Trending Topic
Dan Roda Pun Berputar

29 Jan 2015


Banyak dari kita ihadapkan pada kenyataan hidup yang berbeda, yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan, perubahan itu datang dengan cepat atau berbeda sa,a sekali. Ada yang siap menghadapinya, ada yang butuh waktu lama untuk beradaptasi, ada juga yang sulit move on dari kehidupan lamanya.

Seperti roda yang berputar, hidup kita pun kadang-kadang di bawah kadang-kadang di atas. “Karena itulah kita dibekali Tuhan kemampuan untuk menyesuaikan diri atau adaptasi. Inilah yang membuat kita mampu bertahan hidup, melewati berbagai tantangan, hingga selamat melalui perjalanan hidup masing-masing,” jelas psikolog Ratih Pramanik.

Namun, ada juga orang yang tidak sanggup beradaptasi, atau biasa juga disebut sebagai seorang yang maladaptif. Mereka tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan dan segala normanya. “Hal inilah yang dapat menyebabkan munculnya penyimpangan perilaku atau abnormalitas,” tambah Ratih.

Jalan hidup seseorang bisa berubah karena dua hal, yaitu musibah atau kejadian yang traumatis, dan pilihan hidup.  Musibah adalah kejadian yang datangnya amat mendadak dan menyebabkan rasa kehilangan yang begitu besar. Musibah ini sering kali memaksa seseorang untuk segera berubah agar ia dapat melewatinya dan selamat dalam kondisi yang baru. Misalnya, kematian keluarga atau orang terdekat, bencana alam, kecelakaan, terkena PHK, dan sakit keras.

Dalam menghadapi perubahan yang mendadak, seseorang akan melalui beberapa tahap dalam menerima perubahan sebelum akhirnya bisa ikhlas menerimanya. Ratih menjelaskan, Dr. Elisabeth Kobler Ross, seorang psikiater dari Swiss, membagi penerimaan seseorang terhadap perubahan yang menimbulkan rasa sedih duka nestapa dalam 5 tahapan, yaitu penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan akhirnya penerimaan.

Saat baru menerima kabar atau menghadapi peristiwa yang menyakitkan, seseorang berusaha menyangkal bahwa peristiwa itu telah terjadi. Bisa dengan cara menganggap ia salah mendengar, menyangkal diagnosis dokter, hingga menganggap dirinya sedang bermimpi.
Advertisement
   
Setelah bisa mencerna dengan baik peristiwa itu telah terjadi, barulah timbul rasa marah dalam dirinya. Bisa kepada orang lain, kepada diri sendiri, hingga kepada Tuhan. Reaksi marah ini muncul karena kita mengalami kejadian yang datang tiba-tiba, tidak sesuai harapan dan mimpi yang sudah kita bangun, dan tidak berhasil kita hindari. Hal itu membuat kita begitu kecewa dan marah, bahkan sering kali berusaha mencari kambing hitam. “Misalnya, bisa saja ada pikiran, ‘Gara-gara digoda pria itu, calon istri saya pun membatalkan pernikahan kami,’” kata Ratih. 
   
Ketika rasa marah mulai mereda, seseorang akan tawar-menawar dengan keadaan. Di tahap ini akan muncul pertanyaan dan pernyataan yang menggunakan kata kenapa, seandainya, seharusnya, dan lainnya. Hal ini diucapkan dengan harapan kejadian tersebut tidak terjadi. 
   
Pertanyaan dan pernyataan yang muncul, biasanya bisa menimbulkan rasa sesal dan sedih. Seiring waktu, sedih dirasa kian mendalam. Di saat ini pula, ia mulai menyadari bahwa orang yang ia kasihi tak akan kembali. Perasaan tertekan membuatnya mudah menangis dan sedih tak berkesudahan, hingga akhirnya menjadi depresi. Kehilangan motivasi, tidak mau makan, menarik diri dari pergaulan, adalah reaksi dari depresi. Rasa menyesal, sedih, takut akan ketidakpastian mewarnai masa depresi ini.

“Menurut beberapa ahli, periode depresi sebetulnya merupakan upaya seseorang untuk fokus pada masalah yang sedang ia hadapi dan mengantisipasi trauma lainnya,” papar Ratih. Terakhir, seseorang pada akhirnya menerima kenyataan atau ikhlas. “Menerima kenyataan  membuat kita semangat untuk bangkit lagi,” Ratih menegaskan.

Argarini Devi





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?