Cemburu yang tidak tepat, bukanlah ekspresi cinta. Bagaimana mengenali dan menghadapi rasa cemburu pasangan, sebelum penyesalan itu datang.
Ajeng Raviando, psikolog dari Teman Hati Konseling, mengatakan, “Cemburu adalah kombinasi beberapa emosi, seperti rasa tidak aman, marah, dan ketakutan.” Bagi beberapa orang, memiliki pasangan dan hubungan cinta merupakan salah satu sumber harga diri. “Pasangan yang pencemburu berat, biasanya kurang percaya diri dan merasa harga dirinya terancam dengan adanya orang lain yang lebih hebat.”
Bila dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin suatu saat pasangan kehabisan kesabaran dan tidak dipercaya. Ketidakpercayaan inilah, celah yang mampu meretakkan hubungan. Kepercayaan itu kunci hubungan sehat. “Jika tak lagi ada kepercayaan, cinta yang telah Anda pupuk perlahan akan luntur,” jelas Ajeng.
Ajeng menambahkan, pencemburu umumnya bersikap sangat perhatian kepada pasangannya. Sikapnya ini terkadang justru membatasi ruang gerak pasangannya. Mereka cemas dan selalu memantau keberadaan dan sikap pasangan, menginterogasi mereka tentang bagaimana perasaan mereka tentang orang lain.
“Cemburu masih dianggap wajar, jika masing-masing pasangan tidak merasa terganggu. Namun, bisa dikatakan berlebihan jika tiap menit ditelepon terus-menerus. Ini disebut obsesif.” jelas Ajeng. Pada tahap ini, pencemburu menuntut jaminan dan janji-janji dari pasangannya. Ia menaruh curiga dan paranoid.
Menurut Ajeng, sebenarnya wajar saja bila suami merasa cemburu kepada istrinya yang memiliki penampilan fisik menarik dan pandai bergaul. “Hanya, ketimbang menghabiskan energi menginterogasi terus-menerus dan menyimpan ketakutan akan kehilangan, lebih baik suami mencari tahu apa yang diinginkan pasangan. Sehingga, hubungan saling bersinergi,” saran Ajeng.
Cemburu membuat orang berpikir tidak realistis. Menurut Ajeng, pengalaman masa lalu seseorang sangat berpengaruh akan tindakan yang dialaminya. Reaksi berlebihan yang dilakukannya sebagai bentuk usaha memaknai rasa ‘saling memiliki’. Ini yang disebut posesif.
Menurut Ajeng, baik obsesif maupun posesif merupakan ganggung neurosis yang sama-sama meracuni hubungan. Keduanya membuat pasangan merasa terganggu dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan tidak memberikan ruang bagi pasangan untuk mengembangkan diri.
Menghadapi suami posesif membutuhkan kesabaran dan strategi khusus. “Angkat harga diri suami dengan sering memuji. Jelaskan secara transparan bila berjumpa dengan rekan yang berpotensi memicu kecemburuannya. Tanamkan pemahaman bahwa Anda bisa dipercaya dan hindari sikap menutup-nutupi kebohongan. Karena, jika suami mengetahui, justru membuatnya akan meledak,” jelas Ajeng lagi.