Puak-puak budaya di Amerika Selatan menyebut singkong sebagai manihot. Karena itu, para ahli tumbuhan pun menabalkannya ke dalam bahasa Latin sebagai Manihot esculanta. Orang Brasil sendiri menyebutnya macaxeira, dan di Paraguay disebut mandioca, sementara di negara-negara lain di Amerika Selatan populer dengan sebutan mandio, yang dalam lidah Prancis jadi mandioc, dan di Haiti jadi manyok.
Dunia internasional umumnya ikut cara Inggris, menyebutnya cassava. Sebagian masyarakat Indonesia menyebutnya ketela, yang di Jawa Tengah terpenggal jadi telo. Secara etimologis ketela berasal dari kata castilla (dibaca kastilya), karena tanaman ini dibawa oleh orang Portugis dan Spanyol yang saat itu masih ditengarai sebagai orang Castilla, kota pelabuhan di Spanyol. Di Jawa, kata ketela atau telo juga biasa digunakan untuk menyebut ubi rambat.
Untuk membedakannya maka singkong lantas disebut ketela (telo) pohon. Di Jawa Timur, tela pohon juga disebut tela pohung atau pohung saja, sementara di Madura tela belada atau ketela belanda. Tak kalah menarik, ada kawasan budaya di Jawa Tengah menyebutnya ubi bodin atau bodin saja. Di kawasan Melayu umumnya populer dengan sebutan ubi kayu, yang dalam lidah masyarakat Aceh menjadi ubi kayee.
Di Indonesia sebutannya memang macam-macam: garingkau (Batak), anpen, kasepan, sampeu (Sunda), kasela (Bali), lau ai (Sumba), ali uhi (Timor), uwi kayu (Flores), kasubi (Gorontalo), lame kayu (Makassar/Bugis), bata kayu (Sulawesi Utara), mangkale (Tanimbar), kawawa (Aru), kasbi (Ambon), mangkau (Buru), asbi (Halmahera), kasibi (Tidore), kasbi (Ternate), kasuami (Wakatobi), pangala (Papua), bungkahe di Sangihe, dan kasubi di Tolitoli.
Nama singkong populer di kalangan orang Betawi, masyarakat budaya asli yang turun-temurun sudah tinggal di wilayah kota yang kemudian dibangun Belanda sebagai Batavia. Konon, penamaan ini lahir dari rupa bentuk umbi singkong yang langsung mengingatkan pada bentuk betis atau lengan si engkong, yang berarti kakek dalam bahasa Betawi. Benarkah? Entah. Yang pasti, sebutan singkong juga dikenal menyeluruh di kalangan etnik Betawi yang secara budaya menyebar di kawasan Jabodetabek. Sebutan tradisional ini pula yang kemudian populer secara nasional, mengalahkan popularitas istilah ubi kayu yang dicatat Kamus Besar Bahasa Indonesia.