (tidak bening). Teksturnya pulen, namun akan menjadi pera setelah penyimpanan tiga bulan.
- Rojolele: Banyak ditanam di Jawa Tengah atau Jawa Timur, sedangkan di Jawa Barat dikenal sebagai beras muncul. Bentuknya cenderung bulat. Sedikit berwarna putih susu (tidak bening). Tidak wangi seperti pandan wangi. Teksturnya pera.
- IR 42: Mirip rojolele, namun lebih kecil. Warnanya putih susu (tidak bening) dan tidak wangi. Teksturnya pera. Harganya relatif lebih mahal dibandingkan IR 64 karena beras ini jarang ditanam petani.
- C4: Lebih bulat dari IR42 dan lebih kecil dari IR 64. Warnanya putih susu. Teksturnya lebih pulen dari IR 64. Jarang ditemukan di pasaran karena jarang ada petani yang menanamnya.