Sebagaimana di Tapanuli, semua ikan mas dan ikan mujair di lapo, bahkan daging babi, dimasak dengan bumbu arsik. Ikan mas arsik terhitung populer bagi kebanyakan orang karena didukung oleh lapo-lapo yang senantiasa menyajikannya. Yang kedua, adalah versi dengan bumbu yang dimasak bersama ikan hingga kering. Dalam versi ini, ikan akan lebih tahan lama dan tak mudah hancur.
Sekadar informasi, jika digunakan untuk acara adat, ikan mas beserta telur dan sayuran arsik (kacang panjang dan bawang lokio atau bawang Batak) akan disusun di atas tampah sehingga lebih mudah untuk ditransfer ke atas tampah jika ikan bertekstur kering. Sejumlah lapo melayani pembutannya untuk hajatan ini.
Lauk yang kerap hadir di syukuran, sangsang daging babi, juga ada di lapo. Bumbu wajibnya adalah andaliman dengan kucuran darah babi yang akan dicampur sesaat sebelum sangsang diangkat. Pramusaji biasanya tidak menginformasikan adanya campuran darah, karena hal ini sudah merupakan resep turun-temurun dan justru menjadi nilai autentik lauk ini di mata orang Batak.
Ada persamaan di antara babi panggang khas Batak Toba dengan Batak Karo yang biasanya akan Anda temui di lapo, yakni disajikan dengan sambal rawit andaliman (dengan sentuhan darah babi) atau sambal rawit andaliman ‘polos’. Bedanya, ada potongan kidu-kidu atau sosis karo dengan irisan daging babi yang lebih tipis dan garing sebagai ciri versi Batak Karo.
Sejumlah lapo juga punya sambal tombour sebagai cocolan. Kunci kelezatan sambal kemiri ini adalah kecombrang (rias), andaliman, dan perasan jeruk ute jungga. Sambal ini juga digunakan sebagai penyelimut ikan mans naniura (ikan mas mentah), ikan mas atau lele (natinombur). (f)