Menurut Tara Adhisti de Thouars, B.A, M.Psi, Psikolog RS Sanatorium Dharmawangsa & Klinik LightHouse, Anoreksia dan bulimia adalah gangguan pola makan yang sangat terkait dengan konsep body image. Pada bulimia, ada fase binge eating, yaitu makan banyak dalam waktu singkat, baik secara terencana atau spontan yang dipicu oleh mood negatif, seperti masalah personal atau stres. Rasa bersalah dan cemas yang kemudian timbul mendorongnya melakukan kompensasi, misalnya dengan memuntahkan, meminum obat pencahar, diet berlebihan, atau olahraga berlebihan.
Pasien anoreksia yang bobot tubuhnya 20% di bawah bobot normal, harus menjalani program rawat inap. Namun, mereka yang berada 30% di bawah bobot normal harus menjalani perawatan psikiatri selama beberapa bulan, bergantung pada keseriusan kasus.
Hal yang paling penting dalam mengupayakan pemulihan mereka ini adalah dengan menyadarkan mereka bahwa perilakunya dapat membahayakan kesehatan. Misalnya, dengan cara terapi CBT (cognitive behavior therapy) yang membantu mengubah cara pandang mereka yang salah terhadap tubuh, berat badan, serta pola makan. Sehingga, perilakunya terhadap makan bisa berubah, harkat dirinya meningkat, dan dapat mengadopsi pola makan sehat tanpa khawatir menjadi gemuk. Hipnoterapi diberikan untuk mengubah alam bawah sadar yang menyebabkan mereka memiliki eating disorder.
Sementara itu, antidepresan diperlukan pada saat kondisi pasien sudah kelewat parah. Misalnya, kecemasannya terlalu tinggi dan dia merasa depresi, maka ia perlu obat. Akan sulit mengubah mindset jika emosi, depresi, dan rasa cemasnya masih sangat tinggi. Sehingga, perlu tidaknya, dan seperti apa dosisnya, sangat bergantung pada kondisi pasien. Ini pun harus dibarengi dengan penanganan dari sisi psikologisnya (dengan CBT). Jika hanya diberi obat, tapi mindset-nya tidak berubah, maka terapi ini tidak signifikan hasilnya. (Naomi Jayalaksana)