Chantelle menyadari, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengubah tampilan kulit vitiligo. Mulai dari penyinaran dengan sinar ultraviolet, bleaching, riasan, obat oles, ataupun operasi. Jalan terakhir adalah cara yang ditempuh Michael Jackson, yang juga pernah mengalami kondisi tersebut.
Namun, Chantelle menolak mengubah apa pun. “Ini hidup saya dan saya bahagia dengan pilihan saya. Saya tidak menolak operasi atau perubahan apa pun, tapi saya juga tidak ingin melakukannya. Saya hanya ingin bahagia,” ia menegaskan. Kesadaran besar tersebut tentu berakar dari pengalaman panjang Chantelle di masa lalu yang kerap merasa tidak diterima. Pada akhirnya ia menyadari bahwa semua yang telah ia lalui hanya membuatnya makin kuat.
Dalam sebuah wawancara, ia berusaha memahami cara pandang orang saat melihatnya. Hanya satu persen populasi dunia yang memiliki kondisi vitiligo. Sehingga, wajar jika banyak orang tidak tahu, takut, dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada kulitnya. Kini Chantelle menyadari bahwa justru kelemahannya itu yang menjadi kekuatannya. “Ada sesuatu pada diri saya yang menghubungkan banyak orang,” kata penggemar musik Drake dan Rihanna ini.
Hingga kini, penampilan dan media sosialnya menjadi sumber inspirasi bagi banyak remaja di seluruh dunia. Seorang anak dengan vitiligo mengucap terima kasih pada Chantelle karena untuk pertama kali dalam hidupnya, setelah melihat penampilan wanita itu, ia tidak merasa malu pada kondisi yang dialaminya. Instagram-nya yang kini telah diikuti sekitar 707.000 pengikut terus mengabadikan momen-momen, foto, dan kutipan yang banyak disebarluaskan media besar.
Meski dinilai unik karena kulitnya, Chantelle meyakinkan bahwa ia tidak ingin dianggap menjadi model karena keunikan kulitnya. “Keberadaan saya di dunia model tidak ditentukan oleh kulit saya. Kalaupun saya dilahirkan dengan seluruh kulit saya gelap atau berwarna putih, saya tetap adalah seorang model,” tandas wanita yang ingin menginspirasi orang lain untuk mencapai mimpi mereka ini. Pada akhirnya, Chantelle ingin mengajak orang untuk tidak hanya merayakan apa yang membuat manusia berbeda, tapi juga yang membuat semua sama dan setara sebagai manusia. (f)
FOTO: SIPA