Makin banyaknya orang menderita kanker mengundang perhatian khusus dr. Abidinsyah Siregar. “Kesabaran sangat diperlukan pada pengobatan kanker. Masalahnya, banyak pasien dihinggapi rasa jenuh, bahkan frustrasi,” ungkap pria yang mengepalai pengembangan obat herba asli Indonesia di Kementerian Kesehatan, ini.
Saat ini, pelayanan kesehatan tradisional sudah ada di 51 rumah sakit pemerintah. Di sana, obat tradisional menjadi komplemen (pelengkap) obat modern (atau ‘obat konvensional’). Menurut dr. Abidinsyah, dalam praktiknya, pilihan pada obat konvensional ataupun obat tradisional tetaplah harus dilandaskan pada diagnosis secara konvensional oleh dokter.
Dokter pesialis penyakit dalam yang juga salah satu direktur di RSCM, Dr. dr. C.H. Soejono, SP.PD-Kger, memaparkan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan buku panduan penggunaan obat herba, bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
“Di RSCM sudah ada klinik akupunktur yang dijalankan dokter, sedangkan klinik herba sedang kami siapkan sambil menunggu buku panduan itu selesai,” papar Dr. Soejono. Motivasi berdirinya klinik itu datang dari pasien. “Daripada pasien mencari obat herba ke tempat-tempat yang tidak jelas, lebih baik RSCM menyalurkan minat para pasien itu,” sambungnya.
Tingginya minat orang untuk berobat secara alternatif juga marak terjadi di negara maju. Di Amerika Serikat, permintaan obat tradisional meningkat 40%, sedangkan di Eropa sampai 60%. Dalam situs yang dirilis tahun 2011, American Cancer Society (ACS) menyebutkan, pengobatan herba tradisional Cina untuk kanker telah meninggalkan rekam jejak yang panjang. Namun, sekarang ini banyak praktisi herba yang menambah dosis, atau mengubah kadarnya. Sehingga obat tersebut tak bisa lagi dijamin keamanannya.
Karena begitu beragamnya obat herba Cina untuk kanker, ACS menambahkan, ada potensi negatif saat berinteraksi dengan obat resep dari dokter. Kantor Administrasi Pangan dan Obat Amerika (FDA) mengeluarkan peringatan bagi penderita diabetes untuk menghindari beberapa produk obat herba Cina karena mengandung glyburide dan phenformin, zat yang biasa diresepkan untuk diabetes. Bahkan, obat herba untuk kanker prostat buatan Amerika, PC-SPECS, dihentikan produksinya. Bila dikonsumsi tanpa pengawasan ahli, misalnya diminum bersamaan dengan obat konvensional, produk-produk itu dapat menimbulkan overdosis atau masalah serius lainnya.
Tentang bahaya kontraindikasi, dr. Abidinsyah menjawab, tak hanya bisa terjadi antara obat alternatif dengan obat modern. Antara sesama obat modern pun bisa timbul masalah benturan. Itu sebabnya, agar keduanya bisa berjalan bersama, hanya tenaga kesehatan yang telah mendapat pembekalan formal dari Kementerian Kesehatan, yang boleh melakukannya. “Mereka inilah yang paham tentang kandungan bahan kimia obat tradisional maupun obat konvensional,” katanya.
Bila tenaga kesehatan yang dimaksud tadi sulit dicari, setidaknya, kata Dr. Soejono, tunjukkan dulu obat herba dari terapis kepada dokter (spesialis onkologi) yang merawat. “Ada pasien saya yang datang bertanya, amankah obat herba dari terapisnya, bila diminum bersamaan dengan obat resep dari saya. Tidak saat itu juga saya bisa menjawabnya. Saya perlu menyimpannya dulu untuk dipelajari. Dokter pun tak mungkin hafal isi dan reaksi ramuan yang beraneka ragam itu,” paparnya.
Praktisi homeophaty, Tjok Gede Kerthyasa, BHSc.Hom, ADHom, tak pernah menganjurkan pasien untuk putus total dengan obat kimia yang sedang dipakai. “Jika dari saya hasilnya baik, pasien bisa minta kepada dokternya agar dosis dikurangi. Tapi, yang penting pasien harus rajin berkomunikasi dengan saya. Komplikasi (obat) biasanya baru muncul karena pasien jadi malas berobat begitu kondisinya terasa membaik.”
Angela H. Wahyuningsih
Baca juga 10 langkah mencegah kanker di sini!